
Aisyah bergerak cepat melambung tinggi menghindari ketiga angin topan yang menuju ke arahnya.
Ketiga angin topan itu terus mengejarnya hingga ke atas dan menggulung kencang membentuk pusaran angin keras.
"Berubahlah wahai cermin ajaib ! Membesarlah !", teriak Aisyah.
"Baik Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
Tepat saat cermin kristal ajaib membesar badannya, Aisyah segera melompat ke arah badan cermin ajaib dengan kedua kaki berjinjit.
Cermin kristal ajaib itu langsung melesat cepat menjauh dari kejaran tiga pusaran angin topan yang terus-menerus membututi mereka.
"Tiga angin topan itu mengejar kita, wahai cermin ajaib !", teriak Aisyah dengan pedang awan putih di tangannya.
"Hamba melihatnya, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang ? Haruskah kita terus menghindarinya", tanya Aisyah.
"Hamba sarankan anda segera mencari tahu pada sistem itu, mungkin saja kita akan mendapatkan jawaban yang tepat", jawab cermin ajaib.
"Bertanya pada sistem...", ucap Aisyah.
"Benar, bukankah ini adalah hasil rekayasa sistem istana awan putih untuk menguji anda di kelima pintu istana", ucap cermin ajaib.
"Itu benar tetapi jin bukanlah bagian dari sistem karena jin merupakan makhluk ciptaan Allah seperti manusia dan malaikat serta setan", kata Aisyah.
"Bisa saja bangsa jin memasuki zona sistem untuk mengacak sistem seolah mereka tercipta dari sistem", ucap cermin ajaib
"Mungkinkah itu terjadi..., tetapi melihat dari wujud bangsa jin yang dapat berubah-ubah sesuai tempatnya, hal itu mungkin saja jin meretas jaringan sistem", kata Aisyah.
"Kalau begitu, cobalah anda melakukannya, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Maksudmu bertanya pada sistem ?", tanya Aisyah.
"Benar sekali, mungkin saja kita dapat menemukan petunjuknya pada sistem", saran cermin ajaib.
"Aku mengerti, dan aku akan mencobanya", kata Aisyah.
"Baik, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
Aisyah melihat hamparan padang pasir emas yang terbentang luas tanpa ujung dihadapannya sedangkan cermin ajaib terus bergerak cepat diantara pasir emas itu.
Tidak ada tanda ketiga pusaran angin topan dibelakang Aisyah akan berhenti, karena dia melihat tiga pusaran angin itu terus mengejarnya.
Antara bingung dan cemas, Aisyah mencoba mengeluarkan benda dari dalam saku zirahnya tetapi tiba-tiba dari arah belakang, salah satu pusaran angin topan itu bergerak keatas dan menyerang Aisyah.
WUSH...
"Angin topan itu bergerak ke arah kita dan dia berubah !", teriak Aisyah.
Muncul dari pusaran angin topan sesosok makhluk berbadan besar yang tubuhnya sebagian atasnya menyerupai manusia sedangkan bagian bawahnya dari pusaran angin topan.
Makhluk itu membawa senjata berupa tombak yang mengarah ke Aisyah cepat.
KLANG... KLANG... KLANG...
Suara kedua senjata saling beradu keras menimbulkan percikan api yang berkilat serta sangat menyilaukan mata.
"Pakai batu membacanya, Nona Aisyah !", teriak cermin ajaib dari bawah kaki Aisyah.
"Aku tidak dapat mengambilnya karena harus menahan serangan tombak ini", kata Aisyah.
"Anda tinggal katakan 'Batu Membaca Muncullah' maka benda itu akan muncul dengan sendirinya, karena sifat benda itu mirip dengan hamba, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
KLANG... KLANG... KLANG...
Terdengar lagi suara senjata dari Aisyah dan jin pusaran angin topan ketika keduanya saling bertempur hebat.
Aisyah menangkis serangan tombak jin yang bergerak ke arahnya dengan pedang awan putihnya sangat cepatnya.
__ADS_1
KLANG... KLANG... KLANG...
Suara pedang kembali terdengar saling bersentuhan sehingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Bahkan sangat nyaring sekali hingga mampu merusak gendang telinga.
"Batu Membaca Muncullah !", teriak Aisyah lantang.
Sebuah benda berbentuk mirip kacamata tetapi hanya terbuat dari lensa yang seperti batu muncul tepat di depan kedua mata Aisyah.
Batu membaca itulah sebutannya langsung berada tepat di kedua mata Aisyah dan fungsinya seperti kacamata untuk melindungi mata Aisyah dari kilauan cahaya yang bersinar dari arah pedang awan putih ketika beradu dengan tombak.
"Aku tidak ingin menggunakan kekuatanku melawan bangsaku sendiri, Nona Aisyah tetapi jalan suci harus ditegakkan kebenarannya..."
