Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Bentangan Tanaman Menjalar Bagian I...


__ADS_3

Aisyah berjalan mencari-cari tempat keluar dari area dasar taman halus yang berada di dataran tinggi gulali.


Menelusuri setiap sudut dasar taman halus dengan teliti, mengalihkan pandangannya ke seluruh area tempat itu.


Benar-benar tidak ditemukan jalan keluar, masih sama saat berada di bawah dasar taman halus yang berwarna cokelat.


Hanya ada hamparan manisan gulali yang berputar seperti baling-baling terpasang di atas batang bening.


"Dimana jalan keluar itu, kenapa kita masih belum menemukannya ?", ucap Aisyah.


"Kita harus mencarinya, nona, bukankah anda mengatakan jika ada air maka akan ada kehidupan yang menandakan jalan keluar", jawab cermin ajaib.


"Yah, aku tahu itu tapi pada kenyataannya air gemericik yang kita temukan bukanlah air seperti air biasa melainkan gulali yang menggenang di danau", kata Aisyah.


"Benar sekali yang anda katakan, nona, suara gemericik itu ternyata bukan air putih biasa tetapi air yang bercampur butiran gula-gula pasir yang mengalir dari terjun di atas sana", kata cermin ajaib.


"Namun kita masih menemukan kunang-kunang yang hinggap di atas danau fantasi itu dan artinya masih ada harapan untuk kita menemukan jalan keluar dari dasar taman halus ini", kata Aisyah.


Aisyah memperhatikan arah langkah kakinya disekitarnya kemudian berjalan mengelilingi area danau fantasi.


Hampir beberapa jam Aisyah dan cermin kristal ajaib berjalan melewati deretan batang-batang bening yang di atasnya terdapat gulali-gulali berwarna-warni yang berputar seperti baling-baling.


Mereka melewati jalan di area dataran tinggi hingga ke ujung area itu dan menemukan anak dari danau fantasi.


Hanya saja anak dari danau fantasi berbeda lagi dari tampilan danau induknya yang penuh genangan air gulali.


"Hai... Tempat apakah ini !? Coba kamu lihat, wahai cermin ajaib tempat itu !", ucap Aisyah berseru kaget.


"Ha, iya, iya, itu air, nona ! Air biasa seperti di dunia manusia, air putih !", sahut cermin ajaib ikut berseru keras.


"Hmmm, tidakkah ini sangat aneh !? Air di dalam tempat ini berbeda sekali dengan air yang ada di dalam danau tadi ?", tanya Aisyah.


"Benar, jika di tempat ini benar-benar berisi air putih yang jernih tidak seperti danau fantasi yang penuh genangan air gulali", sahut cermin ajaib.


"Dan lihatlah air itu mengalir ke suatu tempat, lalu kemanakah aliran air itu !?', kata Aisyah heran.


"Mungkin ke suatu tempat...", ucap cermin ajaib.


"Jangan-jangan, itu adalah jalan keluarnya !!!'', seru Aisyah dan cermin kristal bersama-sama.


"Benar, jika air itu mengalir ke suatu tempat lainnya biasanya menuju laut dan artinya ada celah di dalam dasar taman halus ini, Nona Aisyah", kata cermin ajaib.


"Aku rasa itulah jalan keluarnya, tapi kita harus pergi ke arah mana sekarang ?", tanya Aisyah gamang.


"Lebih baik kita telusuri aliran air itu maka kita akan segera mengetahuinya kemana air itu mengalir, Nona Aisyah", kata cermin ajaib.


"Hmmm... Benar... Mari kita pergi ke sana dan menelusuri aliran air itu, wahai cermin ajaib", ucap Aisyah.


"Baik, Nona Aisyah", jawab cermin ajaib itu.

__ADS_1


"Ayo kita segera menuju tempat itu !", ucap Aisyah penuh semangat.


"Yaaa !!!'', sahut cermin lebih bersemangat.


Mereka menelusuri aliran air yang mengalir itu, dan mereka melihat jika anak danau fantasi itu memliki jalan air yang sangat panjang serta berliuk-liuk datar di atas area dataran tinggi gulali itu.


Jalan aliran yang sangat panjang itu cukup memakan waktu lama hampir dua puluh menit mereka berjalan menelusuri aliran air pada anak danau fantasi.


Akhirnya keduanya sampai di suatu tempat yang terbentang tanaman menjalar yang seluruhnya dari gulali bening yang berkilat-kilat dan menutupi jalan di depan mereka.


