
Tubuh Aisyah terlihat terbaring di atas pembaringan dengan kabel-kabel yang menempel, mesin untuk membantu pernafasan diletakkan di samping tabung silinder dimana Aisyah berada.
Aisyah sangat lemah sekali dengan wajah pucat berbeda pada saat gadis muda itu dalam dunia mimpi, terlihat cermin kristal ajaib tertegun ketika menyaksikan itu semuanya.
Pemandangan dalam tabung silinder yang membuat hati miris dan terharu setiap melihatnya.
"Nona Aisyah...", panggil cermin kristal ajaib.
"Apa !?", sahut Aisyah yang kini tengah terbang melayang disisi cermin ajaib.
"Ehk !? Anda masih disini !? Lalu siapa yang ada di dalam tabung silinder itu, bukankah itu anda, Nona Aisyah !?", tanya cermin ajaib.
"Benar, itu aku...", sahut Aisyah.
"K--kenapa anda berada disini sedangkan tubuh anda di dalam sana, di tabung silinder !? Apa yang sedang terjadi dengan anda, Nona Aisyah !?", tanya cermin kristal ajaib.
"Hmmm...", Aisyah hanya menjawabnya dengan bergumam.
Aisyah terdiam dengan tatapan sendunya, ia melihat dirinya sendiri berada di dalam tabung silinder yang tengah berbaring lemah tak sadarkan diri serta terlihat beberapa kabel-kabel tertancap di tubuhnya yang mirip tentakel yang semuanya terbuat dari kerang.
Gadis berwajah bening itu tampak melayang-layang di ruangan area tabung silinder lalu ia menghampiri tabung itu dan melihat tubuhnya lebih dekat.
Cermin kristal ajaib lantas mengikuti Aisyah dan ikut mendekat ke arah tabung silinder itu dan memperhatikan tubuh gadis berwajah bening yang terbaring di dalam sana.
"Oh Tuhan... Ini sulit dipercaya..., hamba tidak percaya yang hamba lihat ini, bagaimana anda bisa seperti itu, Nona Aisyah !?", tanya cermin kristal ajaib.
"Aku tidak ingat", sahut Aisyah singkat.
"Ya Tuhan ! Ini sulit untuk dipercaya, apa yang terjadi pada anda, Nona Aisyah !?", ucap cermin ajaib tercengang.
"Aku tidak ingat...", sahut Aisyah mengulang kata-kata yang sama seperti tadi.
"Oh Tuhan !!!", pekik cermin ajaib tertahan.
"Aku hanya mengingat saat aku terbangun di sebuah kota asing yang baru aku lihat dan aku datangi, kota asing yang penuh keanehan dan keanehan yang luar biasa", kata Aisyah lirih.
"Astaga Tuhan...", ucap cermin kristal ajaib.
"Dan aku baru tersadar telah berada di dimensi lain yang tidak aku tahu asal-usulnya tanpa siapapun disana, seorang diri, tidak ada yang menemaniku", kata Aisyah.
"Ya Tuhan...", ucap cermin ajaib.
"Hanya sosok berjubah putih yang selalu bersama denganku saat aku tersesat di kota asing itu dan ia selalu membimbingku di dimensi lain itu penuh kesabaran", kata Aisyah dengan wajah muram.
"Sosok berjubah putih !?", ucap cermin ajaib heran.
"Yah... Sosok yang selalu mengingatkanku untuk kembali pulang ke duniaku agar aku tidak terlena di dalam kota asing itu, tapi..., aku terus memaksa untuk tetap tinggal di dalam dunia asing itu hingga aku terjebak di dalam dasar taman halus itu dan tidak dapat keluar dari sana...", kata Aisyah dengan sendunya.
"Karena itulah anda terluka saat di dasar taman halus itu, Nona Aisyah !?", ucap cermin ajaib.
"Hmmm..., iya, benar, aku terluka di sebabkan terjatuh dari atas permukaan taman halus dan terjebak di dasar tanpa dapat kembali lagi", sahut Aisyah.
"Untungnya hamba datang", ucap cermin ajaib.
"Iya, dan aku sangat menyesalinya tidak mengindahkan ucapan dari sosok berjubah putih itu dan tetap ngotot untuk tinggal didalam dunia mimpi", kata Aisyah.
"Ya Tuhan !", ucap cermin ajaib.
__ADS_1
"Seharusnya aku mendengarkan perkataannya dan langsung pulang ketika aku melihat jalan keluar dari dunia mimpi itu, mungkin saja aku cepat tersadar", kata Aisyah.
"Dan anda tidak perlu susah untuk menghadapi kejadian-kejadian yang menegangkan di dalam dunia mimpi terutama pada saat berada di dasar taman halus itu, Nona Aisyah", ucap cermin kristal ajaib.
