
Aisyah memandangi butiran-butiran kecil yang ada ditangannya, ia hampir melupakannya jika sedari tadi ia menggenggamnya. Ia mendongakkan kepalanya kearah jam antik kuno yang tengah melayang diatasnya.
Tampak barisan awan putih kecil melayang dibawah jam antik kuno yang bersandar ringan.
"Omong-omong apakah fungsi butiran-butiran kecil ini ?", kata Aisyah.
Cermin kecil kristal dengan bingkai emas yang cantik kemudian menjawab pertanyaan Aisyah.
"Itu semacam ramuan ajaib yang berasal dari buliran cahaya yang keluar dari dalam diriku Nona Aisyah !", kata cermin kecil kristal yang cantik.
"Lalu apa fungsinya ?", tanya Aisyah.
"Hamba juga tidak mengetahui apa fungsi dari butiran-butiran kecil tersebut tapi saat Nona Aisyah memakannya maka butiran-butiran kecil akan membelah terus menerus tiada hentinya !", ucap cermin kecil kristal yang cantik.
"Benarkah ?", kata Aisyah.
"Nona Aisyah bisa mencobanya !", kata cermin kecil kristal yang cantik itu.
"Emm..., baiklah ! Aku akan memakannya !", kata Aisyah lalu memasukkan satu butiran kecil kedalam mulutnya.
Tidak ada reaksi sama sekali setelah memakannya bahkan Aisyah merasa dirinya baik-baik saja.
"Ramuan ajaib apa yang sedang kamu bicarakan ?", kata jam antik kuno.
"Eh !? Aku juga tidak tahu, kenapa tidak bereaksi sama sekali ?", jawab cermin kecil kristal yang cantik.
"Astaga ! Lalu untuk apa kamu menyuruh Nona Aisyah memakannya ?", kata jam antik kuno.
"Iya, memang itu untuk dimakan karena butiran-butiran kecil itu adalah ramuan ajaib yang berasal dari cahaya cermin milikku !", kata cermin kecil kristal yang cantik.
"Sudah ! Sudah ! Jangan berdebat lagi ! mungkin ini hanya ramuan ajaib saja untuk dimakan seperti manisan !", kata Aisyah lalu berjalan kearah ranjang tidurnya.
Aisyah duduk diatas ranjangnya dan memandangi butiran-butiran kecil yang ada ditangannya.
"Lebih baik aku masukkan kedalam kantung kain cantik ini !", kata Aisyah sambil membuka kantung kain sutra tenunan tangan yang mewah kemudian memasukkan butiran-butiran kecil tersebut.
Aisyah mengikat kantung kain sutra tenunan tangan yang mewah diikat dipinggangnya yang terbuat dari emas dengan kristal-kristal kecil yang melingkar diatas pinggang tuniknya.
"Emm...!? Bagaimana keadaanmu wahai jam antik kuno ? Apa yang sebenarnya yang sedang terjadi padamu ?", kata Aisyah.
"Ceritanya sangat panjang nona !", ucap jam antik kuno dari atas awan putih kecil yang melayang-layang.
"Coba kamu ceritakan kisahmu padaku ! Kenapa kamu tidak bisa bergerak ? Apakah kamu terluka ?", kata Aisyah.
"Waktu itu hamba sedang mengamati perkembangan dari pengrajin perhiasan dan sekaligus mencari informasi disana !", kata jam antik kuno.
Jam antik kuno mulai menceritakan kisahnya, apa yang membuat dirinya tidak bisa bergerak dan bagaimana kejadiannya saat itu.
Waktu itu....
Disebuah bangunan berdinding keramik berwarna-warni, tampak seorang pria bersorban duduk dibangku kayu dekat meja sembari memperhatikan sebuah perhiasan.
Tampak jam antik kuno terbang melayang dipojok ruangan bangunan milik pria bersorban. Ia menggantungkan rantainya kesebuah lukisan tua yang terpajang didinding ruangan. Ia sengaja melakukannya agar dirinya tersamarkan oleh gambar dilukisan tersebut.
Pria bersorban terjaga dari kesibukannya ketika seorang pria yang mengenakan jubah putih serta sorban warna senada masuk kedalam ruangan bangunan milik pria bersorban tua.
"Assalamualaikum...! Salam !", sapa tuan agung ketika masuk kedalam.
"Waalaikumsalam...! Selamat datang !", sahut pria bersorban tua seraya beranjak berdiri.
