Menikah Muda Denganmu

Menikah Muda Denganmu
Season 2 : Camer


__ADS_3

"Bunda, tumben ke kantor" ujar Fauzan.


"Eh ada Hanifah juga" ujar Fauzan kaget.


"Bunda sengaja ya panggil Hanifah" bisik Fauzan pada Ibunya.


"Nggak dong, Bunda bertemu di luar tadi" balas Anisah.


Mereka berempat duduk bersama di satu ruangan. Anisah tersenyum melihat putranya yang semakin salah tingkah. Ini keputusan yang tepat untuk membantu putranya.


"Mia bagaimana kalau kamu ambilkan minum untuk Fauzan?" pinta Anisah.


"Baik Bunda" balas Mia.


Kini mereka hanya bertiga di dalam ruangan. Anisah memulai aksinya untuk membuat Fauzan selangkah lebih maju.


"Hanifah, Bunda boleh bertanya?" tanya Anisah yang sudah menganggap dirinya calon mertua.


"Tentu saja Bu" jawab Hanifah sopan.


"Panggil Bunda saja" ujar Anisah.

__ADS_1


"Bunn" Fauzan mulai resah dengan tingkah Bundanya.


"Hanifah sudah punya kekasih?" tanya Bunda dengan senyuman manisnya.


"Haha tidak ada Bun" jawab Hanifah malu-malu.


"Wah kebetulan sekali putra Bunda sedang mencari kekasih, bagaimana kalau kalian berkenalan lebih akrab?" tanya Anisah.


Hanifah hanya tersenyum mewakili jawabannya. Dia tidak menolak permintaan Anisah dan hanya menunduk malu.


"Bos Fauzan itu atasan saya Bun" akhirnya Hanifah mengeluarkan suaranya.


"Kamu harus menjadi laki-laki sejati sayang" pinta Anisah.


Fauzan yang gugup berusaha mengumpulkan semua keberaniannya. Dia tidak ingin menunda-nunda lagi untuk melaksanakan niat baiknya.


"Hanifah sejak pertama melihat kamu di mushalla kantor, saya sudah tertarik sama kamu, saya tidak ada niatan untuk pacaran atau bermain-main, jika kita memang berjodoh saya ingin langsung melamar mu" ujar Fauzan akhirnya bisa mengeluarkan kalimat yang ia tahan selama ini.


"Apa yang membuat Bos tertarik kepada saya?" tanya Hanifah malu-malu.


"Keimanan mu Hanifah, saya selalu melihat mu setiap hari secara tidak sengaja di mushalla kantor sehabis sholat dhuha, itulah yang membuat saya tertarik selain wajah cantik kamu juga punya hati yang cantik" ujar Fauzan romantis.

__ADS_1


"Terima kasih atas pujian anda Bos, saya senang bertemu orang baik seperti bos dan Bunda" jawab Hanifah menunduk.


"Bunda juga ingin kamu yang jadi menantu Bunda" ujar Anisah seraya memegang tangan Hanifah.


"Bunda rasanya terlalu buru-buru untuk Hanifah, biar kan dia menentukan pilihannya sendiri Bunda" ujar Fauzan ingin memberikan ruang untuk pertimbangan bagi Hanifah.


"Terima kasih Pak Fauzan, saya akan berdiskusi dulu dengan keluarga" jawab Hanifah malu-malu.


Sejak awal Hanifah memang menyukai Fauzan. Dia tahu Fauzan adalah lelaki yang baik dan menghormati wanita. Bagaimanapun juga Hanifa ingin mendiskusikan semua ini dengan keluarganya. Dia tidak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan yang besar. Terkhusus lagi menyangkut masalah pernikahan. Hanifah yakin semuanya akan dipermudah.


**********


"Sebaiknya kamu sholat istikharah untuk memantapkan pilihan mu sayang" ujar Mama kepada putrinya.


"Iya Ma, terima kasih untuk nasehat Mama" ujar Hanifah seraya memeluk Mamanya.


"Mama rasa dia adalah laki-laki yang baik, tidak mengajak mu ke dalam maksiat, dia bahkan langsung menunjukkan niat baiknya" ujar Mama.


"Apalagi kamu sudah menyukainya terlebih dahulu" lanjut Mama lagi dengan kalimat yang membuat pipi Hanifah merah merona.


Hanifah tersenyum manis, semua yang dikatakan Mamanya adalah benar. Papa Hanifah juga sudah setuju setelah mendengar semuanya, walaupun ia begitu berat untuk melepaskan putri tersayangnya.

__ADS_1


__ADS_2