Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Waktu Berhenti...


__ADS_3


Sebuah awan putih terbang melayang dan diatasnya terbaring Aisyah dengan ekspresi wajah sangat bahagia.


"Hmm..., disini sangat damai bukan wahai jam antik kuno !?", kata Aisyah seraya tersenyum.


"Iya nona Aisyah, apa nona ingin tinggal disini ?", kata jam antik kuno.


"Ha...Ha...Ha..., kamu bercanda ?", kata Aisyah lalu menoleh kearah jam antik kuno disamping tidurnya.


"Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini nona Aisyah ! Semua bisa saja terjadi selama kita menginginkannya nona !", kata jam antik kuno.


"Benarkah !?", ucap Aisyah datar.


Jam antik kuno itu hanya terdiam saat melihat kearah Aisyah yang sedang menatap keatas langit.


"Jika didunia ini yang kamu katakan adalah benar maka betapa mudahnya hidup itu bagi kita wahai jam antik kuno", ucap Aisyah menyunggingkan senyum tipis.


"Benar nona Aisyah", kata jam antik kuno.


"Sayangnya apa yang kita harapkan belum tentu terwujud sesuai keinginan kita", kata Aisyah sambil menerawang jauh.


"Tapi hamba bisa mewujudkan keinginan nona Aisyah !", ucap jam antik kuno.


"Oh Iya ? Apakah itu ?", kata Aisyah lalu beranjak dari tempatnya berbaring.


"Iya, seperti membangun sebuah istana diatas langit ini !", ucap jam antik kuno bersemangat.


"Oho...ho...ho...ho...!!! Benarkah itu ??", ucap Aisyah.


"Lihatlah nona Aisyah ! Anda akan sangat menyukainya !", ucap jam antik kuno sambil berseru.


"Baiklah ! Baiklah ! Coba kamu tunjukkan padaku !", kata Aisyah seraya mengusap-usap kedua telapak tangannya dengan tidak sabaran.


"KAMU ADALAH TUANKU DAN AKU ADALAH PELAYAN SETIAMU, JAM, JAM ANTIK BERPUTARLAH !!!", seru jam antik kuno.


Aisyah membelalakkan kedua matanya saat kumpulan awan putih disekitarnya melayang terbang diatas langit membentuk gulungan awan-awan putih yang berputar.


"Wouw !!! Ini sungguh menakjubkan sekali !", kata Aisyah berseru kagum.


Gadis bernama Aisyah itu hanya duduk termangu melihat kearah pemandangan awan putih yang ada didepannya tersebut, awan-awan itu berkumpul menjadi satu lalu menggulung dan berputar-putar semakin lama semakin cepat kemudian berpencar membentuk sebuah bangunan besar.


"BHALAZAAM !!!", seru jam antik kuno kemudian.


"Ya Tuhaan !!! Apakah ini wahai jam antik kuno ?", kata Aisyah kaget.


"Sebuah istana awan nona Aisyah !", ucap jam antik kuno.


"Hah ? Apa ?", kata Aisyah terkejut.

__ADS_1


"Lihatlah hamba telah mewujudkan keinginan nona Aisyah", ucap jam antik kuno sambil memberi hormat pada Aisyah.


"Ya Tuhanku ! Kamu sungguh-sungguh melakukannya untukku ? Oh, terimakasih sekali wahai jam antik kuno atas hadiahnya !", kata Aisyah terharu.


"Bukankah hamba telah mengatakannya bahwa hamba akan mewujudkan harapan serta keinginan nona Aisyah", ucap jam antik kuno.


"Iya, iya aku mengerti wahai jam antik kuno dan aku ucapkan banyak terimakasih atas kemurahan hatimu ini padaku", kata Aisyah seraya tersenyum.


"Mari kita masuk kedalam istana awan putih itu nona Aisyah, hamba membuatnya khusus untuk nona Aisyah !", kata jam antik kuno.


"Baiklah wahai jam antik kuno, mari kita masuk kedalam istana awan putih itu", kata Aisyah lalu membawa jam antik kuno yang ia kalungkan dilehernya terbang melayang diudara menuju istana awan putih didepannya.


Istana awan putih yang melayang dilangit itu sungguh sangat indah sekali dan cantik bahkan setiap orang yang masuk kedalam istana terasa damai serta bahagia selalu. Seluruh istana awan putih terbuat semuanya dari awan putih yang lembut saat tangan menyentuhnya maka akan merasa senang dan timbul ketenangan spiritual yang sangat tinggi.


Aisyah menjejakkan kedua kakinya diatas lantai istana awan putih yang seluruh permukaannya tertutup oleh lapisan awan putih yang melayang ringan dan nyaris tidak memiliki dasar.


