
Perempuan cantik bermahkota emas berbentuk bunga emas itu duduk di atas singgasana emasnya seraya menikmati anggur di tangannya.
Dia hanya memperhatikan Aisyah dari atas singgasananya sambil melirik ke arah gadis muda itu yang tengah duduk di bantalan empuk di depan sebuah meja yang penuh makanan.
"Kenapa kamu tidak memakan hidangan itu ? Apa yang kamu takutkan ?", tanya Bilqis.
"Tidak, tidak ada yang aku takutkan, hanya aku sudah kenyang, sebelum ke istana ini aku telah makan sepotong roti", sahut Aisyah.
"Makanlah, aku tidak menaruh apapun di dalam makanan itu", ucap Bilqis.
"Bolehkah aku bertanya padamu Ratu Bilqis ?", tanya Aisyah.
"Apa itu, katakanlah ?", sahut Bilqis.
"Dimanakah jalan keluar dari istana emas ini, Ratu Bilqis ?", tanya Aisyah.
"Kamu menanyakan jalan keluar atau pintu keluar atau cara keluar dari sini", sahut Bilqis.
"Tidak semuanya, hanya menanyakan dimana jalan keluarnya saja dari istana emas ini", kata Aisyah seraya memperhatikan hidangan yang ada di atas meja.
"Apakah kamu merasa jenuh tinggal bersama denganku di istana emas ini ?", tanya Bilqis.
Tampak perempuan yang menyebut dirinya Ratu Bilqis itu tengah memainkan segelas minuman dari emas di tangannnya.
"Aku tidak jenuh berada di istana emas ini, hanya saja aku ingin bertanya jalan keluarnya, apakah itu memberatkanmu ?", ucap Aisyah.
"Tidak mudah untuk keluar dari istana emas ini karena aku sendiri tidak dapat keluar dari tempat ini hampir seribu tahun lamanya", sahut Bilqis tersenyum.
"Aku maklumi jika itu terjadi padamu tetapi aku benar-benar menyesal itu terjadi padamu, Ratu Bilqis", sahut Aisyah.
"Kenapa kamu ingin segera pergi dari tempat ini dan meninggalkanku seorang diri disini ?", tanya Bilqis.
"Aku tidak ingin meninggalkanmu tetapi jika aku tahu jalan keluar dari istana emas ini maka aku dapat mengajakmu pergi dari tempat ini serta membebaskanmu , Ratu Bilqis", jawab Aisyah.
"Pergi bersama denganmu dari istana emas ini !?", ucap Bilqis.
Perempuan bermahkota emas itu lalu tertawa pelan dari atas singgasana emasnya seraya memandang ke arah Aisyah.
"Kenapa kamu tertawa ?", tanya Aisyah.
Aisyah menatap lurus ke arah Bilqis dengan keheranan serta serius sedangkan perempuan cantik bermahkota hanya terdiam.
"Apakah kamu tidak ingin benar-benar keluar dari tempat ini ?", tanya Aisyah.
"Aku sudah mencobanya nona muda, hampir ribuan kali aku ingin keluar dari istana emas ini untuk kembali ke negeriku tetapi aku tidak pernah dapat keluar dari istana emas ini", sahut Bilqis.
"Dan ini adalah kesempatanmu untuk pergi dari istana emas ini lalu kenapa kamu tampak ragu", ucap Aisyah.
"Hmmm...", gumam Bilqis.
Terlihat Bilqis tengah memainkan kembali gelas emas di tangannya sembari memutarnya pelan.
"Haruskah aku melakukannya... Aku telah berpikir jika ini memang sudah takdirku untuk terperangkap di istana emas ini...selamanya...", ucap Bilqis sambil tersenyum.
"Semudah itukah kamu menyerah, Ratu Bilqis", kata Aisyah.
"Sebagai bangsa jin dari kaum Sheba yang manshyur, aku sudah merelakan hidupku untuk terjebak di istana emas ini akibat penolakanku yang tidak ingin tunduk pada kekuasaan sufi itu", ucap Bilqis.
"Jangan menyerah...", sahut Aisyah.
"Aku tidak pernah berputus asa melainkan harapan itu adalah semu", ucap Bilqis.
"Jika kamu adalah kaum bangsa jin, itu tidaklah mudah untukmu keluar dari istana emas ini, bukankah tempat ini adalah ciptaanmu, Ratu Bilqis", sahut Aisyah.
__ADS_1
"Memang istana ini adalah ciptaanku tetapi aku sendiri terjebak bersama dengan istana emas hasil buatanku ini", ucap Bilqis.
"Ini unik sekali... Bagaimana sufi itu mampu mengurungmu tanpa kamu melawannya ?", tanya Aisyah.
