
Aisyah tidak menyangka jika gulali berukuran besar itu akan bergerak seperti itu dan berguncang sehebat itu.
Dia melihat putaran gulali semakin lama semakin sangat cepat, dan tidak berhenti sama sekali.
Aisyah berdiri sambil menutupi wajahnya dengan lengan baju panjangnya dari terpaan angin yang berhembus kencang, angin itu muncul ketika putaran gulali bergerak cepat.
"WHOOOOSHHH... !!!", suara angin menerpa kencang tubuh Aisyah yang berusaha berdiri kokoh di atas permukaan rumput yang terbuat dari arum manis warna-warni.
"Angin ini kencang sekali, aku tidak dapat bertahan !", kata Aisyah yang mulai goyah.
Angin terus berhembus sangat kencang dan menerpa Aisyah tanpa henti, meniup dedaunan yang ada yang terbuat dari lembaran cokelat, menerbangkannya dan hampir mengacaukan taman halus itu.
Permukaan rumput tempat Aisyah berpijak turut berguncang hebat dan semakin membuat tubuh gadis itu tidak stabil.
Timbul retakan-retakan di atas permukaan taman halus, semakin luas dan bergetar hebat.
"Apa ini ? Kenapa semuanya bergerak ? Apa yang terjadi ?", kata Aisyah tercengang.
Angin tiada hentinya bertiup kencang begitu juga gulali berukuran besar yang terus menerus berputar cepat, meninggalkan jejak di atas rumput dari arum manis berwarna warni.
Sekuat apapun gerakan gulali itu tidak membuat gulali berukuran besar itu berpindah tempat dari asalnya, bergerak statis di tempatnya dan menimbulkan retakan-retakan panjang serta sangat dalam di atas permukaan taman halus.
"Kenapa semua bergerak tanpa hentinya ?", ucap Aisyah.
Aisyah tidak dapat bergerak sedikitpun agar ia dapat meninggalkan tempat itu, ia berusaha lari tetapi rumput tempatnya berpijak yang berguncang hebat itu menyebabkan dirinya tidak dapat pergi dari sana.
Bagaimanapun Aisyah berlari untuk pergi, ia tetap tidak bisa berjalan jauh dari tempat ia berdiri, hanya berjalan berputar-putar dan kembali lagi ke posisi semula.
Retakan-retakan itu lambat laun semakin meluas dan menimbulkan lubang di atas permukaan rumput dari arum manis berwarna-warni itu.
"Aku harus meninggalkan tempat ini sebelum terlambat, jika tidak maka aku akan berada disini selamanya tanpa bisa keluar lagi", ucap Aisyah mulai cemas.
Taman halus itu sudah tidak terlihat indah seperti tadi bahkan sedikit kacau balau, bahkan permen-permen di taman halus sebagian banyak yang rusak dan berjatuhan.
Manisan-manisan yang tadinya tersusun rapi dan menarik sudah tidak terlihat indah lagi bahkan hancur berantakan serta tidak bisa di makan lagi, meskipun dapat diambil oleh tangan tapi sudah tercecer berserakan di atas permukaan rumput dari arum manis berwarna-warni.
Aisyah sangat putus asa melihat kondisi di taman halus itu sudah tidak berbentuk taman yang cantik dengan hiasan permen serta manisan beraneka macamnya bahkan nyaris hancur rata.
"Taman halus ini juga tidak indah lagi dan berantakan bahkan semuanya hancur berkeping-keping, aku juga tidak bisa lagi memakan manisan dan permen itu lagi !?", ucap Aisyah bersedih.
Gadis berwajah bening itu ingin menangis melihat taman halus yang sudah tidak berbentuk lagi, tapi ia menahannya.
Dia sangat kecewa melihat pemandangan di hadapannya yang sudah tidak berbentuk lagi dan kacau balau.
"Aku tidak dapat memakan manisan-manisan itu lagi lalu untuk apa aku kemari ?", ucap Aisyah bersedih.
Raut wajahnya yang tadi tampak ceria dan senang saat tiba ke taman halus itu untuk mengambil manisan dan permen itu kini sudah tidak terlihat ceria lagi.
