Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Mencari Keberadaan Tuan Agung itu...


__ADS_3


Aisyah memandangi cangkir kristal di tangannya. Lalu mendesah pelan, melepaskan kegelisahan di hatinya.


"Aisyah...", sapa Aidl.


"Yah, Aidl", sahut Aisyah.


"Kenapa ?", tanya Aidl singkat sambil memainkan cangkir di tangannya.


"Aku sedang berpikir dimanakah kita akan menemui tuan agung itu !?", tanya Aisyah.


"Oh...", sahut Aidl.


"Terus terang aku maupun jam antik kuno tidak mengetahui keberadaan tuan agung itu lagipula kami juga tidak tahu cara untuk menghadapinya", kata Aisyah.


"Hmm, iya, aku mengerti", ucap Aidl.


"Dan aku kehilangan cermin kristal ajaib saat kami berada di istana awan putih, jika cermin ajaib itu masih ada pastilah sangat mudah bagi kami untuk menemukan tuan agung besar itu", kata Aisyah.


"Bukankah jam antik kuno itu sangat ajaib !? Kenapa kamu tidak bertanya saja pada benda yang bisa hidup itu, Aisyah ?", tanya Aidl.


"Sekarang dia sedang mencoba mencarinya tetapi tidak semudah ketika cermin kristal ajaib masih ada", jawab Aisyah.


"Sepenting itukah keberadaan cermin ajaib untuk kalian !?", kata Aidl. "Lantas dimanakah sekarang cermin kristal ajaib itu saat ini ?", sambungnya.


"Dia telah berubah menjadi sebuah kunci untuk membuka salah satu pintu di istana awan putih yaitu saat kami mendatangi sebuah istana emas pada pintu kelima", kata Aisyah.


"Kenapa kamu tidak membawanya serta bersama mu kemari, Aisyah ?", tanya Aidl.


"Aku membawanya...", sahut Aisyah.


Aisyah lalu mengeluarkan sebuah kunci yang terbuat dari kristal dari dalam saku tuniknya kemudian menunjukkannya kepada Aidl.


"Hmmm, kunci kristal yang sangat cantik, Aisyah", ucap Aidl.


"Iya, kunci kristal ini sungguh cantik sekali dan aku menyukainya", kata Aisyah.


"Boleh aku melihatnya kunci kristal itu, Aisyah", pinta Aidl.


Aisyah menyerahkan kunci kristal yang ada di tangannya kepada Aidl lalu memperhatikan Aidl yang tampak serius mengamati kunci kristal itu.


"Kunci yang cantik sekali", puji Aidl.


"Sayangnya dia hanya sebuah benda yang tidak bisa berbicara lagi, Aidl", kata Aisyah sendu.


"Tentu saja, karena ini memanglah hanya sebuah benda berupa kunci kristal, Aisyah", ucap Aidl.


"Tetapi bagiku dia sangat berarti Aidl, meskipun kini dia hanyalah sebuah kunci kristal yang tiada gunanya, dalam hatiku, kenangan tentang dia akan selalu hidup, Aidl", kata Aisyah.


"Kenapa kamu tidak meminta jam antik kuno untuk mengembalikan kunci kristal ini semula pada wujud awalnya ?", tanya Aidl.


"Tidak mungkin itu terjadi, Aidl", sahut Aisyah.


Aisyah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Yang kamu katakan ada benarnya, Aisyah", kata Aidl.


"Iya...", sahut Aisyah sedih.


''Setiap orang pasti akan berpisah dan tidaklah mungkin kita selamanya bersama-sama", ucap Aidl.


"Aku tahu, Aidl", kata Aisyah.


"Tidak ada yang abadi, Aisyah", ucap Aidl seraya menyerahkan kunci kristal itu kepada Aisyah.

__ADS_1


"Jangan bersedih, Aisyah !", kata Aidl mencoba menghibur hati Aisyah yang bersedih.


"Terimakasih Aidl atas perhatiannya", kata Aisyah.


Jam antik kuno lalu terbang menghampiri Aisyah dan berbicara pada gadis muda itu.


"Hamba telah menemukan keberadaan tuan agung besar itu Nona Aisyah", ucap jam antik kuno.