Aisyah memandangi bentangan tanaman menjalar dari gulali bening itu, termangu lalu terdiam sesaat tanpa mengedipkan kedua matanya yang terbuka lebar karena terkagum-kagum.


Menyaksikan pemandangan yang terbentang di hadapan mereka yang sangat unik dan menakjubkan.


"Di depan kita ada bentangan tanaman menjalar dari gulali bening, wahai cermin ajaib", bisik Aisyah pada cermin yang ada di sebelahnya.


"Benar, Nona Aisyah", sahut cermin kristal ajaib.


"Aliran air itu terhenti tepat di arah bentangan tanaman menjalar yang ada di depan kita, apakah rahasia di balik sana ?'', ucap Aisyah dengan penuh tanya.


''Entahlah, hamba tidak mengetahuinya rahasia di balik tempat itu, Nona Aisyah'', sahut cermin ajaib yang turut memperhatikan bentangan tanaman yang menjalar di depan mereka.


Terlihat bentangan tanaman menjalar yang luas itu mulai dari ujung dataran gulali hingga ke ujung lainnya, sangat panjang sekali.


Mereka saling berpandangan seraya mengerutkan dahi, berpikir keras mencari jawaban atas pertanyaan mereka sendiri.


"Perlukah kita memasuki area tersebut, wahai cermin ajaib ?'', tanya Aisyah.


"Baiklah, mari kita pergi ke sana, mungkin kita menemukan jalan keluar dari tempat ini, wahai cermin ajaib", ucap Aisyah kemudian.


"Iya, mudah-mudahan itu memang benar jalan keluar yang kita cari, Nona Aisyah", jawab cermin ajaib.


"Semoga seperti itu, semakin kita cepat menemukan jalan keluar maka kita akan dapat kembali ke kota asing itu dan menemukan kebenaran ingatanku yang kamu bilang hilang itu, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.


"Baik, nona, dan semoga anda cepat mengingat semuanya lagi agar kita dapat keluar dari dunia mimpi ini secepatnya", jawab cermin ajaib.


"Hmmm..., mudah-mudahan demikian sesuai dengan yang kamu harapkan, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.


"Kita akan menerobos masuk, nona", ucap cermin ajaib.


"Aku rasa begitu, karena hanya itu jalan menuju ke dalam bentangan rumput menjalar ini tapi tampaknya tidak mudah untuk kita lakukan, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.


Dia memandangi bentangan tanaman yang menjalar dari gulali di hadapannya, tanaman-tanaman itu memiliki ujung yang sangat runcing, tampaknya sangat tajam dan mampu menusuk ke dalam tubuh bagi yang melewati tanaman tersebut.


Hampir mirip kaca bening yang meruncing ujung-ujungnya tetapi ini tanaman menjalar yang seluruhnya terbuat dari gulali bening, bukan kaca pada umumnya, hanya manisan dari gula-gula gosong yang menjalar terus-menerus, bergerak tanpa hentinya dan saling mengikat antara satu tanaman dengan tanaman Lainnya.


Menyatu lalu membentuk pagar tanaman memanjang yang menjalar hingga menjulang ke atas sana, semua permukaannya bening dan mengkilat sampai ke ujung langit.


Aisyah menyentuh ujung tanaman menjalar itu tetapi cermin dari kristal ajaib buru-buru melarangnya dan menahan tangan gadis itu dengan lilitan cahaya warna-warni yang keluar dari badan cermin kristal.

__ADS_1


"Jangan disentuh, Nona Aisyah !", larang cermin ajaib.


"Apa !?'', sahut Aisyah yang mendadak terkejut ketika mendengar ucapan cermin ajaib padanya.


Aisyah lalu menolehkan kepalanya ke arah cermin kristal ajaib yang ada di sampingnya dan sedang terbang melayang-layang.


Gadis muda berwajah bening itu mengernyitkan keningnya seakan-akan ia sedang bertanya keheranan pada cermin ajaib.


"Iya... Hamba takut jika tanaman menjalar itu beracun dan melukai anda lagi, Nona Aisyah", kata cermin ajaib menerangkan maksud sikapnya tersebut.


"Oh...'', gumam Aisyah.


Aisyah dengan cepat menarik tangannya yang mengarah ke tanaman-tanaman menjalar di depannya lalu memandangi bentangan tanaman itu.


Cermin ajaib mendekat ke arah bentangan tanaman menjalar dan mengamatinya secara detail bentuk tanaman tersebut dengan sangat teliti.


