Menikah Muda Denganmu

Menikah Muda Denganmu
Tangisan


__ADS_3

Anisah berbaring di tempat tidurnya. Farhan membuka pintu kamar, Nisa memalingkan badannya.


"Harusnya kamu cerita Mas, bukannya menghindar" ujar Nisa lirih.


"Apa yang harus saya ceritakan Nis?" balas Farhan.


"Alasan kamu berubah, kita bahkan baru beberapa bulan menikah" ujar Nisa.


"Seharunya kamu beri tahu saya kesalahan saya Mas, jangan mendiamkan saya tidak jelas seperti ini" lanjut Anisah lagi.


Farhan benar-benar tak kuasa melihat istrinya. Tetapi ia sudah memantapkan niatnya untuk melepaskan Nisa. Farhan takut bahwa ia tidak mampu bertahan dari godaan Nisa. Dia tidak mau Nisa sampai hamil. Dengan penyakitnya sekarang ini, dia benar-benar harus berhati-hati.


Anisah masih sangat muda. Walaupun ia meninggal, dia tidak mau Anisah memiliki anak tanpa sosok ayah. Lelaki itu tidak mau masa depan Anisah terbengkalai, terlebih dia tahu niat Anisah ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri.


Farhan masih mencari cara untuk meninggalkan Anisah. Tetapi lelaki itu tidak mau dengan cara menyebutkan alasan yang sebenarnya. Anisah pasti tidak mau berpisah dengan Farhan, apalagi dengan kondisi Farhan yang sakit. Oleh sebab itu Farhan membuat rencana agar Nisa mau meninggalkannya tanpa tahu penyakitnya.

__ADS_1


••••


"Apa karna Melani Mas?" tanya Anisah spontan.


"Apa karna kamu tidak bisa melupakan Melani? Makanya kamu berbuat seperti ini" ujar Anisah. Dia tahu bahwa suaminya belum tidur.


"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Farhan.


"Tadi Melani datang, katanya kamu mau ke Taiwan bareng dia" ujar Nisa.


"Iya saya memang berniat mengunjungi Taiwan" ujar Farhan.


"Bersama Melani" lanjut lelaki itu lagi.


Hatinya sakit mengucapkan kalimat itu, tetapi ia mencoba biasa tanpa membuat Nisa curiga.

__ADS_1


"Kenapa Mas? Kamu menyesal menikah sama saya?" tanya Anisah dengan suara bergetar.


"Maaf Anisah, saya rasa kamu terlalu muda untuk saya. Saya membutuhkan sosok wanita dewasa dan sudah matang" ujar Farhan.


Akhirnya Anisah tidak dapat menahan air matanya, dia menangis sejadi-jadinya. Farhan keluar dari kamar, dia tidak tahan harus mendengarkan tangisan istri tercintanya. Memang lebih baik begini, agar Nisa lebih cepat melupakan dirinya. Farhan lebih takut harus mendengarkan tangisan Nisa untuk kepergiannya dengan rasa bersalah, di usia muda harus menggendong anak dan di tinggalkan suami. Farhan tidak mau hal itu terjadi. Mengingat wanita itu masih muda, cerdas, dan bermasa depan cerah.


"Sabarlah sayang, kelak kamu akan mengerti yang saya lakukan adalah yang terbaik untukmu" ujar Farhan dalam hati.


Farhan membuka WhatsApp, dan menghubungi Mario. Lelaki itu ingin tahu kenapa Melani bisa tahu akan kepergiannya.


"Ada yang ingin saya tanyakan Mario" pesan Farhan pada sahabatnya.


"Saya tahu kamu akan bilang apa, saya terpaksa memberitahu Melani. Kamu tidak sadar bahwa ia mengikuti mu dan tau bahwa kamu datang ke rumah sakit. Dia memaksa saya memberitahukan semua kebenarannya. Maafkan saya Hans" balas Mario dengan penjelasan yang panjang.


Farhan lebih mengenal Melani di banding siapapun. Wanita itu tidak akan menyerah sebelum ia menemukan jawaban dari apa yang ia cari. Farhan tidak bisa mengalahkan Mario. Terlebih-lebih mereka bertiga sudah akrab sejak mereka kuliah.

__ADS_1


__ADS_2