
Tidak terasa sudah hampir satu bulan Farhan berada di Taiwan. Ia telah melewati satu siklus kemoterapi.
Lama satu siklus kemo berlangsung sekitar 3 minggu. Yaitu dari hari dimana penderita kanker melakukan kemoterapi, diperlukan sekitar tiga minggu untuk ke sesi kemoterapi berikutnya.
Sementara itu, rata-rata siklus kemoterapi setiap orang berbeda-beda. Ada yang tiga siklus, empat, enam bahkan dua belas siklus, tergantung diagnosa pada pasien kanker.
Berat badan Farhan mengalami penurunan. Efek samping yang di timbulkan oleh kemoterapi juga terjadi pada Farhan. Contohnya rambut mulai rontok, mual, dan muntah.
"Gimana kondisi kamu Hans?" tanya Mario.
"Sepertinya yang kamu lihat, berat badan saya turun Ri, rambut saya juga rontok" balas Farhan.
"Tidak apa-apa, untuk mencapai kesembuhan total butuh perjuangan Hans" balas Mario.
"Berapa lama lagi saya harus menjalani kemoterapi ini Ri?" tanya Farhan.
"Kamu baru menjalani satu siklus, dokter berencana menyiapkan empat siklus untuk mu" balas Mario.
"Ah, empat siklus, berarti ada tiga siklus lagi. Satu siklus ada tiga Minggu, tiga siklus ada Sembilang Minggu" ujar Farhan memperkirakan.
"Itu juga belum pasti Hans, bisa jadi kamu akan mendapatkan siklus tambahan" lanjut Mario.
"Ya Allah" seru Farhan.
"Tidak apa-apa Hans, yang penting adalah kesehatan mu" lanjut Mario menyemangati.
"Kamu harus sehat agar bisa berjumpa dengan istri dan calon anakmu" lagi-lagi Mario memberikan semangat kepada sahabatnya itu.
••••••••
"Ini undangan wisuda saya, kamu bisa datang kalau kamu sempat" ujar Anisah kepada Raihan.
"Ciee, yang sebentar lagi wisuda" balas Raihan.
__ADS_1
"Iya, kamu sih enak wisuda semester kemarin dan langsung bekerja di Perusahaan milik Papamu" puji Anisah.
"Itukan karna kamu mengulang satu tahun waktu kamu berhenti di Amerika, kamu bahkan menamatkan kuliah mu dalam waktu tiga setengah tahun" Raihan membalas pujian Anisah.
"Itu bukan suatu yang bisa saya banggakan Nis, itu kekayaan Papa saya, bukan saya" lanjut Raihan lagi lebih merendah.
"Bagaimana pun juga kamu sudah kerja dan berpenghasilan, walaupun di Perusahaan Papa mu hehehe" lanjut Nisa.
"Dasar, kamu juga bisa melamar di Perusahaan Papaku sesudah kamu wisuda nanti" ujar Raihan.
"Serius Rai?" jawab Anisah antusias.
"Kamu jurusan bisnis dan keuangan kan?" tanya Raihan.
"Iya Hans" balas Anisah.
"Spesialisasi apa?" tanya Raihan lebih lanjut.
"Manajemen keuangan" balas Anisah.
"Kamu berlebihan dalam memuji saya Rei, bukannya kamu yang merebut juara satu saya?" ujar Anisah mengenang masa lalu.
"Itu cuma kebetulan Nis, lagi pula cuma sekali, setelah itu juara satu kamu rebut kembali" balas Raihan seraya tertawa.
••••••••
Setelah menyerahkan seluruh undangan wisuda kepada keluarga dan teman dekatnya, Anisah berniat menghubungi suaminya. Awalnya wanita itu ragu, ia takut suaminya merasa bersalah tidak dapat berhadir di wisudanya.
"Mario, Mas Farhan sedang apa?" pesan Anisah kepada sahabatnya Farhan.
"Baru selesai kemo, mau saya fotoin??" balas Mario setelah beberapa menit berlalu.
"Boleh, fotoin dong" balas Anisah lagi.
__ADS_1
Mario mengirimkan foto Farhan kepada Anisah. Tak terasa Anisah meneteskan air matanya, rambut suaminya sudah kian menipis dan tubuhnya terlihat kurusan.
"Jelas nggak? saya diam-diam take fotonya Hans, takut ketahuan" balas Mario.
"Kalau saya nelpon Mas Farhan sekarang merepotkan nggak ya?" lanjut Anisah lagi.
"Telpon saja, Hans juga merindukan mu" balas Mario.
Anisah membaca bismillah untuk menenangkan dirinya. Dia mencoba menelpon suaminya untuk memberitakan kabar wisudanya.
"Assalamualaikum Mas" ujar Anisah setelah Farhan mengangkat telepon darinya.
"Wa'alaikumussalam Nis" balas Farhan.
"Mas apa kabar?" tanya Anisah mencoba memulai percakapan.
"Saya baik-baik saja Nis, seperti biasa sibuk dengan kerjaan" balas Farhan, suaranya terdengar lebih serak.
"Syukurlah kalau begitu Mas, oiya saya ada kabar baik untuk diberitahukan Mas" balas Anisah.
"Apa kabar baik nya? btw kamu sehat kan Nis?" balas suaminya.
"Alhamdulillah sehat sayang, sebentar lagi saya wisuda Mas, awal bulan depan" balas Anisah.
"Berarti awal Maret?" tanya Farhan setelah diam untuk sesaat.
"Iya sayang" balas Anisah.
"Pekerjaan saya belum selesai bulan depan Nis, maafkan saya tidak bisa hadir di hari bahagia mu" balas Farhan, suaranya terdengar bergetar seperti menahan tangis.
"Tidak apa-apa sayang, kamu fokus saja sama kerjaan kamu, saya akan selalu menunggu kamu pulang ke rumah kita, sampai kapanpun saya sanggup" balas Anisah mencoba menahan tangisnya juga.
"Terimakasih sayang" balas Farhan.
__ADS_1
Anisah terlihat bahagia, sudah begitu lama sejak Farhan memanggilnya dengan sebutan sayang. Mata Anisah, dia segera mengucapkan salam penutup dan mematikan telpon nya. Wanita itu sudah tidak sanggup menahan air matanya.