"Apa kabarmu ?", kata tuan agung sambil berjabat tangan.
"Kabarku baik, kabar apa yang membawa anda kemari tuan ?", kata pria bersorban tua ramah.
__ADS_1
"Hmph !", tuan agung bergumam lalu duduk diatas bangku kayu. "Apakah jam milikmu ini dulu ada penunggunya ?"
"Maaf tuan, saya tidak mengerti apa yang sedang anda bicarakan !", kata pria bersorban tua.
"Apakah kamu memang yang membuatnya sendiri ?", kata tuan agung padanya.
"Mengapa anda menanyakannya tuan ?", kata pria bersorban tua.
"Aku bertanya karena seseorang mendatangiku dan menanyakannya !", ucap tuan agung.
"Itu berita yang sangat mengejutkan tuan !", kata pria bersorban tua gugup.
Tuan agung lalu melirik kearah pria bersorban tua disebelahnya. Ia mengerti pria bersorban tua itu sengaja menutupi kejadian yang sebenarnya. Ia hanya menarik nafasnya dalam-dalam.
"Hmm..., baiklah kalau demikian, aku tidak akan bertanya lagi tentang jam tersebut !", kata tuan agung.
"Apakah orang yang mendatangi anda telah mengganggu hidup tuan ?", kata pria bersorban tua seraya mengusap kedua tangannya.
"Emm !? Tidak !", kata tuan agung datar.
"Lalu kedatangan tuan agung ketempatku, ada gerangan apakah ?", ucap pria bersorban tua gugup.
"Aku hanya ingin menanyakan hal itu saja padamu tapi jika memang yang kamu ucapkan benar maka aku akan segera pergi dari sini !", kata tuan agung.
"Iya, iya ! Baik tuan, saya mengerti !", kata pria bersorban tua seraya menyeka keringatnya.
"Hmph, maaf sudah mengganggu harimu hari ini, aku mohon pamit !", kata tuan agung.
"Apakah ada masalah pada jam itu tuan ? Apakah ada kerusakan pada jam anda ?", kata pria bersorban tua.
"Tidak, jam yang aku beli darimu baik-baik saja ! Hanya saja ada yang aneh menurutku !", kata tuan agung yang urung berdiri.
"Benarkah demikian ?", kata pria bersorban tua.
"Apakah jam itu memiliki pasangan atau kembaran ?", tanya tuan agung.
"Hmph !? Baiklah !", ucap tuan agung tersenyum tipis.
Pria bersorban putih serta jubah putih lalu berdiri dan berjalan menuju kearah pintu, tiba-tiba ia menghentikan langkah kakinya dan memutar badannya menghadap kearah jam antik kuno yang melayang-layang dipojok ruangan.
Mata Tuan agung langsung berubah tajam, ia mengibaskan tangannya yang mengeluarkan cahaya terang lalu mengarahkan cahaya yang ada ditangannya kearah pojok ruangan.
"DUARRRR....!!!!", terdengar suara keras kearah pojok ruangan.
Tampak dinding ruangan rusak oleh serangan tuan agung, pria bersorban putih serta berjubah putih berjalan menuju kearah pojok ruangan seraya mengarahkan tangannya lurus kedepan.
"A---da a---pa t---uan ??", kata pria bersorban tua ketakutan.
"Ada makhluk lain diruangan ini !", kata tuan agung.
"Makhluk lain ?", tanya pria bersorban tua ketakutan.
"Benar, makhluk astral yang kuat ! Bahkan kekuatannya melebihi raja kaum bangsa jin ! Aku merasakan keberadaannya disini !", kata tuan agung lalu berjalan mendekat kearah pojok dinding ruangan.
"Benarkah ?", kata pria bersorban itu hampir jatuh pingsan.
"Tenanglah ! Aku akan menangkapnya ! Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya !", kata tuan agung.
"I---iya...t---tuan...!", kata pria bersorban tua bergidik. "A---Apakah makhluk itu sangat berbahaya ?",
"Aku tidak tahu apakah ia penghisap darah atau pemakan janin, tapi yang aku tahu makhluk lain ini tengah mengawasi dirimu !", kata tuan agung waspada.
"A---aastaga...! A---apa yang telah aku lakukan ?", kata pria bersorban tua ketakutan seraya memegangi tepi jubahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Percayakan saja makhluk ghaib itu padaku, aku akan menaklukkannya ! Makhluk ghaib itu sedang bersembunyi disini !", kata tuan agung tetap waspada.