__ADS_1
"Aku hanya menginginkan permen dan manisan itu, aku ingin memakannya saja beberapa manisan", ucap Aisyah.
Aisyah dengan wajah muramnya berusaha untuk pergi dari tempat itu tetapi karena adanya retakan-retakan yang ada di taman halus sehingga membuat gadis muda itu tidak dapat bergerak lagi.
Dia hanya termangu memandangi kondisi taman halus yang hancur lebur tidak karuan, permen berserakan dimana-mana dan manisan-manisan yang berkeping-keping di seluruh permukaan taman halus.
"Apa yang telah aku lakukan ini, apa gara-gara aku telah melakukan kesalahan dan membuat gulali itu berputar tidak terkendali !?", ucap Aisyah sedih.
Aisyah berlari menghindari retakan-retakan yang timbul karena putaran gulali di atas taman halus itu, retakan yang semakin lama semakin besar dan dalam.
Ketika retakan tersebut terbelah dan berguncang keras, Aisyah terkejut melihat retakan itu bergerak menuju ke arah dirinya, mengejarnya, memburunya dan terbelah lebar sehingga membuat tubuh Aisyah jatuh ke dalam retakan yang dibuat putaran gulali itu.
"AAAAAAAAAAHHHHHH... !!!", Aisyah terdengar berteriak keras saat tubuhnya jatuh masuk ke dalam retakan-retakan yang melebar itu.
Aisyah yang jatuh ke dalam retakan yang ditimbulkan oleh gulali berukuran besar itu, terlihat tubuhnya berputar bolak-balik di dalam bawah taman halus yang curam.
Tubuh Aisyah terjun jatuh semakin dalam ke bawah yang gelap tanpa cahaya, menyebabkan tubuh gadis itu turun menuju dasar tanah.
Berguling-guling, menggelinding ke dasar retakan lalu tubuhnya terbentur keras pada dasar tanah.
Aisyah merasa kepalanya pusing lalu ia terbaring lemas, tak bergerak, dia jatuh tepat ke dalam dasar retakan dan tak sadarkan diri.
Keadaan di atas permukaan retakan yang tadi hancur berantakan, kini sudah terlihat tenang kembali.
Taman halus yang tadi kacau balau, semuanya berubah seperti semula pada saat sebelum kekacauan terjadi yang diakibatkan putaran gulali.
Saat ini telah kembali diam, tidak bergerak dan tidak berputar seperti tadi.
Gulali berukuran besar itu telah berhenti dan tulisan yang timbul di atas badan gulali berwarna cokelat tua itu mendadak hilang, lenyap dan tak terlihat lagi.
Permen yang terbuat dari gula gosong berbentuk bundar kembali normal, bahkan jejak yang ditimbulkan oleh putaran gulali besar yang ada di sekitar gulali itu juga tidak terlihat lagi.
Retakan-retakan yang tadi di timbulkan oleh putaran gulali besar yang dalam dan lebar serta meninggalkan patahan di atas taman halus kini sudah tidak ada lagi di sana.
Permukaan taman halus kembali tertutup oleh rumput-rumput yang terbuat dari arum manis berwarna-warni, seperti sediakala, tenang.
Manisan dan permen yang ada di taman halus itu tampak tertata cantik lagi dan tidak sedikitpun hancur berkeping-keping seperti tadi saat putaran gulali itu berputar menghancurkan seluruh taman halus serta manisan dan permen itu.
Semuanya kembali normal dan suasana di taman halus itu sangat damai sekali serta menenangkan hati, tidak ada kekacauan dan retakan yang terjadi di atas taman halus.
Aisyah terjebak di dalam dasar tanah taman halus yang permukaannya telah tertutup sehingga gadis itu tidak dapat kembali ke atas lagi, kembali ke taman halus itu lagi.
Waktu berganti waktu tetapi Aisyah masih belum terlihat bangun dari pingsannya dan ia masih terbaring tak berdaya di atas tanah di dalam dasar taman halus yang sangat dalam dan sepi.
Beberapa jam telah berlalu tetapi masih terlihat Aisyah terbaring tak bergerak di atas permukaan tanah.