Terdengar suara dari pedang awan putih yang tengah beradu dengan jin pusaran angin topan.
"Apa maksud dari ucapanmu dan siapakah kamu ?", tanya Aisyah yang terus mengarahkan pedang awan putihnya.
Aisyah berdiri dengan posisi badan tegak serta kedua kaki yang terbuka untuk menahan serangan demi serangan tombak milik jin angin topan.
"Apakah kamu Badar !?", tanya Aisyah.
"Benar, aku adalah Badar penjaga pintu kelima dan aku juga penjaga pedang awan putih yang ada di tanganmu", sahut suara itu.
"Kenapa kamu membantuku dan untuk apa kamu menjadi sebuah pedang awan putih ?", tanya Aisyah.
"Tugasku adalah penjaga pintu kelima dan wujudku mampu berubah , aku juga penjaga pedang awan putih", ucap suara yang menyebutnya Badar.
"Itu artinya kamu bukan pedang melainkan jin penjaga pedang awan putih ini lalu kenapa kamu tidak keluar dari badan pedang ini", kata Aisyah.
Aisyah memperhatikan bentuk pedang awan putih di tangannya. Dan mengarahkan pedang awan putih itu tepat di depan wajahnya dengan tatapan tajamnya.
"Keluarlah Badar ! Jangan bersembunyi di tubuh pedang ini, kamu bukanlah pedang dan aku membebaskanmu dari pedang awan putih ini dan tunduklah pada kuasa Allah SWT !", perintah Aisyah.
Aisyah tetap menjaga kewaspadaannya dari serangan jin angin topan yang terus mengejarnya, cermin kristal ajaib berhasil menghindari serangan jin angin topan dengan melesat kencang lurus ke depan.
"Aku adalah penjaga pedang awan putih ini dan tidak mungkin aku akan meninggalkan kewajibanku",
Terdengar kembali suara dari pedang awan putih yang berada di depan Aisyah.
"Kalau begitu, kita segera pergi kesana dan kita lihat tempat apakah itu, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Pergi ke istana emas itu !? Bukankah sama saja kita masuk ke dalam perangkap lagi, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Masuk perangkap kedua kalinya bukan hal yang salah tanpa kita mencobanya, karena kita akan tahu tempat apakah itu yang sebenarnya", kata Aisyah.
"Baiklah Nona Aisyah", sahut cermin ajaib.
Cermin terbang melayang cepat tanpa terkendali sehingga ketiga pusaran angin topan itu tidak mampu mengejar mereka. Dan tertinggal di belakang dan masih bergerak ke arah cermin ajaib serta Aisyah yang berada di atas cermin ajaib.
Tanpa diduga ketiga pusaran angin topan yang merupakan bangsa jin itu bergerak seperti susunan yang tinggi ke atas dan angin topan itu menyatu membentuk raksasa angin topan.
Aisyah menolehkan kepalanya ke arah belakang dan dia melihat monster angin topan yang sangat besar dan tinggi sekali.
"Apa itu !?", tanya Aisyah seraya terbelalak kaget.
"Ada apa, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.
"Aku melihat ketiga angin topan itu menjadi satu membentuk pusaran yang lebih besar dan mirip monster raksasa", sahut Aisyah.
"Hamba rasa, kita tidak mungkin menghindar lagi dan untuk menuju ke istana emas itu kita tidak punya cukup waktu karena jarak istana itu sangatlah jauh dari sini, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Lalu bagaimana kita menghadapinya, wahai cermin ajaib !?", tanya Aisyah.
"Kita hadapi saja monster raksasa jin itu, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib.
"Baiklah, kalau itu cara terbaik. Mari kita selesaikan segera ini semua secepatnya, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Baik, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib.
"Aku perintahkan kepadamu wahai cermin ajaib berputarlah !", ucap Aisyah.
__ADS_1
Cermin kristal ajaib yang tadinya bergerak terus maju ke depan lalu berputar cepat dan berhenti tepat di tengah-tengah padang pasir emas yang luas serta menyilaukan.
"Turunkan aku !", pinta Aisyah.
"Hamba mendengar perintah anda, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
Cermin ajaib itu bergerak rendah sehingga memudahkan Aisyah untuk turun dari badan cermin ajaib.
Aisyah berdiri dengan gagah berani mengahadang monster jin raksasa yang menyerupai angin topan.
Sebelah tangannya menggenggam pedang awan putih yang bersinar terang benderang serta menyilaukan.
"Saa aku mengenakan jubah zirahku untuk berperang... Disitulah hatiku telah berangkat terlebih dahulu ke medan pertempuran menanti ajal yang telah ditulis oleh Tuhanku...", ucap Aisyah lantang.
Aisyah mengarahkan pedang awan putih miliknya tepat ke depan wajahnya dengan tatapan tajam serta semangat yang membara.
