
Mario membawa Melani dan Anisah menuju hotel tempat mereka akan tinggal untuk sementara. Sesudah itu mereka makan malam bersama.
"Kamu ingin langsung ke rumah sakit Sa?"
tanya Mario.
"Tentu saja Mar, saya begitu merindukan Mas Farhan" ujar Anisah.
"Hampir tiga bulan kami berpisah" lanjut Anisah lagi
"Baiklah, nanti saya akan segera mengantarkan mu" ujar Mario.
"Terimakasih Mario" jawab Anisah.
Setelah makan Mario membawa Anisah dan Melani menuju rumah sakit tempat di mana Farhan berada. Anisah merasakan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Kamu deg-degan ya Nis?" tanya Melani.
"Iya, tau aja kamu" balas Anisah.
"Eh, btw kenapa kalian bisa akrab begitu, setahu saya Melani sangat membenci Anisah?" tanya Mario iseng.
"Mar hentikan" Melani kesal dan mukanya memerah menahan malu.
__ADS_1
"Itu hanya masa lalu Mar, sekarang kami sahabatan, iya kan Mel?" ujar Anisah tulus.
"Iya Sa, kamu benar sekali" balas Melani.
Sesampainya di rumah sakit, hati Anisah semakin berdebar. Bahagia dan gugup bercampur aduk di dalam hatinya. Anisah mencoba tenang dan mengontrol suasana hatinya.
"Assalamualaikum" Mario membuka pintu kamar tempat Hans dirawat.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Farhan.
"Hans, lihat siapa yang datang" ujar Mario bahagia.
Anisah masuk dengan wajah menunduk, sedangkan Melani menyusulnya dari belakang. Hati Farhan berdegup kencang setelah tiga bulan terpisah oleh jarak.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh sayang, I Miss you so much" ujar Farhan bahagia.
"Me too" Anisah berlari kepelukan Farhan dengan air mata bahagia.
Kini kepala Hans sudah botak, rambutnya rontok dikarenakan kemoterapi. Tetapi itu tidak membuatnya terlihat jelek, bahkan Hans terlihat semakin menggemaskan.
"Kamu terlihat ganteng Mas dengan kepala botak" ujar Anisah memuji.
"Apa saya terlihat seperti Om nakal yang sedang menggoda mu?" tanya Farhan iseng kepada istrinya.
__ADS_1
"Kamu bahkan lebih menggoda dibandingkan Om nakal itu" balas Anisah tidak mau kalah.
Setelah puas berpelukan dengan istri tercintanya, Hans melirik ke arah mantannya. Melani terharu melihat Hans dan Anisah saling berpelukan.
"Bagaimana bisa kamu berada di sini Mel?" tanya Farhan kebingungan.
"Bagaimana bisa saya membiarkan sahabat saya yang tengah hamil berpergian sendiri dengan jarak yang begitu jauh?" ujar Melani.
"Saya sudah sering mendengar tentang mu dari Anisah, dia sering memuji kebaikan mu, awalnya saya kira Anisah hanya sekedar melebih-lebihkan, ternyata kamu sudah benar-benar berubah Mel" puji Hans si sang mantan.
"Terima kasih atas pujiannya" ujar Melani.
"Saya yang harusnya berterima kasih kepadamu" balas Hans.
"Selama ini saya tidak pernah sempat mengucapkan terima kasih secara formal padamu, kamu telah menjaga istri dan calon anak saya dengan baik, sekali lagi dari lubuk hati saya yang paling dalam saya mengucapkan terima kasih" lanjut Hans panjang lebar.
"Sama-sama Hans, apapun yang kamu butuhkan silahkan" jawab Melani.
Malam itu mereka habiskan dengan penuh kebahagiaan. Berbeda dengan Anisah yang sedang menikmati kebersamaannya dengan suaminya, Melani tengah merindukan Raihan.
Sejak ia memasuki Bandara, Raihan selalu muncul di otaknya. Apakah ia sudah mulai jatuh cinta pada Raihan? Melani bahkan tidak tahu.
Semakin Melani ingin melupakan Raihan, semakin wajah Raihan sering menghampiri isi kepalanya. Tetapi gadis itu berusaha membuang jauh-jauh perasaannya kepada Raihan. Dia ingin Raihan yang begitu teramat baik menemukan wanita yang lebih pantas dari dirinya.
__ADS_1