Gadis itu benar-benar kehilangan kesadarannya sehinga membuatnya tidak mampu bangun.
__ADS_1
Terdengar suara gemericik air dari kejauhan, perlahan-lahan tangan Aisyah bergerak pelan serta matanya yang terpejam mulai terbuka.
Suara air ternyata mampu membangunkan Aisyah yang jatuh tak sadarkan diri meskipun ia tidak sepenuhnya tersadar.
"Mmmmhhh...", gumam Aisyah lemah.
Aisyah lalu membuka seluruh matanya tetapi ia masih tidak dapat bangun karena pusing yang mendera di kepalanya datang bertubu-tubi seperti palu yang menghantam kepalanya keras.
Dia masih terbaring lemah tak berdaya di atas tanah, diam bergeming dan hanya mampu menggerakkan jari-jemarinya seraya mengedipkan kedua matanya.
"Ehk...", gumamnya lagi.
Aisyah terdiam sesaat kemudian ia bangun dari tempatnya berbaring dan duduk pelan-pelan seraya menata sikap duduknya.
Dia melihat ke arah sekelilingnya yang terlihat samar karena kepalanya yang masih berputar pening sedangkan kedua matanya berkunang-kunang akibat jatuh ke dasar tadi.
"Aku dimana ini ? Apa yang sebenarnya terjadi padaku tadi ?", kata Aisyah sambil memegangi kepalanya yang pusing.
Aisyah mencoba untuk berdiri tetapi kepalanya yang pusing, membuatnya tidak mampu berdiri dengan benar.
Saat dirinya hendak mencoba bangun dari tempatnya berbaring, ia jatuh terduduk kembali ke atas tanah.
"Auwh !", pekik Aisyah menahan sakit.
Aisyah tampaknya tengah terluka saat dirinya terjatuh tadi sehingga membuatnya tidak dapat bangun.
Pakaian panjang yang dikenakan Aisyah rusak serta robek-robek bahkan tangannya terluka akibat terjatuh tadi.
"Rupanya tanganku terluka, dan aku tidak dapat mengobatinya karena di tempat ini tidak ada obat ataupun klinik untuk luka ini", ucap Aisyah.
Aisyah hanya duduk termenung seraya memperhatikan sekitarnya dan ia tidak melihat siapapun di tempat itu.
"Apakah tidak ada seorangpun yang tinggal disini ? Jika benar, berarti aku terjebak di dalam tempat ini sendirian, apa yang harus aku lakukan sekarang ?", kata Aisyah bingung.
Dia mencoba berdiri dari tempatnya duduk, dan berusaha berjalan tetapi tubuhnya terasa berat dan kesakitan karena terjatuh ke dasar.
Tangan Aisyah terluka dan penampilannya tidak karuan akibat pakaiannya sobek tersangkut oleh benda-benda ketika terjatuh tadi.
"Aku harus pergi dari tempat ini, dan menemukan jalan keluar dari sini, bagaimanapun caranya aku harus kembali ke atas sana lagi dan aku tidak ingin terjebak di dasar sini", ucap Aisyah tertatih-tatih kesakitan sembari memegangi tangannya yang terluka.
Aisyah mencoba melangkahkan kedua kakinya seraya mengangkat kakinya yang terasa amat berat, dia berjalan terseok-seok.
"Aku mendengar suara air dari kejauhan..., itu tandanya ada kehidupan di tempat ini dan biasanya ikan akan berada di dalam air, setidaknya aku menemukan tanda kehidupan", ucap Aisyah terlihat kembali bersemangat meski ia harus menahan rasa sakit di tangannya.
Suara air gemericik terdengar dari kejauhan dan ketika Aisyah berjalan menuju tempat itu suara semakin lama semakin jelas terdengar dari arah air yang bergemericik pelan.
"Air... Air... Aku mendengar suara air, itu artinya aku masih memiliki harapan hidup di tempat ini, aku harus sampai ke tempat itu, air..., air..., aku membutuhkan air, aku haus...", ucap Aisyah.
__ADS_1
Aisyah berjalan terseret dengan memegangi tangannya yang terluka itu menuju ke arah datangnya suara air yang bergemericik.