Dalam hati kecilnya Aisyah bergumam, "Aku merasakan surga semakin dekat padaku dan hanya merasa takdirku berubah menjadi sebuah awal kematianku tapi aku tidak takut jika harus menghadang kematian untuk semua orang meski nyawa taruhanku !"


Saat Aisyah melangkahkan kedua kakinya didalam istana ini, ia merasakan waktu tiba-tiba berhenti berputar dan seluruh awan disekitar Aisyah berhenti bergerak serta hembusan angin yang bertiup tak lagi ia rasakan disekelilingnya dan hanya dirinya yang masih bisa menggerakkan tubuhnya dengan bebas.


Aisyah menoleh kearah sekeliling istana awan putih yang keseluruhan bangunannya didalamnya terbuat dari awan putih dan didalam ruangan istana ini ia tidak menemukan satupun perabot atau hiasan-hiasan lainnya hanya awan putih yang melayang ringan diseluruh ruangan istana awan putih ini.


"Jam antik kuno ini juga jarum jamnya berhenti berdetak, itu artinya waktu benar-benar berhenti berputar diseluruh belahan dunia ini !", kata Aisyah seraya menatap lurus kearah tangannya yang menggenggam erat jam antik kuno.


Aisyah berjalan ringan didalam ruangan istana awan putih ini yang tampak sunyi senyap, ia menyentuhkan kedua tangannya keatas awan-awan putih yang lembut dan ketika tangannya berada diatas awan putih yang melayang-layang itu tangan Aisyah tembus kedalam awan putih itu.


"Hai..., ternyata tanganku bisa tembus kedalam awan putih ini !?", kata Aisyah bergumam pelan. "Hmm..., lembut sekali !"


Pintu-pintu itu juga terbuat dari awan putih yang melayang tidak berpijak didasar lantai istana awan putih.


"Mmm...!? Bagaimana cara menuju kedalam ruangan kamar itu ? Semuanya tertutup rapat ?", kata Aisyah lalu berdiri tepat didepan pintu kamar-kamar yang terbuat dari awan yang serba putih.


Tiada petunjuk bagaimana cara membuka pintu kamar-kamar yang terbuat dari awan putih itu hanya terdapat sebuah meja terbuat dari awan yang berdiri tegak ditengah-tengah ruangan dan diatasnya terdapat sebuah papan tipis putih.


Aisyah berjalan mendekat kearah meja ditengah-tengah ruangan istana awan putih itu. Ia melihat papan tipis dari awan putih itu tidak terdapat apa-apa dipermukaannya, bersih serta polos.


"Apakah ini ? Kenapa tidak ada sesuatu apapun diatas papan tipis putih ini ?", kata Aisyah bingung sambil menoleh kearah samping kanan dan kiri.


Papan putih tipis itu hanya selembar papan awan tanpa tombol atau alat petunjuk lainnya dipapan itu. Hanya saja papan itu tampak unik karena melayang pelan diatas meja terbuat dari awan putih tanpa berpindah-pindah tempat sama sekali.


"Lalu bagaimana cara membuka pintu kamar-kamar yang ada didepan itu ?", kata Aisyah seraya menatap lurus kedepan. "Aneh sekali !"


Tanpa sengaja Aisyah menyentuh papan awan putih itu dan tiba-tiba papan itu mengeluarkan cahaya terang yang menyilaukan mata dan membuat Aisyah mengalihkan pandangannya kearah lain.


"CTAAARRRR !!!", suara cahaya itu terdengar keras memancar keseluruh penjuru ruangan istana awan putih.


Muncul tombol-tombol kecil diatas papan awan putih itu yang bermacam-macam dengan nomer yang tertera diatasnya. Aisyah tercengang ketika melihat papan tipis dari awan putih itu berubah dengan sendirinya secara ajaib.


Sebuah suara datang menggema diruangan istana awan putih ini lalu muncul sebuah layar berukuran besar dihadapan Aisyah yang tengah berdiri tegak seraya mengepakkan kedua sayapnya yang berwarna pelangi indah pelan.

__ADS_1


"SELAMAT DATANG DI ISTANA AWAN PUTIH ! SILAHKAN MENANYAKAN SEBUAH PERTANYAAN !", suara dari layar besar itu berbicara keras.


"Astaga ??? Apa ini ??? Tidak cukupkah hanya jam antik kuno saja yang ajaib ???", kata Aisyah terperanjat kaget.


Kedua mata Aisyah menjadi perih karena memandangi layar besar yang bercahaya terang benderang serta menyilaukan kedua matanya itu, ia mengusap-usap lembut kedua matanya dengan tangannya lalu kembali menatap lurus kearah layar besar dari awan putih itu.


