Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Aku Mampu Menaklukkannya...


__ADS_3

Aisyah terus berenang menyelam didasar danau merah yang sangat tenang ini dan berusaha membuat ikan laga raksasa itu teralihkan dari lingkaran cahaya terang yang Aisyah yang merupakan jalan keluar dari dalam danau merah.


Ikan Laga raksasa atau yang disebut ikan adu siam atau ikan petarung itu bergerak cepat kearah Aisyah yang terus berenang menjauhinya. Ikan Laga raksasa ini sepertinya ikan laga adu dan ikan jenis ini memang terkenal sangat agresif. Tidak lamban dan anggun seperti laga hias. Ketika melihat musuh, sirip-siripnya mengembang penuh. Ini menandakan mental yang bagus untuk bertarung. Bibir tampak tebal dan kokoh. Mulutnya terkatup rapat tidak menganga. Bila dilihat dari atas, pada bibir bagian bawah terdapat bintik-bintik mencirikan gigi yang runcing dan giginya itu mampu merobek benda yang digigitnya.


Aisyah bergerak cepat kearah lingkaran cahaya terang yang memancarkan sinar cerah yang ada didepannya dan berusaha mencapainya, akan tetapi ikan laga raksasa itu mampu mengejar Aisyah dan mulai menyerangnya secara cepat.


"Ikan Laga raksasa itu menyerang kearahku !? Apakah ikan itu menganggap jika aku adalah musuhnya ?", kata Aisyah terkejut lalu menghindari ikan laga itu yang bergerak cepat kearah dirinya.


Ikan Laga raksasa itu tampak bergerak semakin cepat menuju kearah Aisyah dan semakin intens menyerang secara agresif. Aisyah tidak mengerti mengapa ikan laga itu menganggap dirinya adalah musuhnya karena Aisyah merasa jika tidak pernah mengganggu ikan laga itu didanau merah ini.


Aisyah lalu berenang mengelilingi ikan laga raksasa itu agar teralihkan perhatiannya dari lingkaran cahaya terang yang merupakan jalan keluar dari dalam danau merah menuju kembali pulang kemasa depan.


"Ikan itu tampak agak kebingungan karena aku mengecohnya untuk menjauh dari lingkaran cahaya terang itu", kata Aisyah lalu mencoba mendekat kearah lingkaran cahaya terang yang ada didepannya itu.


"BYUUURRRR ! BYUUUURR !", terdengar suara keras dari Ikan Laga raksasa itu yang bergerak cepat serta menimbulkan suara keras saat ikan laga itu mengejar Aisyah.


"Ikan Laga raksasa itu benar-benar tidak memberiku kesempatan untuk lari dari danau merah ini !? Lalu kenapa ikan itu sangat memburuku ?", kata Aisyah penasaran.


Aisyah tampak berenang melayang didalam danau merah dengan ekspresi wajah serius saat ia melihat kearah Ikan Laga raksasa itu yang mulai bergerak cepat kearah dirinya. Ia lalu teringat akan ucapan dari sistem kabut kepadanya saat berada didalam topi merah menyala yang besar dan lebar itu bahwa semua yang terjadi didalam ruangan pintu ketiga ini merupakan sebuah ciptaan dari daya pikiran Aisyah.


"Sebaiknya aku segera berkonsentrasi untuk mengendalikan Ikan Laga raksasa itu dari pikiranku", kata Aisyah lalu mulai berkonsentrasi penuh. "Bagaimanapun juga ikan laga raksasa itu adalah sebuah hasil dari daya pikiran yang aku ciptakan tanpa sengaja."


Aisyah berdiri melayang didalam danau merah dengan ekspresi wajah sangat serius dan terlihat berkonsentrasi penuh.


Kedua mata Aisyah berwarna putih tanpa pupil hitam itu bersinar mengeluarkan cahaya yang bersinar terang menerangi seluruh danau merah yang pekat ini.


Ikan Laga raksasa itu tampak sedikit memperlambat gerakannya yang agresif kearah Aisyah dan saat melihat kedua mata Aisyah berwarna putih tanpa pupil hitam itu bersinar terang, ikan laga itu memutar badannya berputar-putar mengelilingi Aisyah. Ikan Laga raksasa itu tampak tidak terlihat lagi berusaha menyerang Aisyah lagi melainkan hanya berenang pelan disekitar Aisyah.