"Tidak ada ketakutan di dalam hatiku untuk bertempur", kata Aisyah. "Apakah kamu siap berperang bersama denganku wahai cermin ajaib ?"
"Hamba siap selalu berdiri disamping anda tanpa keraguan sedikitpun, Nona Aisyah !", sahut cermin ajaib.
Terlihat cermin ajaib berdiri tegak di atas padang pasir emas dengan kaca cerminnya tepat menghadap monster jin raksasa angin topan.
"Berperanglah bersama denganku sebagai jalan ke syahidan yang abadi, wahai sahabatku cermin ajaib !", teriak Aisyah.
"Sumpahku untuk selalu melindungimu, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib lantang.
"Tuhan Maha Besar ! Allahu Akbar ! Syahid adalah jalan suciku !", teriak Aisyah lantang.
Aisyah lalu bergerak cepat dan melesat menuju pusaran angin topan yang merupakan bangsa jin.
Terdengar kembali suara bunyi pedang yang saling beradu keras sehingga mampu menerbangkan hamparan pasir emas yang ada disekitarnya.
Kembali cahaya terang yang sangat menyilaukan mata keluar dari badan pedang awan putih yang menghunus badan pusaran monster jin raksasa angin topan.
Pedang awan putih menembus pusaran angin topan itu dan mengenainya tetapi tidak mampu melumpuhkan monster jin raksasa angin topan karena badan jin itu dapat berubah menjadi angin topan yang tidak dapat ditembus.
Aisyah terus mengarahkan pedangnya ke arah monster jin raksasa angin topan sehingga menimbulkan percikan api yang ada disekitar mereka sedangkan cermin ajaib mengarahkan sinarnya yang berwarna-warni ke monster jin rakasasa itu.
Mereka bekerjasama saling tolong menolong untuk mengalahkan monster jin raksasa yang sangat kuat.
Berulangkali Aisyah mengayunkan pedangnya tetapi dapat dipatahkan oleh monster jin raksasa. Begitu pula serangan sinar milik cermin ajaib mampu ditepis oleh monster jin raksasa itu.
Tiba-tiba monster jin raksasa angin topan berputar-putar membentuk pusaran angin topan yang sangat besar. Dan mampu menghempaskan tubuh Aisyah jauh dan jatuh ke hamparan padang pasir emas hingga berdebum keras.
Cermin ajaib ikut terpental jauh dan jatuh ke bawah, timbul retakan di badan cermin kristal ajaib sehingga cermin itu pecah berkeping-keping saat mendarat di atas pasir emas.
"TIDAAAK !!!!", teriak Aisyah.
Aisyah beranjak berdiri tetapi dia terjatuh kembali ke atas hamparan pasir emas dan bangkit lagi berlari menuju cermin ajaib.
"Wahai cermin ajaib kesayanganku... Bangunlah sahabatku, jalan kita masih panjang", ucap Aisyah menitikkan air matanya.
Namun, cermin kristal ajaib tidak menjawab ucapan Aisyah. Badan cermin kristal ajaib itu telah hancur berkeping-keping saat jatuh ke hamparan pasir emas yang keras.
Aisyah tidak mampu menahan kesedihannya karena dia harus kehilangan salah satu sahabat terbaiknya yang selalu menemaninya dan menolongnya dalam keadaan apapun selama perjalanannya di pintu keempat dan di istana awan putih.
"Wahai cermin ajaib ! Jika kamu tiada maka tidak ada lagi Aisyah... Maafkanlah aku, wahai cermin ajaib...", ratap Aisyah bersedih.
Gadis muda itu menangis sembari mendekap badan cermin ajaib yang telah berubah kecil ke wujud asalnya dan telah rusak karena kaca kristal cermin itu pecah.
Cermin kristal ajaib telah pergi dan tiada, dia tidak mati karena dia adalah benda ajaib dari dunia para jin yang memiliki kelebihan yang unik dan dia bukanlah bangsa jin karena dia benda yang ajaib kesayangan Aisyah.
Bayangan cermin kristal ajaib datang silih berganti di benak Aisyah, canda tawanya, kelucuannya, keajaibannya serta tingkah laku cermin ajaib memenuhi kepala Aisyah dan semakin menambah kesedihan gadis itu.
Aisyah berteriak kencang memanggil cermin ajaib yang telah pergi darinya. Dan menangis pilu di atas hamparan pasir emas yang luas berkilauan.
"TIDAAAK... !!!", teriak Aisyah dengan beruraian air mata. "TIDAAAK... !!!"
Jangan pernah mematik kemarahan seorang petarung sejati yang memilih 'SYAHID' menjadi pilihan jalan kematiannya dan perang adalah jalan hidupnya karena tujuan terakhirnya adalah mati Syahid.
__ADS_1
Wallahualam...
"Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali"