
Kaca jendela terlihat bersih seperti biasanya. Ruangan kantor Fauzan sungguh luas dan nyaman. Sekarang ia sudah menjadi Presdir muda perusahaan milik Farhan.
"Apa saja jadwal hari ini?" tanya Fauzan kepada sekretarisnya.
"Rapat dengan dewan redaksi bos, malamnya makan bersama dengan pihak perusahaan M bos" jawab sekretarisnya.
"Baiklah, persiapan semuanya dengan baik" ujar Fauzan.
Fauzan kembali teringat pada wanita berkacamata yang ia temui saat keluar dari mushalla kantor. Wanita itu sungguh indah, tetapi untuk menyapanya saja Fauzan gugup tak karuan.
Fauzan secara tidak sengaja mengamati wanita itu selama seminggu. Ketika ia selesai sholat dhuha dan keluar dari mushalla, wanita itu juga terlihat baru selesai sholat seraya memegang mukenah yang disimpan di tas kecilnya.
Fauzan ingin mengenal lebih lanjut mengenai wanita itu. Dia tidak ada niat sedikitpun untuk menjadikan wanita itu sebagai pacarnya. Tetapi ia ingin langsung ta'aruf dan menikah jika berjodoh.
"Ya Allah jika kami memang berjodoh dekatkan lah, jika memang dia bukan untuk saya mohon hilangkan rasa ketertarikan saya" ujar Fauzan dalam do'a nya.
Fauzan sering berpapasan dengan wanita itu, tetapi tidak berani menyapa. Jangankan untuk menyapa, melihat wanita itu saja Fauzan sudah menundukkan tatapannya.
Sejak masih remaja, Fauzan memiliki rasa gugup ketika bertemu atau berpapasan dengan wanita yang disukainya. Dia sudah pernah sekali ta'aruf dengan seorang wanita yang dikenalkan Farhan, tetapi gagal. Hal ini disebabkan ia tidak berani berbicara dengan wanita itu. Sesekali ia berbicara, kegugupannya mengacaukan segalanya.
Sepertinya Fauzi yang dekat dengan Bundanya, Fauzan lebih dekat dengan Ayahnya. Fauzan dan Farhan bahkan terlihat seperti sahabat. Wajah tampan Farhan tidak lekang oleh waktu. Walaupun kerutan sudah menghiasi kulitnya, karisma Farhan tetap terlihat jelas.
__ADS_1
"Ayah ingin kamu segera menikah jika sudah siap" ujar Farhan kepada putranya.
"Sungguh Ayah?" tanya Fauzan.
"Iya, asal kamu tahu Bunda dan Ayah ingin segera menimang cucu" ujar Farhan nakal.
"Apalagi kamu juga tahu kesehatan Ayah selalu menurun" ujar Farhan lagi.
Dikarenakan Farhan sempat mengidap penyakit leukimia, tubuhnya tidak begitu kuat. Secara rutin Fauzan akan menemani Ayahnya berobat dan mengecek kesehatan.
Masalah perusahaan juga sudah dipercayakan Farhan kepada putranya Fauzan. Hal itu disebabkan kecerdasan Fauzan di bidang akademik dan bisnis. Farhan percaya bahwa Fauzan akan memperbesar dan memperjaya perusahaan.
*************
"Pagi bos" ujar Mia sang sekretaris.
"Pagi Mia" ujar Fauzan.
Fauzan cukup akrab dengan sekretarisnya. Dia ingin menanyakan kepada Mia mengenai perempuan yang sering ia lihat di mushalla. Tetapi Fauzan ragu-ragu, dia takut Mia akan mengejeknya.
"Mia, ada yang saya ingin tanyakan" ujar Fauzan.
__ADS_1
"Ada apa bos?" tanya Mia penasaran.
"Kamu lihat perempuan sana" ujar Fauzan seraya menunjuk ke arah gadis yang rajin ke mushalla itu.
"Wanita yang berjilbab biru itu bos?" tanya Mia.
"Iya benar" jawab Fauzan.
"Hanifah bos, dia karyawan baru di perusahaan kita" jawab Mia.
"Kenapa bos suka ya?" ledek Mia.
"Hustt, jangan kuat-kuat dong" balas Fauzan.
"Awas aja bos gugup kalau ketemu dia" ujar Mia yang paham dengan perilaku bosnya.
"Kamu harus bantuin saya agar bisa ta'aruf dengan dia" balas Fauzan.
"Siap bos, asal gaji saya naik" canda Mia.
"Aman, kalau semuanya berhasil gaji kamu saya naikkan" ujar Fauzan memberikan tawaran.
__ADS_1
"Yes, gitukan enak bos, saya jadi semangat" ujar Mia.