"Kekuatanku terbatas meski aku bangsa jin dan ratu penguasa negeri Sheba yang ghaib tetapi orang suci yang merupakan sufi itu telah mencuri senjataku berupa tongkat dari emas dengan matahari sebagai simbolnya", sahut Bilqis.
"Orang suci itu mencuri senjatamu, karena kamu menolak untuk tunduk pada perintahnya", kata Aisyah.
"Benar...", sahut Bilqis.
"Apa alasannya kamu menolak orang suci, sufi itu ?", tanya Aisyah.
"Dia menyebutkan sebuah karangan seorang sufi besar yang mengatakan bahwa dirinya tidak berasal dari agama manapun dan menyembah apapun... Lalu aku bertanya pada orang suci yang merupakan seorang sufi itu bagaimana bisa kamu mengatakan hal demikian...", ucap Bilqis.
"Apa yang dia katakan pada dalil kesufiannya yang membuatmu mengatakan bahwa ajarannya menyimpang ?", tanya Aisyah.
"Pada dalil ucapannya dia menyebutkan DIWAN-I SYAMS 31 yaitu...
...*Dengarlah, karena aku sendiri tidak diketahui, sekarang atas nama Tuhan apa yang harus aku lakukan......
Aku tidak memuja salib atau bulan sabit, aku bukan seorang Penyembah Berhala ataupun Yahudi.
Tidak dari Eden dan Rizwan aku terjatuh, tidak dari Adam garis keturunanku.
Di sebuah tempat di atas tempat tertinggi, di sebuah jalur tanpa bayangan atau jejak,
Jiwa dan tubuh melanglang, aku hidup dalam jiwa kekasih yang kucintai* !",
Ucap Bilqis dari tempat duduknya di singgasana emas miliknya sambil memutar gelas emas di tangannya berupa cawan kepada Aisyah.
"Kemudian aku bertanya padanya tentang kesufiannya itu, jika kamu tidak berasal dari itu semua dan menyebutkan dirimu sang petualang lalu siapakah Tuhan yang kamu sembah ?", ucap Bilqis.
"Lalu apa jawabannya !?", tanya Aisyah.
"Dia tidak menjawabnya dan hanya terdiam menatapku marah", sahut Bilqis.
"Benar, aku berterus terang padanya bahwa aku adalah penyembah yang taat kepada Allah SWT sang penciptaku, meski aku bangsa dari kaum jin dan terlihat bar-bar tapi aku sangat memuja Alla SWT dan tidak seperti dirimu, ucapku kala itu pada orang suci itu hingga dia murka", ucap Bilqis.
"Itu sebabnya kamu mengatakan ajarannya menyimpang", kata Aisyah.
"Tidak hanya menyimpang melainkan sangat sesat dan itu tidak dibenarkan, bagaimana seorang bisa dikatakan seorang mulla terkenal sedangkan ajarannya berbau kesesatan", ucap Bilqis.
"Bagaimana dia tidak dapat menjawab siapa yang dia sembah tapi dia mengatakan pada buku-buku kesufiannya dia percaya dan taat pada Tuhan !?", kata Aisyah bertanya pada dirinya sendiri.
"Meskipun ghaib merupakan salah satu yang kita yakini dalam ajaran agama tetapi untuk kesesatan kita tidak meyakininya dan bagaimana dia mengatakan dalil seperti itu meski itu sangat mistis tapi aku menolaknya", ucap Ratu Bilqis.
Ada lima perkara ghaib yang hanya Allah Ta'ala sendiri mengetahuinya. Kelima hal ini diterangkan dengan jelas dalam satu ayat Al-Qur'an.
"Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat. Dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal." (QS Luqman Ayat 34)
"Itu benar yang kamu ucapkan Ratu Bilqis, tidaklah dibenarkan bahwa dia menyesatkan pemikiran yang di luar pikiran manusia, akan timbul suatu pertanyaan tersendiri bahkan akan menimbulkan dogma dan ajaran baru yang keluar dari agama", kata Aisyah.
"Aku juga berpendapat seperti itu", ucap Bilqis.
"Sepertinya aku pernah merasakan sesuatu kejadian yang mirip denganmu seperti ini, namun, aku tidak mengingatnya dimana", kata Aisyah.
"Benarkah !?", ucap Bilqis.
Perempuan bermahkota itu lalu melayang turun ke arah Aisyah, dan duduk disampingnya seraya tersenyum.
"Kamu menarik juga dan siapa namamu ?", tanya Bilqis.
"Aisyah...", sahut Aisyah.
__ADS_1
"Nama yang unik sekali dan aku suka namamu itu, Aisyah", kata Bilqis.
Perempuan cantik bermahkota itu lalu memberikan setangkai buah anggur kepada Aisyah.
"Ambillah buah ini ! Dan aku tidak pernah menaruh racun pada makananmu, Aisyah", kata Bilqis.
