Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Raksasa Foxglove...


__ADS_3

Aisyah terpaku diam di tempatnya berdiri, menatap penuh serius ke arah raksasa dari kumpulan bunga berbentuk seperti lonceng yang berlari ke arah dirinya dan cermin itu berada.


Mengeluarkan bunyi berdebum yang sangat keras, menggetarkan seluruh area itu.


"Masyaallah... Raksasa apakah itu... Kenapa muncul sebuah raksasa sebesar itu di dalam bentangan taman menjalar ?", tanya Aisyah.


"Raksasa foxglove, sangat besar dan beracun sebaiknya jangan sampai terkena olehnya, Nona Aisyah", jawab cermin ajaib.


"Iya, aku mengerti, apakah kita harus menghadapi raksasa foxglove itu ?", tanya Aisyah lagi.


Menatap tajam ke arah raksasa yang terus berlarian di antara hamparan luas foxglove yang terbuat dari manisan lolipop.


Mereka mundur pelan-pelan untuk memberi jarak antara mereka dengan keberadaan raksasa foxglove yang semakin dekat ke arah mereka.


"Jangan panik, tetapi tetaplah waspada dan hati-hati dengan raksasa foxglove di depan kita, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib berusaha untuk mengingatkan dirinya.


"Awas cermin ajaib !!!", teriak Aisyah tiba-tiba kepada cermin kristal ajaib.


Terdengar suara keras mirip ledakan yang mengarah pada mereka dan hampir mengenai keduanya.


"BOOOOOOM...!!!"


Aisyah bergerak cepat menghindari serangan yang dilakukan oleh raksasa foxglove itu seraya menarik gagang cermin kristal ajaib.


Satu sentakan kuat dari kaki Aisyah telah membuat gadis muda itu berpindah tempat ke tempat lainnya dengan sangat mudahnya.


"Hati-hati, wahai cermin ajaib !", ucap Aisyah mengingatkan cermin ajaib.


"Aduh !? Bagaimana ini bisa terjadi !?", kata cermin ajaib dengan panik.


Raksasa itu kembali melontarkan serangannya berupa barisan bunga lonceng berukuran sedang ke arah Aisyah dan cermin kristal ajaib.


Saat keduanya berdiri di dekat padang bunga berbentuk seperti lonceng itu.


"BOOOM... BOOOM... BOOOM...!!!", suara yang teramat kerasnya berdatangan bertubi-tubi ke arah mereka.


"Awas ! Bunga-bunga itu berhamburan kemari, jangan sampai terkena, Nona Aisyah !", teriak cermin ajaib.


"Masyaallah ! Raksasa itu benar-benar sangat berbahaya sekali !", kata Aisyah.


Dia lalu melompat melambung dengan gesit dan berusaha menghindari serangan dari raksasa foxglove tersebut.


Kecepatan Aisyah mulai kembali seiring waktu pada saat dirinya telah lama berada di dalam dasar taman halus.


"BOOOM... BOOOM... BOOOM...", suara ledakan berderetan mengarah kepada Aisyah dan cermin ajaib.


"Bunga-bunga itu seperti bom saja dapat meledak saat menyentuh permukaan tanah kering ini", kata Aisyah.


"Itu adalah bunga lonceng beracun dan sangat berbahya apabila kita terkena serangan dari bunga lonceng, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.


"Apakah tidak ada cara untuk melenyapkan bunga-bunga bom lonceng itu, wahai cermin ajaib ?", tanya Aisyah.


"Hamba belum menemukan cara untuk menghancurkan bunga-bunga bom itu tapi sebaiknya kita segera menghindari serangan itu, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib.


"Baiklah...", kata Aisyah singkat.


"Kelihatannya hanya itu satu-satunya cara untuk menghadapi serangan dari bunga-bunga bom lonceng", ucap cermin ajaib.


Raksasa foxglove berputar menghadap ke arah Aisyah dan cermin kristal ajaib yang berada cukup jauh dari padang foxglove yang terbentang luas di hadapan mereka.


Memandangi keduanya dengan tatapan tak bersahabat seperti tengah marah.


Seakan-akan keberadaan Aisyah dan cermin kristal ajaib sangat mengganggu raksasa foxglove itu.


"Raksasa besar itu melihat ke arah kita, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.


"Mmm, iya, dia sangat marah pada kita karena memasuki wilayahnya, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.

__ADS_1


"Mungkinkah kita telah mengusik tempat peristirahatannya dan membuat dia terganggu akan kehadiran kita disini ?", tanya Aisyah.


"Benar, ia merasa kita adalah musuh dan ancaman untuk raksasa foxglove, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib.


"Aku rasa dia mengira kita akan merusak tempat ini sehingga ia berusaha untuk melawan kita agar kita pergi dari tempat ini", kata Aisyah.


"Hmmm... Hamba rasa yang anda ucapkan benar adanya, bagi raksasa foxglove kita adalah ancaman di tempat ini, Nona Aisyah", ucap cermin kristal ajaib.


"Bisakah kita bernegoisasi dengan raksasa foxglove itu, wahai cermin ajaib ?", tanya Aisyah.


"Bernegoisasi ?", ucap cermin kristal ajaib balik bertanya.


"Hmmm..., iya, negoisasi !? Cara untuk berdamai dengan musuh atau orang lain", sahut Aisyah.


"Mmm... Hamba akan mencobanya, Nona Aisyah !?", ucap cermin ajaib.


"Baiklah, aku rasa itu bukan ide yang buruk, wahai cermin ajaib", kata Aisyah seraya menoleh ke arah cermin kristal di sampingnya.


"Hmm... Hamba akan pergi kepada raksasa foxglove dan mencoba bernegoisasi dengannya, Nona Aisyah...", kata cermin ajaib.


Cermin kristal itu lalu bergerak mendekati raksasa foxglove, melayang terbang pelan ke arah raksasa itu.


Bukan disambut dengan hangat oleh raksasa foxglove tetapi cermin ajaib itu justru mendapatkan serangan dari raksasa foxglove yang melempari cermin kristal kembali dengan bunga-bunga lonceng yang runcing sisi kelopaknya.


Hampir mengenai kaca pada badan cermin kristal ajaib, untung saja cermin ajaib itu mampu menghindarinya.


"Aih... Aih... Aih...!?", pekik cermin ajaib panik.


Cermin kristal ajaib itu tampak kewalahan dengan lemparan dari bunga-bunga berbentuk seperti lonceng yang mengarah padanya, ia bergerak kian kemari tak menentu dan berusaha menghindari lemparan itu.


"Ya Ampun !?", jerit Aisyah.


Gadis muda dengan wajah beningnya itu tampak terkejut sekali ketika raksasa foxglove menyerangnya dengan amat kasar kepada cermin ajaib.


"Keterlaluan sekali kelakuan raksasa besar itu pada cermin ajaib, tidak bisakah ia berlaku baik kepada kami", ucap Aisyah.


Dia bergerak cepat ke arah depan seraya meraih gagang cermin kristal ajaib kemudian meloncat tinggi untuk menghindari serangan bunga-bunga lonceng yang runcing.


"Hati-hatilah, wahai cermin kristal ajaib !", ucap Aisyah pelan.


"Aih... Aih..., iya, iya, maafkan hamba yang tidak menyadarinya, Nona Aisyah", kata cermin ajaib sambil meringis.


"Ternyata bernegoisasi bukanlah cara terbaik untuk berdamai dengan raksasa foxglove itu tapi perlukah kita melawannya", kata Aisyah sedikit gamang.


"Hamba juga tidak tahu harus berkata apa-apa", sahut cermin ajaib menanggapi perkataan Aisyah.


"Aku tahu alasan raksasa besar itu menyerang kita karena bagi dia, kita adalah pengganggu bagi ketenangan daerah ini", kata Aisyah.


"Benar sekali, bagi raksasa foxglove kita bukan saja pengganggu tetapi ancaman untuk area padang foxglove ini", ucap cermin ajaib.


"Ini sangat melelahkan untuk kita karena harus terus menerus menghindari serangan dari raksasa foxglove itu", kata Aisyah.


"Aih... Aih... Aih..., raksasa itu sungguh keterlaluan sekali..., bagaimana bisa ia menganggap kita musuhnya !?", ucap cermin ajaib.


"Karena kita berbeda dengannya... Itulah alasan raksasa besar menyerang kita, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.


Gadis muda dengan kain penutup di kepalanya terlihat tengah memperhatikan raksasa foxglove yang berdiri di antara hamparan padang bunga berbentuk seperti lonceng.


Raksasa foxglove itu tampak bodoh ketika memandangi ke arah Aisyah yang berdiri tegak di hadapannya.


"Raksasa itu melihat kita, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.


"Mmm..., benar sekali, nona", jawab cermin kristal ajaib.


"Sepertinya ini waktu yang tepat untuk kita berbicara pada raksasa itu", kata Aisyah.


"Berbicara !? Maksud anda bernegoisasi dengan raksasa pemarah itu !?", ucap cermin kristal ajaib.

__ADS_1


"Em, iya, aku rasa ini waktu yang baik dan aku akan mencoba bernegoisasi dengannya", kata Aisyah.


"A--apa... Apa tidak salah ? Sepertinya itu bukan idea yang tepat, Nona Aisyah !?", ucap cermin ajaib dengan nada bingung.


"Kita harus mencobanya, bagaimana kita tahu jawabannya jika kita tidak mencobanya, wahai cermin ajaib ?", tanya Aisyah.