Aisyah melontarkan sebuah pertanyaan kepada layar yang ada didepannya itu lalu berkata, "Apa yang ada didalam kamar itu ?"


Suara dari layar besar itu lalu menjawab pertanyaan Aisyah, "SEBUAH RAHASIA BESAR !"


"Tidak bisakah berteka-teki padaku ? Aku cukup lelah untuk menebak teka-teki itu !", kata Aisyah malas.


"JAWABAN DAPAT DITERIMA ! SILAHKAN PILIH SALAH SATU PINTU KAMAR !", sahut suara dari dalam layar.


"Ya Allah !? Kenapa jadi seperti ini jawabannya ?", kata Aisyah terbengong.


"SILAHKAN MEMILIH SALAH SATU PINTU KAMAR YANG ANDA SUKAI !", ucap suara dari layar besar itu menggema diseluruh istana awan putih ini.


"Aih ! Apakah sistem ini sedang rusak ?", kata Aisyah.


"SILAHKAN MEMILIH SALAH SATU PINTU KAMAR YANG ANDA SUKAI !!!", terdengar suara dari dalam layar besar itu berulang kembali.


"Baiklah ! Baiklah ! Aku pilih pintu kamar yang tengah !!!", ucap Aisyah berseru lantang.


"TEKAN TOMBOL WARNA MERAH DIATAS PAPAN AWAN !", perintah suara dari layar besar itu pada Aisyah.


Aisyah hanya menggelengkan kepalanya cepat tanda ia kerepotan dengan perintah layar besar dari awan putih itu. Lalu bergumam pelan, "Aduh ! Rumit sekali ? Tidak bisakah langsung membuka pintu itu ?"


Tiba-tiba cahaya petir menyambar kearah Aisyah cepat dan membuat ia tersentak kaget dan tersetrum pelan. Ia terpekik keras karena rasa sakit pada tubuhnya akibat tersambar cahaya petir, aliran listrik terasa menjalar diseluruh tubuh Aisyah dan rasanya seperti ia sedang disengat semut.


"A--A--a--pa i--n--i ????", kata Aisyah sambil gemetaran hebat.


"TEKAN TOMBOL WARNA MERAH DIATAS PAPAN AWAN !!!", kata suara dari layar besar itu lagi.


"Iya, iya ! Aku akan menekankannya kalau bisa aku memukulnya dan melemparkannya kearahmu !", kata Aisyah sewot.


Cahaya petir sekali lagi menyambar tubuh Aisyah dan membuat gadis itu terkejut seraya berteriak kencang menahan rasa panas akibat cahaya petir ditubuhnya.


"Tidak bisakah kamu bersikap sopan tanpa mengambarkan petir kearahku ?", teriak Aisyah marah.


"CTARRR...!!! CTAAARRRR...!!! CTAAARRRRR....!!!", petir itu semakin hebat menyerang kearah Aisyah dengan sangat cepat seperti kilat dan memaksa Aisyah untuk berkelit menghindar.


"Aduh ! Aduh ! Aduh ! Layar besar itu sengaja melakukannya dan memang hendak menghajarku !", kata Aisyah lalu berjongkok dibawah meja awan putih itu sambil memegangi kepalanya dengan menundukkan kepalanya kearah bawah.


"TEKAN TOMBOL WARNA MERAH DIATAS PAPAN AWAN ! SESUAI PETUNJUK DAN PERINTAH !", suara layar besar itu garang.


"Iyaaa...! Iyaaaa...!!! Aku akan memencet tombol warna meraaaahhhh !!!", kata Aisyah berteriak keras lalu menekan tombol warna merah yang ada diatas papan awan putih itu dengan cepat.


Aisyah kemudian kembali berjongkok dan bersembunyi dibawah meja awan putih itu setelah menekan tombol tersebut sambil menundukkan kepalanya. Ia takut jika sewaktu-waktu cahaya petir itu kembali menyambarnya keras. Lama ia tidak mendengar lagi suara dari layar besar yang berada diatas meja awan putih itu bersuara lantang.

__ADS_1


Pelan-pelan Aisyah mengintip dari balik meja awan putih didepannya dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat sebuah kunci antik kuno terbuat dari awan putih itu muncul dihadapannya serta terbang melayang diudara dan berputar-putar.


Aisyah hanya menatap kunci antik kuno terbuat dari awan putih itu tanpa berkedip sedikitpun dengan ekspresi wajah sedikit terkejut karena kaget melihat semua yang terjadi secara ajaib dan tiba-tiba didepan kedua matanya.


__ADS_2