__ADS_1


Aisyah lalu mengalihkan pandangannya kearah ikan laga raksasa itu lalu tersenyum lembut, ia tahu jika ikan laga raksasa itu mulai jinak. Ia sengaja mengirim transmisi pikiran kepada otak ikan laga raksasa itu untuk mencoba berkomunikasi dengannya karena ia tahu jika ikan laga raksasa itu tidak mengerti dengan bahasa manusia serta apa tujuan Aisyah didanau merah ini sebab itu Aisyah mencoba berkomunikasi dengannya dengan cara telepati.


"Hmm, rupanya ikan laga raksasa itu mengerti dengan apa yang aku pikirkan dan mungkin ia bisa memahami bahasa yang aku ucapkan", kata Aisyah lalu berenang mendekat kearah ikan laga raksasa itu dan mencoba berkomunikasi dengannya dari hati kehati.


Ikan Laga raksasa itu tampak terdiam saat Aisyah menghampiri dirinya dan mengusap kepalanya yang sangat besar sekali.


"Apa kamu mengerti yang aku ucapkan ikan laga ?", kata Aisyah seraya menyunggingkan senyumannya.


Ikan Laga raksasa itu tampak mengerti dan hanya menggoyangkan ekornya sebagai tanda seakan ikan itu memberi jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh Aisyah.


Aisyah memandangi seluruh tubuh ikan laga raksasa itu yang berwarna merah tua yang sangat cantik, ekornya yang mekar bagaikan kipas terlihat indah sekali saat mengambang didalam air danau merah yang sangat tenang ini. Ekor serta siripnya bergerak-gerak lembut serta menari melambai-lambai tenang. Dan kedua mata ikan laga berwarna hitam itu menambah kesan misterius dari ikan laga yang memang keberadaannya didalam danau merah ini penuh misteri.


Tampak siluet dari ikan laga atau ikan adu siam didalam air bagaikan sebuah lukisan hidup dengan latar belakang panorama didalam danau merah yang dingin dan gelap.


"Apakah kamu tidak ingin aku pergi darimu ?", kata Aisyah pada ikan laga raksasa itu.


Nampak ikan laga raksasa berwarna merah tua itu melebarkan ekornya seperti kipas yang mengayun gemulai didalam air danau merah. Ia seperti menjawab perkataan dari Aisyah.


Ikan Laga raksasa berwarna merah tua terlihat menggerakkan siripnya agak cepat dan tampak tidak senang mendengar ucapan Aisyah.


Aisyah mengerti ketika melihat sikap yang ditunjukkan oleh ikan laga raksasa itu bahwa ikan tersebut tidak mengijjnkan dirinya untuk pergi meninggalkan dirinya didanau merah ini.


"Tenanglah kawan, aku akan selalu mengingatmu meski aku tidak tinggal ditempat ini lagi", ucap Aisyah. "Seandainya saja kamu bisa ikut bersama denganku kerumahku dimasa depan pasti akan sangat menyenangkan tapi sayangnya itu tidak mungkin !?"


Aisyah lalu beranjak dari tempatnya kemudian bergerak menjauh berenang dari ikan laga raksasa itu dan pergi menuju kearah lingkaran putih bercahaya terang untuk keluar dari dalam danau merah.


Tampak ikan laga raksasa itu berenang mengikuti Aisyah dari belakang pelan-pelan.

__ADS_1


"Haiii ! Jangan mengikutiku ikan laga raksasa ! Aku harus segera pergi dari tempat ini dan kembali pulang ! Aku harus segera menolong jam antik kuno itu untuk kembali kewujud asalnya", kata Aisyah menolehkan kepalanya kearah ikan laga raksasa berwarna merah tua itu.


Ikan Laga raksasa itu terdiam memandang Aisyah dengan sorot mata tajam yang berwarna hitam. Ikan Laga raksasa itu tampak tidak menginginkan jika Aisyah pergi dari tempat ini.