"Hamba lihat tanaman ini agak berbahaya karena biasanya tanaman jenis Poison Sumac adalah tanaman beracun pada bagian daun maupun buahnya jika disentuh meski tanaman menjalar ini terbuat dari gulali bening tetapi bagi hamba tanaman ini tetap tanaman beracun meskipun berada dalam dunia mimpi", kata cermin ajaib sembari melepaskan lilitan cahaya yang melingkar di tangan Aisyah.


"Benarkah itu, tanaman ini sangat berbahaya bagi yang menyentuhnya ?'', ucap Aisyah terkejut.


"Memang ini seperti tipuan yang semuanya terbuat dari gulali dan seakan-akan terlihat lezat menggiurkan, memang agak menyesatkan bagi kita yang melihatnya tetapi mengandung tipu daya dan sangat berbahaya sekali jika kita menyentuhnya atau memakannya", kata cermin ajaib.


"Iya, semuanya terlihat seperti manisan-manisan yang menggoda selera kita tetapi itu semua ternyata mengandung racun yang berbahaya bagi kita dan aku baru mengetahuinya dari penjelasnmu wahai cermin ajaib", ucap Aisyah terperangah kaget.


Aisyah mendekat ke arah tanaman-tanaman yang menjalar yang ada di depannya dan membentang dari ujung hingga ujung area dataran tinggi dari gulali.


Poison sumac memiliki batang berwarna merah dengan bentuk buah yang cukup aneh serta daun yang terdiri dari lima hingga tiga belas lembar dan daun pada tanaman menjalar itu selalu berjumlah ganjil yang semuanya terbuat dari gulali-gulali bening.


Walaupun keselurahan bentangan tanaman menjalar jenis poison sumac dari gulali bening yang tampak lezat ternyata tanaman tersebut menyimpan bahaya berupa racun bagi yang menyentuhnya.


"Aku mengira bahwa tanaman ini dapat kita makan dan terasa lezat tetapi mengandung racun yang sangat berbahaya bagi kita", kata Aisyah dengan memperhatikan tanaman-tanaman menjalar itu lebih dekat.


"Hati-hati, nona ! Jangan terlalu dekat dengan tanaman itu, aromanya juga sangat tajam menyengat hidung ! Berhati-hatilah tanaman itu sangat berbahaya sekali untuk anda, Nona Aisyah !'', kata cermin ajaib setengah berseru keras.


"Eh..., iya..., aku mengerti, dan maaf telah berbuat ceroboh lagi", sahut Aisyah tersentak kaget.


"Jika terkena kontak dengan tanaman menjalar itu, akan terjadi reaksi gatal pada kulit dan anda harus mandi segera dengan air dingin tetapi disini kita tidak menemukan air dingin karena itulah anda harus berhati-hati pada tanaman-tanaman menjalar itu, Nona Aisyah", kata cermin ajaib menjelaskan akibat dari racun tanaman poison sumac.


"Oh... Begitu !? Aku tidak tahu akan hal itu !?'', ucap Aisyah.


"Akan membutuhkan waktu yang relatif lama untuk meredakan rasa gatal akibat racun tanaman menjalar itu, mungkin akan memakan waktu sekitar satu atau dua minggu untuk sembuh dari racun tersebut, Nona Aisyah", kata cermin ajaib.


"Ya Tuhan ! Itu cukup lama sekali sedangkan aku masih berada di dalam dasar taman halus ini !? Bagaimana aku dapat menyembuhkan racun akibat tanaman poison sumac itu tanpa air dingin, wahai cermin ajaib ???'', tanya Aisyah berseru kaget.


"Itulah masalahnya alasan hamba mencegah anda menyentuh tanaman menjalar itu karena memang semuanya terbuat dari gulali bening yang sangat menggiurkan kita pada saat melihatnya pertama kali tetapi sebenarnya itu semua menipu mata kita, Nona Aisyah", kata cermin ajaib.


"Hmmm..., benar sekali yang kamu ucapkan itu, ini semua hanya tipuan yang sangat menyesatkan mata... Bagaimana seandainya jika kita memakannya !?", tanya Aisyah tertegun.


"Nah, itulah letak bahayanya, dan sangat lebih membahayakan bagi kita jika memakan buah dari tanaman poison sumac yang terbuat dari gulali bening itu, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib.

__ADS_1


"Hiiii..., seram sekali..., aku tidak dapat membayangkannya..., wahai cermin ajaib...", ucap Aisyah merinding ketakutan saat membayangkan dirinya memakan buah dari tanaman menjalar yang terbuat dari gulali itu dan ternyata beracun bagi dirinya.


__ADS_2