"Baiklah..., jika menurut anda itu cara terbaik...", sahut cermin ajaib.


"Hmm..., iya..., aku akan berbicara dengannya, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.


Aisyah lalu mengangkat kedua tangannya ke arah atas seraya melambai-lambaikan tangannya kepada raksasa foxglove itu. Dan terlihat ia berlompatan di tempatnya berdiri.


Gadis muda itu lantas berteriak keras ke arah raksasa foxglove.


"Hai ! Hai ! Hai... Apakah kamu melihatku dan mendengarku !?", teriak Aisyah memanggil raksasa foxglove itu.


Aisyah terus meloncat-loncat dengan memanggil raksasa foxglove yang memperhatikan dirinya dengan memiringkan kepalanya.


Tidak mengerti dengan ucapan Aisyah atau gerakan yang dilakukan gadis itu, yang ia tahu bahwa mereka adalah ancaman di tempatnya tinggal yakni padang foxglove yang membentang luas.


"Bisakah kita saling berbicara baik-baik dan melakukan negoisasi diantara kita ?", tanya Aisyah berteriak lantang ke arah raksasa foxglove.


Tetap saja bukan respon yang baik dari raksasa foxglove yang Aisyah terima saat ia mencoba berbicara dengan raksasa foxglove itu.


Melainkan serangan yang mengarah kepada Aisyah dengan lemparan kembali bunga berbentuk seperti lonceng yang dapat meledak.


"Aaaahhhh !", jerit Aisyah terkejut serta panik.


Aisyah menghindari lemparan bunga foxglove yang berhamburan mengarah kepadanya, dan ledakannya hampir mengenai tubuh Aisyah.


Serpihan dari bunga foxglove berterbangan di udara setelah mengenai tanah dan meledak.


"BUM... BUM... BUM...", terdengar suara ledakan bunga foxglove pada saat bersentuhan ke atas permukaan tanah kering.


"Aaaahhhh... Tidak bisakah kamu bersikap dengan baik-baik...", ucap Aisyah seraya bergerak menghindari ledakan-ledakan bunga foxglove.


Aisyah melompat-lompat sembari melambung kian kemari menyelamatkan dirinya dari lemparan-lemparan bunga foxglove yang meledak bagaikan bom.


Mundur kemudian bergerak ke arah samping mencoba melarikan dirinya dari kejaran lemparan bunga foxglove yang membabi buta.


"Rupanya raksasa besar itu sangat tidak menyukai kehadiran kami disini dan memaksa kami untuk segera keluar dari tempat ini", kata Aisyah setengah bergumam pada dirinya sendiri.


Aisyah terus berlari menghindari serangan raksasa foxglove yang melempari dirinya dengan bunga-bunga berbentuk seperti lonceng.


Serangannya kali ini lebih berbeda dari yang tadi karena bunga-bunga lonceng itu dapat berputar-putar bagaikan bola yang melayang serta mengeluarkan api.


Aisyah menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat kaget ke arah bola-bola api yang terus mengejarnya.


"Bola api... Dari mana datangnya bola-bola api itu... Apakah itu berasal dari bunga foxglove yang di lemparkan oleh raksasa besar itu ?", tanya Aisyah.


Dia terus berlari menghindari serangan raksasa foxglove, berkeliling di area padang kering yang kosong dengan bentangan tanaman foxglove di depannya..


Tempat itu sangatlah luas dan cukup bagi Aisyah untuk bergerak menghindari serangan dari raksasa foxglove yang melemparinya dengan bola-bola api yang terbuat dari bunga lonceng.


"Apakah bola-bola api itu merupakan perwujudan lain dari bunga berbentuk seperti lonceng itu ?", ucap Aisyah.


Aisyah hanya mampu menghindari serangan-serangan itu dan berlari cepat agar dirinya tidak terkena bola-bola api itu, sedangkan cermin ajaib hanya melihat itu semua dari kejauhan tanpa dapat berbuat apa-apa.


Cermin kristal ajaib itu tidak tahu caranya untuk menghindari lemparan bola-bola api yang terus menerus mengejar Aisyah.


"Aih... Aih... Aih... Bagaimana ini ? Apa yang harus dilakukan untuk menenangkan raksasa foxglove itu dan membantu Nona Aisyah...!?", ucap cermin ajaib gelisah.


Cermin kristal ajaib itu hanya mampu berbicara sendiri dan berusaha keras mencari idea untuk menghadapi raksasa foxglove.


Dia lantas bertanya-tanya pada dirinya sendiri, haruskah melawan raksasa foxglove itu ataukah mengajak bernegoisasi seperti yang diucapkan oleh Aisyah.


Tidak menemukan titik terang dari permasalahan yang tengah mereka temui di tempat bentangan tanaman menjalar dari foxglove itu.

__ADS_1


__ADS_2