"Aku harus pergi kawanku ! Aku tidak mungkin membawamu ikut serta bersama denganku, kamu adalah hasil imajinasiku karena jika aku kembali maka kamu akan menghilang jadi tetaplah tinggal didalam danau merah ini didalam foto milikku", kata Aisyah sendu menatap ikan laga raksasa berwarna merah tua. "Karena jika kamu tinggal didalam danau merah ini kamu tidak akan hilang ! Jagalah danau merah ini selama aku pergi !"


Aisyah lalu berenang mendekat kearah ikan laga raksasa berwarna merah tua itu kemudian memeluknya erat. Ia melihat dengan wajah sendu dan tampak jelas kesedihan diraut wajah Aisyah saat hendak berpisah dari ikan laga raksasa berwarna merah tua itu.


"Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik disini, jangan bersedih kawanku !", kata Aisyah bergumam lalu berenang melesat cepat menuju kearah lingkaran putih bercahaya terang dan masuk kedalamnya lalu menghilang bersamaaan lenyapnya lingkaran putih bercahaya terang dengan dirinya.


Suasana hening didalam ruang pintu ketiga, tatkala Aisyah kembali dari perjalanan waktunya kemasa lima tahun yang lalu dan kini ia duduk bersimpuh diatas lantai ruangan tersebut termenung sejenak lalu ia segera berdiri tegap seraya melangkahkan kedua kakinya cepat menuju kearah pintu keluar ruangan dan bergegas membuka pintu ketiga.


Aisyah berhasil keluar dari dalam ruang pintu ketiga dan kembali pulang kewaktu lima tahun kedepan tetapi ia masih tetap berada didalam istana awan putih ini.


"Aku sudah kembali keistana awan putih ini setelah melewati perjalanan waktu kemasa lima tahun yang lalu", kata Aisyah lalu berjalan pelan sambil memperhatikan istana awan putih ini.


Waktu masih berhenti berputar saat ia kembali pulang dan ia meraih jam antik kuno miliknya dari dalam saku bajunya. Ia masih melihat jika jam antik kuno itu masih tetap diam tak bergerak bahkan jarum jam yang ada didalam badan jam antik kuno itu berhenti berputar.


"Ternyata jam antik kuno itu juga masih tidak bergerak dan ikut berhenti berputar seperti waktu yang ada didalam istana awan putih ini yang berhenti berputar", kata Aisyah. "Aku harus cepat-cepat mengembalikan waktu yang berhenti berputar ini kembali seperti sediakala dengan segera menyelesaikan misi-misi yang diberikan oleh Sistem Kabut istana awan putih ini padaku."


Aisyah memperhatikan kearah pakaian yang ia kenakan saat ini dan betapa terkejutnya ketika dirinya mendapati mengenakan pakaian panjang berwarna merah menyala dengan lapisan kain brokat diseluruh pakaiannya yang tampak mengembang lebar serta tutup kepala yang tertutup rapat oleh kain panjang berwarna merah menyala dengan topi yang menghiasi kepalanya.


"Wow ! Aku ternyata masih mengenakan gaun panjang berlengan brokat panjang dengan lapisan kain didalamnya berwarna merah menyala seperti saat berada ditempat danau merah", kata Aisyah sambil mengangkat rok panjangnya dengan memperlihatkan sepasang sepatu warna merah berhias bunga mekar. "Ini sungguh cantik sekali !?"


Aisyah lalu melepas topinya yang berwarna merah menyala lalu memeriksanya dengan seksama.


"Topi berwarna merah menyala ini sudah tidak robek lagi dan kembali cantik seperti semula", kata Aisyah lalu memakai topi berwarna merah menyala keatas kepalanya lagi. "Ini sungguh sangat ajaib sekali, dan semuanya kembali semula seakan-akan tidak terjadi apapun, aku tidak pernah menyangka jika aku dapat kembali pulang dengan selamat."

__ADS_1


Aisyah kemudian berjalan menghampiri meja terbuat dari awan putih yang ada ditengah-tengah ruangan istana awan putih ini. Ia tidak melihat layar besar itu lagi yang biasanya berbicara padanya.


Istana awan putih ini tampak sunyi dan ia melihat jika bangunan didalam istana awan putih ini kembali tertata rapi seperti sediakala tanpa adanya kerusakan sedikitpun yang terjadi didalam ruangan istana awan putih ini.


__ADS_2