
"Terimakasih sudah menjamu kami dengan baik, sekarang kita akan membahas mengenai perjodohan diantara anak-anak kita" ujar Papa Wendy.
Wendy mengerutkan keningnya dan masih menahan amarah dalam diam. Dia menatap tajam ke arah Shalihah dengan tatapan kebencian.
"Kamu tunggu saja Nyonya" ujar Wendy kesal dalam hati.
Mereka semua mulai menentukan tanggal yang tepat dan sesuai dengan kesepakatan. Wendy sengaja memperlambat semuanya agar Shalihah semakin kesal nantinya.
Setelah tanggal di tetapkan, mereka mulai membahas pakaian, catering, busana, dan segala perlengkapan pertunangan lainnya. Tiga jam berlalu akhirnya keputusan telah di tetapkan.
"Akhirnya semua beres, kalian harus lebih memperhatikan kesehatan kalian ya" ujar Prayoga.
"Memangnya siapa yang ingin bertunangan Om?" tanya Wendy memulai aksinya.
"Maksud kamu apa Wen?" gertak Shalihah langsung naik tensi.
"Nyonya, saya tidak mengatakan bahwa saya setuju dijdohkan dengan putra anda" jawab Wendy santai.
"Wen, apa maksud kamu" Mama Wendy mulai bingung.
"Bukannya kamu sudah setuju Wen" ujar Papa Wendy.
__ADS_1
"Setelah Wendy pikir-pikir lagi, Wendy tidak ingin menikahi putra Tante Shalihah Pa, Ma" ujar Wendy.
"Kenapa tiba-tiba berubah begini?" tanya Papa Wendy merasa sedikit kesal dengan tingkah putrinya.
"Mungkin Wendy hanya shock mengingat tanggal pertunangan semakin dekat" jawab Papa Rendi berpikir positif.
"Prayoga maafkan putri kami, saya akan memberikan pengertian kepada Wendy" ujar Papa Wendy merasa bersalah.
"Maaf ya Om, Tante, saya ini manusia, bukannya pion kalian untuk menyelamatkan perusahaan kalian yang hampir bangkrut" tegas Wendy.
"Apa maksud kamu Wen, jaga ucapan kamu" ujar Mama Wendy mengingatkan putrinya.
"Kenapa? Tante pura-pura tidak tahu tentang semua ini" ledek Wendy.
"Saya tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan" balas Shalihah kesal tetapi ia juga takut bahwa Wendy mengetahui semuanya.
"Wah akting Tante sungguh luar biasa, bukannya putra Tante juga sudah menolak perjodohan ini, tapi Tante memaksa dia tanpa ampun" sanggah Wendy.
Perbincangan sudah mulai panas diantara mereka. Shalihah yang mulai terpojok menatap marah kepada Rendi. Shalihah mengira Rendi lah penyebab dari semua kekacauan ini.
"Pasti si Rendi yang bodoh itu yang memberitahukan semua ini kepada Wendy" ujar Shalihah dalam hati.
__ADS_1
"Tidak perlu menatap marah ke arah putra anda Tante, dia tidak bersalah sama sekali, dia hanya seorang anak yang berusaha berbakti kepada Ibunya, seharusnya anda bangga memiliki putra seperti Rendi" singgung Wendy.
"Wendy Mama tidak mengerti dengan semua yang kamu ucapkan, jelaskan semua ini" ujar Mama Wendy yang semakin bingung.
Wendy tersenyum ke arah Shalihah dengan wajah penuh kemenangan. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Wendy segera mengeluarkan handphone dari sakunya dan memperdengarkan sesuatu yang menarik.
"Kamu tahu kan perusahaan kita sudah bangkrut, hanya perusahaan Papanya Wendy yang bisa menyelamatkan perusahaan kita" terdengar suara Shalihah sedang marah-marah.
"Ma, kamu tidak saling mencintai" suara Rendi juga terdengar setelahnya.
"Cinta kamu bilang? gara-gara cinta Mama kehilangan semuanya" rekaman suara itu masih berlanjut.
"Jangan pernah membahas masalah cinta lagi di hadapan Mama, tugas kamu hanya memastikan Wendy tidak akan membatalkan pertunangan kalian, dia itu pion kita" kalimat penutup yang mengakhiri percakapan yang telah direkam oleh Wendy.
"Masih bisa membantah Tante?" tanya Wendy.
Prayoga segera angkat bicara, sedari awal dia sudah tahu niat istrinya. Tetapi dikarenakan cinta Prayoga yang besar kepada Shalihah menjadikan dirinya tidak dapat menolak permintaan Shalihah.
"Maafkan saya Nero, istri saya sungguh takut jika kami jatuh miskin, sejak kecil dia sudah terbiasa dengan hidup mewah" ujar Prayoga dengan nada penuh penyesalan.
"Maafkan saya juga Om, saya sudah berusaha menghentikan Mama, tetapi Mama menginginkan perjodohan ini, saya tidak mau menjadi anak yang durhaka" ujar Rendi menundukkan kepalanya.
__ADS_1