"Dimana wahai jam antik kuno ?", tanya Aisyah.


"Tuan agung besar itu berada tidak jauh di pusat kota ini dan sebaiknya kita segera mengejarnya, Nona Aisyah", ucap jam antik kuno.


"Baiklah, jam antik kuno. Ayo, kita berangkat sekarang juga !", perintah Aisyah.


Aisyah lalu melangkah maju menuju ke arah pintu berukuran besar di depannya, Aidl menghentikan langkah Aisyah dan yang lainnya.


"Kalian akan kemana ?", tanya Aidl.


"Mencari tuan agung besar itu, kenapa Aidl ?", tanya Aisyah.


"Tidakkah kita mengatur rencana terlebih dahulu sebelum melangkah mencarinya", kata Aidl.


"Bagaimana kalau kita membahasnya saat perjalanan mencari keberadaan tuan agung besar itu ?", tanya Bilqis.


"Baiklah, kita bahas rencana kita di perjalanan", sahut Aidl.


Semua langsung setuju dan menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan ruangan besar yang ada di kubah itu.


"Kita akan naik bunga tulip raksasa kuning itu lagi, Nona Aisyah", ucap jam antik kuno.


"Baiklah, aku pikir jika itu lebih baik maka aku akan setuju", sahut Aisyah.


Ketika mereka berada di luar pintu kubah telah ada bunga tulip kuning raksasa yang telihat kembali melayang.


"Mari kita naik ke atas dan segera pergi dari istana kubah besar ini, Nona Aisyah", sahut jam antik kuno.


"Iya, wahai jam antik kuno", kata Aisyah.


Aisyah melesat ke atas bunga kuning tulip raksasa. Disusul dengan lainnya kecuali Tabib Naia yang masih tertinggal di bawah.


"Apakah Tabib Naia tidak bisa naik melompat ke atas bunga tulip kuning raksasa ?", tanya Aisyah.


"Hamba pikir juga begitu, rupanya Tabib Naia tidak dapat naik ke atas sini, Nona Aisyah", sahut jam antik kuno.


"Kalau begitu biar aku saja yang membawanya ke atas bunga tulip kuning raksasa ini, wahai jam antik kuno", kata Aisyah.


"Jangan Aisyah !", ucap Bilqis.


Aisyah memalingkan mukanya ke arah Bilqis, dan terlihat ratu dari Sheba itu meloncat cepat ke arah bawah.


Dia langsung membawa Tabib Naia itu naik ke atas bunga tulip kuning raksasa.


"Karena semuanya telah berada di atas bunga tulip kuning raksasa maka sebaiknya kita segera berangkat menuju pusat kota", ucap jam antik kuno.


"Iya, aku pikir itu sebuah idea yang bagus, wahai jam antik kuno", sahut Aisyah.


"Benar sekali, mari kita segera pergi dari tempat ini", kata Bilqis.


Terlihat bunga tulip kuning raksasa itu bergerak cepat melayang di atas langit, melewati awan-awan putih yang berderet teratur di atas.


"Wow ! Kita terbang !", seru Bilqis.


"Aku baru tahu jika bunga tulip bisa terbang juga karena aku kira hanya burung saja yang bisa terbang", ucap Tabib Naia kagum.


"Apakah kalian suka ?", tanya Aisyah.

__ADS_1


"Ini suatu pengalaman yang luar biasa sekali dan aku sangat menyukainya, Aisyah", sahut Tabib Naia.


"Tidak terasa mencari keberadaan tuan besar itu semenarik ini, tidak seperti sedang melakukan perburuan", kata Bilqis.


"Bukan suatu perburuan Bilqis melainkan pencarian, sepertinya kamu perlu lebih banyak belajar tata bahasa manusia lagi, ratu dari negeri Sheba", ucap Badar dari dalam pedang awan putih.


"Tidak ada aturan untuk berbicara dan ini adalah hak setiap makhluk hidup untuk berkata yang mereka inginkan, Badar", sahut Bilqis kesal.


"Tetapi artinya berbeda antara perburuan dengan pencarian, ratu dari Sheba", jawab Badar.


"Terserah padamu, tapi aku hanya berbicara dalam hatiku dan ini murni yang datangnya dari hati kecilku", ucap Bilqis.


