
Rendi tersenyum ke arah Wendy yang terlihat menawan. Mama Wendy memaksa agar Wendy menunggu gaun yang telah ia persiapkan. Wendy terpaksa menuruti semua keinginan Namanya.
"Kamu harus menjaga sikap mu, mengerti" ujar Mama Wendy.
"Baik Ma" jawab Wendy singkat.
"Malam Wendy" sapa Rendi.
"Malam Ren" balas Wendy.
"Kamu terlihat lebih cantik malam ini" puji Rendi.
"Kamu terlalu berlebihan" jawab Wendy seraya duduk di meja makan.
"Wah lihat siapa yang datang" ujar Papa Rendi yang tak lain adalah sahabat Papa Wendy.
"Lama tidak berjumpa Prayoga" ujar Papa Wendy.
"Wah kamu benar sekali Nero, bagaimana kabar mu?" tanya Papa Rendi.
"Alhamdulillah kami sekeluarga sehat, walaupun terkadang penyakit saya sering kambuh" jawab Papa Wendy.
"Kamu memiliki putri yang luar biasa cantik" puji sang calon ayah mertua.
"Terimakasih Om" balas Wendy.
"Panggil Papa saja, sebentar lagi kamu akan menjadi menantu keluarga Prayoga" ujar Papa Rendi.
Wendy hanya menundukkan wajahnya, dia tidak senang mendengar hal tersebut. Selama makan malam berlangsung Wendy hanya memakan sedikit makanan lalu menyudahinya.
"Bolehkah saya keluar dan mencari angin sebentar?" tanya Wendy.
__ADS_1
"Silakan Nak, Rendi temani Wendy" jawab Prayoga.
"Baik Pa" balas Rendi.
Rendi bergegas menemani Wendy menuju taman rumahnya. Sama seperti Wendy, Rendi juga tidak memiliki perasaan spesial kepada Wendy.
"Wen" ujar Rendi.
"Ya?" sahut Wendy.
"Kamu punya pacar?" tanya Rendi.
"Nggak" jawab Wendy.
"Beneran? kalau orang yang disukai ada?" tanya Rendi lagi.
"Iya ada" jawab Wendy.
"Karena ini kemauan orangtua saya" jawab Wendy pasrah.
"Kamu sendiri punya pacar?" tanya Wendy balik.
"Sebenarnya saya sudah punya pacar selama tiga tahun ini Wen, saya sangat mencintainya" jawab Rendi lirih.
"Astaga, kalau begitu kamu harus menolak perjodohan ini" pinta Wendy.
"Orangtua saya juga menginginkan perjodohan ini Wen" jawab Rendi sedih.
"Kamu bicara baik-baik sama mereka mengenai kekasihmu" saran Wendy.
"Kamu tidak kenal dengan karakter Mama saya Wen, kalau dia bilang harus maka itu akan harus terjadi" jawab Rendi.
__ADS_1
"Itu egois namanya, kasihan pacar kamu yang sudah menunggu kamu selama tiga tahun ini" ujar Wendy yang mengerti akan perasaan seorang wanita.
"Saya sudah berusaha untuk meluluhkan hati Mama saya Wen, tapi semua itu sia-sia" ujar Rendi.
Setelah mereka berbincang sejenak, Wendy permisi hendak ke kamar mandi. Dia meninggalkan Rendi yang sedang dalam suasana hati yang buruk.
Rendi berjalan menuju bangku di tanam. Beberapa menit kemudian, Shalihah datang menghampiri putranya itu.
"Di mana gadis itu?" tanya Shalihah.
"Namanya Wendy Ma" jawab Rendi.
"Iya, di mana Wendy?" tanya Shalihah lagi.
"Dia lagi ke toilet Ma" jawab Rendi.
"Ingat ya Rendi, kamu harus memikat hati gadis itu, Mama tidak mau tahu, pokoknya kalian harus menikah" gertak Shalihah.
"Kalau sampai dia membatalkan acara pertunangan kalian, Mama gak akan pernah maafkan kam" ujar Shalihah.
"Kamu tahu kan perusahaan kita sudah bangkrut, hanya perusahaan Papanya Wendy yang bisa menyelamatkan perusahaan kita" Shalihah tidak berhenti mengoceh.
"Ma, kamu tidak saling mencintai" jawab Rendi takut.
"Cinta kamu bilang? gara-gara cinta Mama kehilangan semuanya" jawab Shalihah mengingat masa lalunya.
"Jangan pernah membahas masalah cinta lagi di hadapan Mama, tugas kamu hanya memastikan Wendy tidak akan membatalkan pertunangan kalian, dia itu pion kita" ujar Shalihah seraya berlalu meninggalkan putranya.
Shalihah tidak dasar sepasang mata dan telinga telah menyaksikan dan mendengarkan semua kebusukannya. Ternyata Wendy tidak sengaja mendengar semua percakapan mereka saat hendak menemui Rendi setelah selesai dari kamar mandi.
Wendy menahan air matanya keluar, dia tidak mengira Nyonya Shalihah bersikap sekejam itu. Dia dengan sigap merekam percakapan mereka. Saat Shalihah mengucapkan hal buruk, Wendy buru-buru merekam hal tersebut dengan ponsel nya. Walaupun semuanya tidak terekam sempurna, setidaknya dia sempat merekam bahwa Shalihah menyebut dirinya sebagai pion.
__ADS_1