"Apakah kamu ingin aku percaya pada ucapanmu ?", tanya Aisyah.
"Itu terserah padamu untuk percaya atau tidak kepadaku", sahut Bilqis.
"Katakan saja dimana jalan keluar dari istana emas ini maka aku akan percaya padamu dan untuk apa kamu menutupinya, bukankah tidak berguna buatmu, Ratu Bilqis", kata Aisyah.
"Berguna atau tidak berguna buatku bukan masalah sebenarnya karena aku adalah jin tetapi masalahnya aku memang sudah bosan berada di istana emas ini", sahut Bilqis.
"Oh iya, apakah itu alasanmu sebenarnya kalau dirimu telah merasa bosan di dalam istana emas ini ?", tanya Aisyah.
"Benar, aku merasa diriku bosan berada di tempat ini dan ingin keluar dari istana emas ini", sahut Bilqis.
"Apakah kamu akan memberitahukan keapadaku jalan keluar dari istana emas ini ?", tanya Aisyah. "Semudah itukah kamu menyerah !?", sambungnya.
"Aku tidak pernah menyerah dan aku sudah katakan bahwa aku merasa bosan tinggal lebih lama di dalam istana emas ini", sahut Bilqis.
"Baiklah, bagaimana kalau kita segera pergi dari istana emas ini secepatnya tanpa menundanya lagi ?", kata Aisyah.
"Jangan terlalu terburu-buru dahulu, kita bersenang-senang dahulu di tempat ini, bagaimana ?", tanya Bilqis yang masih duduk bersila di tempatnya.
"Mungkin kamu ingin mengecohku dengan segala rayuan darimu tetapi sayang sekali aku tidak tertarik untuk melakukannya, Ratu Bilqis", sahut Aisyah.
"Kenapa tidak ?", ucap Bilqis.
"Karena waktuku tidaklah banyak dan seluruh manusia tengah menanti kepulanganku setelah mengembalikan waktu yang berhenti berputar ini", sahut Aisyah.
Aisyah menatap tajam ke arah perempuan bermahkota bernama Bilqis yang merupakan ratu jin dari negeri Sheba.
Gadis muda itu lalu menghunuskan pedang awan putih miliknya ke arah Ratu Bilqis dengan sungguh-sungguh sambil berucap kepada perempuan cantik itu.
"Jika kamu memang tidak menginginkan aku untuk keluar dari istana emas ini maka aku, Aisyah akan dengan berat hati menantangmu bertempur, Ratu Bilqis", kata Aisyah.
Bilqis lalu menepis pedang awan putih milik Aisyah seraya menatapnya tajam kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Tenanglah, Aisyah !", ucap Bilqis.
"Kenapa Ratu Bilqis !? Apakah kamu takut pada pedang awan putih ini ataukah kamu takut ketahuan jika kamu berusaha mengulur waktu agar aku terus di istana emas ini ?", tanya Aisyah.
Terlihat Aisyah tengah berdiri tegak seraya menggenggam pedang miliknya dengan tangan kanannya.
"Tidak, tidak ada yang aku takutkan, Aisyah... Dan aku tidak sedang mengulur waktu hanya sekarang bisakah kamu menggeser batu itu !", ucap Bilqis sambil menunjuk ke arah sebuah batu besar di tengah ruangan istana emas.
"Untuk apa aku harus menggeser batu itu, Ratu Bilqis ?", tanya Aisyah.
"Karena barang siapa yang mampu menggeser batu besar dari bongkahan emas itu maka kamu akan dapat keluar dari istana emas ini", sahut Bilqis.
"Benarkah yang kamu ucapkan itu ?", tanya Aisyah sambil melirik ke arah batu itu.
"Untuk apa aku berkata bohong kepadamu, dan apa yang aku katakan kepadamu itu yang sesungguhnya, Aisyah", kata Bilqis.
"Apa konsekuensinya jika kamu berkata bohong padaku Ratu Bilqis ?", tanya Aisyah.
"Kamu bisa mengambil istana emas milikku ini, Aisyah", sahut Bilqis.
"Tapi sayangnya aku tidak membutuhkan istana emas ini menjadi milikku", kata Aisyah.
"Terserahlah padamu tapi itu janjiku padamu apabila kamu mampu melakukannya maka aku akan memberikan istana emas ini kepadamu, Aisyah", ucap Bilqis.
__ADS_1
Aisyah terdiam dan hanya memandangi ke arah batu besar yang terbuat dari bongkahan emas, dan batu itu terletak pada tengah-tengah ruangan istana emas.
Tidak banyak sikap yang ditunjukkan oleh Aisyah saat itu, dia berjalan mendekati batu yang terbuat dari bongkahan emas lalu berdiri tepat di depannya, menaruh pedang awan putih miliknya di pinggangnya kemudian menghela nafas panjang dan berusaha menggeser batu tersebut.