"Benar yang kamu ucapkan itu, wahai cermin ajaib", sahut Aisyah.
"Tapi semua telah terjadi dan tidak perlu disesali, dan semua telah anda lewati lalu untuk apalagi menyesal", ucap cermin ajaib.
"Iya, karena nasi telah menjadi bubur, tidak ada yang perlu disesali lagi olehku", kata Aisyah.
"Hmmm..., itu benar, biarkan yang berlalu biarlah berlalu, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Tapi, aku tidak dapat kembali ke dalam tubuhku dan jiwaku berada di luar sini, lalu bagaimana caranya aku dapat kembali ke tubuhku, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
Aisyah sekarang kebingungan karena dirinya tidak dapat kembali ke dalam tubuhnya dan rohnya melayang-layang di luar tanpa kepastian yang jelas.
Dia kini hanya bisa memandangi tubuhnya dari luar tabung silinder tanpa dapat berbuat apa-apa.
"Bagaimana caranya !?", tanya cermin ajaib itu juga bingung.
"Iya... !?", sahut Aisyah dengan nada tanya.
"Bagaimana ya !?", ucap cermin pada dirinya sendiri.
Cermin ajaib itu lalu melihat kembali tubuh Aisyah yang terbaring lemah dengan kabel-kabel yang mirip tentakel terbuat dari kerang laut di dalam tabung silinder itu.
Berpikir keras mencari jalan keluar dari permasalahan yang baru lagi ia temui ini, dan cermin kristal ajaib berusaha mendapatkan solusinya supaya Aisyah dapat kembali ke dalam tubuhnya seperti semula. Tapi bagaimana caranya, cermin kristal ajaib itu tidak menemukan jawaban akan pertanyaannya sendiri.
Tampak beberapa tabung cairan disuntikkan ke dalam tubuh Aisyah yang tergeletak tak berdaya di dalam tabung silinder dari kerang, ruangan di dalam sana terasa seperti ruang di rumah sakit yang dilengkapi peralatan medis yang beraneka ragamnya.
Cermin kristal ajaib sangat merinding melihat itu semuanya, pemandangan yang membuat rasa iba dan terharu, saat menyaksikan penderitaan yang dialami oleh Aisyah.
"Oh, iya, bukankah anda memiliki botol-botol keramik berisi ramuan ajaib itu, Nona Aisyah !?", tanya cermin ajaib.
"Iya, benar, lalu kenapa kamu menanyakannya, wahai cermin ajaib ?", tanya Aisyah balik.
"Nah, coba anda mengambil lagi botol keramik di dalam kantung kain sutra itu dan mungkin ramuan ajaib itu dapat membantu anda untuk kembali ke tubuh anda lagi, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib bersemangat.
"Memilih salah satu botol keramik dari kantung kain itu !?", kata Aisyah tertegun.
"Benar sekali, yang anda ucapkan, cobalah mengambilnya dan pasti anda akan mendapatkan botol keramik yang anda butuhkan itu, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib penuh semangat.
"Mmmm...", gumam Aisyah gamang.
"Jangan ragu-ragu lagi, cobalah untuk melakukannya dan buktikanlah khasiat ramuan ajaib pemberian jam antik kuno itu pada anda, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib memberi semangat pada Aisyah.
"Apakah aku harus mencobanya !?", ucap Aisyah masih ragu.
"Yakinlah ! Karena rasa yakinlah yang dapat membantu anda untuk yakin dapat keluar dari masalah-masalah yang anda hadapi selama ini jika anda tidak yakin bagaimana anda melangkah sejauh ini untuk membantu jam antik kuno itu, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Yakin... Haruskah aku meyakininya..., perlukah itu..., untuk yakin...", ucap Aisyah pelan.
"Benar ! Anda harus yakin dan benar-benar yakin untuk mencobanya, Nona Aisyah ! Yakinlah, seyakin-yakinnya !", ucap cermin ajaib berseru keras.
Aisyah terdiam sejenak sembari memperhatikan ke arah tubuhnya yang terbaring lemah di dalam tabung silinder terbuat dari kerang itu.
Menatapnya sendu tanpa dapat melakukan apa-apa untuk menolong dirinya sendiri yang koma karena sesuatu yang tidak diingatnya sama sekali.
Dia lalu mengambil kantung kain sutra dari dalam saku tuniknya yang berwarna cokelat muda dan melihatnya dengan seksama.
__ADS_1
"Kantung kain ini...", gumamnya.
Aisyah tidak pernah menyangka jika kantung kain sutra tenunan tangan itu sangat ajaib sekali dan menyimpan kegunaan yang luar biasa bagi dirinya.