Aisyah hanya tertawa pelan melihat tingkah laku Bilqis yang tidak terima dengan ucapan Badar sedangkan Badar sendiri selalu membantah ucapan Bilqis.


Bunga tulip kuning raksasa itu terus bergerak maju diantara awan-awan putih, sengaja tidak terbang rendah karena dikuatirkan akan terlihat oleh orang-orang di kota Persia.


"Apakah kita akan terus terbang seperti ini Aisyah ?", tanya Bilqis.


"Tidak, kita akan berhenti di sebuah pasar tradisional Persia", sahut jam antik kuno.


"Pasar tradisional ?", ucap Bilqis bertanya keheranan.


"Benar, tuan agung besar itu sering berkunjung ke sana dan sekarang dia masih berada di tempat itu untuk melakukan negoisasi", sahut jam antik kuno.


"Apakah kamu melihatnya Badar ?", tanya Aisyah seraya menoleh ke arah pedang awan putih.


"Aku melihat seorang pria bersorban sedang berdiri di depan sebuah toko kerajinan perhiasan, Nona Aisyah", ucap Badar menyahut.


"Toko perhiasan !? Untuk apa tuan agung sufi itu bertransaksi disana, apakah dia hendak membeli perhiasan ?", tanya Aisyah.


"Tidak tahu karena aku melihatnya samar", sahut Badar.


"Tuan yang mengutukmu itu apakah sama dengan tuan agung yang sedang kami cari itu, Badar ?", tanya Aisyah.


"Hmmm... Aku tidak terlalu melihatnya secara jelas karena tertutup oleh cahaya yang bersinar...", jawab Badar.


"Sayang sekali kita tidak mengerti tuan agung yang kita cari apakah sama", kata Aisyah.


"Tidakkah dia memiliki sebuah nama ?", tanya Aidl yang sedari tadi hanya diam kini mulai angkat bicara.


"Aku tidak tahu nama tuan agung itu, Aidl", sahut Aisyah. "Tetapi mungkin saja jam antik kuno mengetahui nama tuan agung besar itu"


Aisyah melihat ke arah jam antik kuno yang sedang terbang melayang di atas bunga tulip kuning raksasa.


"Hamba tidak tahu nama tuan agung itu, Nona Aisyah", ucap jam antik kuno.


"Akan sangat sulit sekali mengetahui riwayat hidup tuan agung besar itu karena tidak ada yang tahu akan informasi yang terkait dengannya", kata Aidl yang sedang duduk bersila.


"Memang benar Aidl, karena itulah kami hanya mengira-ngira saja mengenai informasi yang berhubungan dengan tuan agung itu", ucap Aisyah.


"Seandainya kalian tahu nama orang itu maka akan mudah aku mencari tahu dari alat-alat canggihku", kata Aidl.


"Apakah alat-alat modern milikmu mampu bekerja seperti komputer, Aidl ?", tanya Aisyah.


"Iyah, bahkan lebih mutakhir lagi dibanding komputer yang hanya bisa menyala hidup dan mati saja", sahut Aidl.


"Tetapi alat itu tidak berfungsi baik di masa ini karena kamu tidak mempunyai informasi yang berkaitan dengan yang kamu cari", ucap Bilqis.


"Ehem... Ehem...", Aidl langsung berdehem keras. "Apakah kamu bangsa manusia atau bukan, Bilqis ?", sambungnya dengan mata terpejam.


"Bilqis, informasi seperti nama sangat penting dan akan memudahkan pencarian informasi mengenai orang-orang yang sedang kita cari, alat milik Aidl berfungsi apabila ada satu ciri khas seperti nama atau hal yang berhubungan dengan orang yang kita cari misal nama", sahut Aisyah.


"Oh iya !? Tapi bukankah kita perlu untuk membawa alat-alat itu sedangkan dia tidak membawanya, bagaimana akan mencari informasi itu !?", lanjut Bilqis.


Aisyah hanya berdehem pelan tanpa berani lagi menjawab perkataan Bilqis karena dia khawatir jika memperpanjang pembicaraan diantara mereka akan memperuncing masalah dengan Aidl.

__ADS_1


__ADS_2