
Nisa melanjutkan srkipsi nya bersama dua orang sahabatnya. Dia terus memikirkan kesehatan suaminya. Belakang ini Farhan sering sakit kepala dan nafsu makan berkurang.
"Kamu gapapa Nis?" tanya Masha.
"Iyaa gapapa, lagi kepikiran aja sama Mas Farhan, belakang ini kesehatannya kurang fit" balas Nisa risau.
"Yaelah pengantin baru, paling juga kecapekan" lanjut Max.
Nisa terdiam sejenak, mencerna kata-kata yang di utarakan sahabatnya. Dalam hati dia ingin cepat-cepat pulang dan menuju kantor Farhan. Suaminya bekerja sebagai direktur utama di Perusahaan Periklanan.
"Guys, saya pulang duluan yaa" ucap Nisa cemas.
"Yaudah gapapa Nis, hati-hati yaa" balas Masha sahabatnya.
•••••
Nisa bergegas memanggil taxi menuju kantor Farhan. Dia punya firasat yang kurang bagus mengenai kondisi suaminya.
"Mau bertemu siapa Bu?" sapa resepsionis ramah kepadanya.
"Saya mau bertemu Mas Farhan" balas Nisa.
"Maaf Ibu sudah ada janji sebelumnya dengan Pak Direktur?" tanya resepsionis itu kembali.
__ADS_1
"Saya istrinya" ujar Nisa singkat dan terburu-buru.
"Ooo jadi Ibu istrinya Pak Farhan yang baru menikah, mari silahkan Bu agar saya antar ke ruangan Pak Farhan." ujar resepsionis nya lebih ramah lagi.
"Iya terimakasih" balas Nisa.
"Oiya Bu, Pak Farhan lagi ada tamu, Ibu tunggu sebentar di luar ya Bu" resepsionis menuntut Bisa ke tempat duduk di dekat ruangan Farhan.
Nisa hanya mengangguk, dia duduk dengan tenang. Terdengar suara Farhan sedang berbicara, mungkin saja itu adalah rekan kerjanya.
"Kamu lebih pilih dia dari aku" ujar suara dari dalam ruangan Farhan.
Nisa mengenali suara itu, Melani, perempuan yang menginginkan suaminya. Nisa tidak habis pikir kenapa Melani ada di ruangan suaminya.
Dengan sigap Nisa mendorong pintu ruangan Farhan. Nisa melihat Melani dan Farhan yang sedang berdebat di ruangan suaminya.
"Kamu sendiri ngapain disini?" Melani bertanya balik kepada Nisa.
"Sayang, kamu ngapain kesini?" tanya Farhan.
"Kenapa Melani ada disini Mas?" tanya Nisa dengan air mata yang tertahan.
"Sayang kamu jangan salah paham, Mas bisa jelaskan" ujar Farhan.
__ADS_1
"Sudahlah Mas, kita selesaikan di rumah saja" balas Nisa sembari berbalik dan menyeka air matanya.
Dia tak kuasa menahan tangis melihat suaminya bersama perempuan lain. Terlebih perempuan itu merupakan masa lalu suaminya.
Melihat istrinya pergi dengan perasaan kecewa hati Farhan seakan tersayat. Dia tidak ingin istrinya salah paham.
"Mel, saya mohon kamu jangan pernah muncul di hadapan saya lagi" ujar Farhan tegas.
"Aku gabisa Hans, kamu tahu kamu itu segalanya buat aku" balas Melani.
"Kita udah selesai dari jauh-jauh waktu Mel, kamu harus mencari lelaki lain yang lebih baik dari saya" balas Farhan.
"Saya tidak mau istri saya salah paham apalagi curiga kepada saya, saya sangat menyayanginya" lanjut Farhan lagi.
"Maaf Hans, kamu gak bisa paksa aku. Aku kamu akan tetap menjadi kita" balas Melani seraya meninggalkan Farhan.
•••••
Farhan bergegas pulang ke rumah, lelaki itu tahu bahwa istrinya butuh penjelasan darinya. Farhan tidak ingin istrinya sampai sedih atau menangis. Lelaki itu tidak tahu bahwa Nisa sudah menangis sejak ia meninggalkan ruangan Farhan.
"Sayang" panggil Farhan lembut pada istrinya.
Nisa yang sedang menyisir rambut tidak memalingkan pandangannya dari cermin. Wanita itu tak kuasa melihat suaminya.
__ADS_1
"Sayang, Mas tahu kamu pasti terkejut, Mas bisa jelasin semuanya sayang" ujar Farhan memelankan suaranya.
Nisa mulai berbalik menghadap suaminya dan mendengarkan penjelasan Farhan. Wanita itu tidak ingin pertengkaran diantara mereka. Nisa segera menurunkan egonya dan bersikap lebih dewasa.