Dia lalu mengusapnya lembut seraya berpikir sesaat, kemudian membuka ikatan tali yang melilit kantung kain sutra itu.
"Baiklah, aku akan mencobanya dan mengambil botol keramik yang berisi cairan ramuan ajaib itu, wahai cermin ajaib", ucap Aisyah seraya menatap ke arah cermin ajaib.
Cermin kristal ajaib mendekat pelan ke samping Aisyah dan tersenyum senang kepada gadis muda itu.
"Itu adalah keputusan yang sangat tepat sekali, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Aku harap begitu, wahai cermin ajaib", sahut Aisyah.
"Maka cobalah anda mengambil botol keramik dari dalam kantung kain sutra itu sambil berharap akan kesembuhan pada diri anda, Nona Aisyah", kata cermin ajaib.
"Baiklah, aku akan melakukannya, wahai cermin ajaib", jawab Aisyah yakin.
"Silahkan, anda melakukannya, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib memberi keyakinan kepada hati Aisyah.
Aisyah lalu memasukkan salah satu tangannya ke dalam kantung kain sutra yang sangat ajaib itu sambil berdoa, mengharap kesembuhan pada dirinya.
Dia memilih botol keramik berisi ramuan ajaib dengan rasa yakin yang tinggi di dalam hati sanubarinya yang terdalam.
Tangan Aisyah menyentuh sebuah botol keramik saat berada di kantung kain sutra itu kemudian mengambilnya.
"Hanya satu botol keramik lagi yang aku dapatkan dari dalam kantung kain sutra ajaib itu, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Itu adalah pilihan yang keluar dari hati anda, suatu keyakinan yang terdalam dan sangat kuat dari dalam hati anda, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Aku harap pilihan ini benar-benar bisa menolongku keluar dari masalah rumit ini dan aku segera kembali ke tubuhku yang terbaring lemah di dalam tabung silinder itu", kata Aisyah.
"Semoga keyakinan anda dapat terwujud dan... Amien... Semoga Yang Maha Kuasa menolong umatnya yang kesusahan, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib lalu tersenyum.
"Amien... Semoga Ya Robb, mendengarkan suara hati kecilku ini dan menolongku melewati petaka ini, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Sekarang cobalah untuk meminumnya isi di dalam botol keramik itu, Nona Aisyah !", ucap cermin ajaib.
"Baik, aku akan meminum ramuan ajaib ini dan jika terjadi sesuatu denganku cepatlah kamu mengambil lagi ramuan ajaib itu dan berikanlah lagi kepada tubuhku, jangan lupa kamu siramkan satu botol ramuan ajaib itu sekali lagi kepadaku, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Iya, hamba akan mendengarkan perintah anda serta melaksanakannya, Nona Aisyah ! Dan anda tidak perlu mencemaskan hal itu, Nona Aisyah !", ucap cermin kristal ajaib.
"Baguslah, kamu mengerti dan sekarang aku akan meminum habis ramuan ajaib ini dan segeralah kamu bersiap-siap dengan diriku jika terjadi sesuatu padaku, wahai cetmin ajaib", pesan Aisyah.
"Baik, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib itu.
Aisyah langsung menegak habis ramuan ajaib yang ada di dalam botol keramik di tangannya tanpa keraguan sedikitpun.
Gadis muda berparas bening itu berdiri melayang di udara sambil melihat ke arah tubuhnya yang berada di dalam tabung silinder dan ia menunggu sesaat dengan reaksi yang akan terjadi pada dirinya setelah meminum habis ramuan ajaib di botol keramik itu.
Tidak butuh waktu lama, tubuh Aisyah yang ada di dalam tabung silinder itu lalu berguncang hebat bersamaan dengan roh yang berada di luar tubuhnya yang ikut berguncang sama.
Terdengar suara bunyi nyaring yang keluar dari mesin-mesin medis yang menopang kelangsungan hidup Aisyah yang ada di dalam tabung silinder di ruangan tersebut.
"Tiiit... Tiiiiit... Tiiiit.. Tiiiit...", suara mesin-mesin berbunyi kerasnya dan arah garis yang tergambar di layar mesin bergerak sangat cepatnya.
Aisyah sempat memandang kepada cermin ajaib di hadapannya dan tersenyum lembut, perlahan-lahan roh Aisyah yang berada di luar tubuhnya berangsur-angsur berubah seperti bayangan, memudar pelan lalu menghilang dari pandangan cermin kristal ajaib.
Lenyap..., tanpa jejak yang tertinggal di dalam ruangan tersebut. Aisyah benar-benar menghilang meninggalkan tempat itu dan tidak terlihat lagi sosok roh dari gadis muda bernama Aisyah di tempat itu lagi.
__ADS_1