"Baik, baik tuan ! Aku serahkan kepadamu !", sahut pria bersorban tua itu sambil berdiri gemetaran.
Tiba-tiba tuan agung itu kembali mengarahkan tangannya yang penuh cahaya terang yang memancarkan sinar putih keemasan yang tajam keseluruh ruangan.
Sinar terang dari cahaya mampu membelah barang-barang yang ada diruangan ini bahkan mampu membunuh seekor lalat yang terbang.
Tuan Agung bergerak cepat dengan tetap mengarahkan tangannya kearah ruangan serta dinding ruangan.
"BLAARRRR !!!", suara ledakan dasyat terdengar kembali.
"Kamu tunggulah disini aku akan segera kembali !", kata tuan agung.
Pria bersorban putih serta berjubah putih kemudian terbang melesat kilat menuju kearah luar bangunan secara teleportasi.
Tampak lubang cahaya terang dipojok ruangan yang semakin lama semakin menghilang dan pria bersorban tua terlihat sangat ketakutan, seluruh tubuhnya merinding.
"A---aa--paa...i---i--iniii...!?", kata pria bersorban tua lunglai, ia lalu jatuh pingsan kelantai dan tak sadarkan diri.
Pertempuran hebat terjadi diruangan dimensi lain, terdengar suara ledakan dasyat yang menimbulkan goncangan yang sangat dasyat dan hebat sekali.
Kilatan cahaya terang terlihat menembus serta berseliweran dari luar ruangan dimensi lain yang tampak jelas terlihat dari bawah langit.
Warna ungu kemerahan menyelimuti seluruh pemandangan langit saat itu, warna awan yang biasanya berwarna putih bersih mendadak berubah menjadi warna jingga suram yang menakutkan. Bau amis tercium dari bawah langit bersamaan rintik air turun dari atas langit dimusim semi.
Jam antik kuno lalu menghentikan ceritanya saat ia bertemu dengan tuan agung, dan terbang melayang turun kearah Aisyah.
"Seperti itu ceritanya nona !", kata jam antik kuno turun dibahu Aisyah.
"Hmph...!?", gumam Aisyah seraya melipat kedua tangan didadanya. "Lalu kenapa tuan agung itu bisa terluka ?"
"Kami berdua sama-sama terkena serangan cahaya dari senjata kami nona !", kata jam antik kuno.
"Emm !?", Aisyah bergumam pelan. "Aneh sekali !?"
"Bagaimana nona mengetahuinya jika tuan agung tersebut tengah terluka ?", kata jam antik kuno.
"Mmm..., pria sakti itu berada di Karavan Sara ini !", sahut Aisyah. "Dan ia sedang terkuka parah !"
"Benarkah !?", kata jam antik kuno terkejut.
"Iya, apa yang aku katakan adalah kebenaran ! Tuan besar itu tengah terluka parah dan dirawat dikaravan ini !", kata Aisyah.
"Kapan tuan agung itu sampai disini ?", kata jam antik kuno lalu terbang cepat keatas.
"Ia datang ketempat ini saat terluka parah dan dibawa oleh kedua wanita muda pengelola karavan ini !", kata Aisyah.
"Astaga ! Ini sangat berbahaya sekali nona !", sahut jam antik kuno cemas.
"Ada apa ?", kata Aisyah heran.
"Kita harus segera pergi dari sini nona !", kata jam antik kuno.
"Untuk apa kita pergi dari sini ?", kata Aisyah.
"Formasi sihir yang melingkupi karavan ini telah terganggu nona dan itu sangat berbahaya untuk keselamatan kita semua !", kata jam antik kuno.
"Kalau demikian mari kita pergi meninggalkan kamar ini secepatnya !", kata Aisyah lalu berkemas-kemas.
Aisyah memerintahkan pada cermin kecil kristal yang cantik untuk segera bersiap-siap dan masuk kedalam tas milik Aisyah.
"Cermin kecil kristal yang cantik cepatlah segera masuk kedalam tas milikku !", kata Aisyah.
__ADS_1
Cermin kecil kristal yang cantik itu tiba-tiba berubah bentuk menjadi sebuah cermin yang sangat mini sekali seperti mainan dan cermin kecil itu lalu tergantung diikat pinggang tunik yang dikenakan Aisyah layaknya sebuah gantungan kunci.
Aisyah memandangi cermin kecil kristal yang cantik itu sambil mengusap cermin kecil yang berubah seperti sebuah gantungan mainan.