
Sebenarnya Anisah menginginkan kuliah di London. Para sahabatnya juga tahu bahwa London adalah kota impian Anisah. Tetapi wanita itu tiba-tiba ingin berkuliah di Belanda. Tempat dimana suaminya menimba ilmu sewaktu kuliah.
Anisah membuka mukenah nya, wajahnya masih berlinang air mata. Besok pagi suaminya akan berangkat ke Taiwan. Anisah sudah mengetahui rumah sakit yang akan di kunjungi suaminya setelah ia mencari tahu lebih dalam.
"Saya harus kuat demi Mas Farhan" ujar Anisah seraya merapikan mukenah nya.
Setelah selesai shalat dzuhur, Anisah melanjutkan kegiatannya. Wanita itu sedang mempersiapkan keperluan suaminya. Anisah teliti dalam mengemas barang-barang suaminya.
Setelah Anisah selesai mengemas barang milik suaminya, dia segera mencari secarik kertas dan pulpen. Anisah berniat menuliskan sesuatu.
"Dear suamiku tersayang, saat kamu membaca surat ini berarti kamu telah sembuh dari penyakit yang kamu derita. Sejak awal saya sudah mengetahui penyakitmu, naluri seorang istri akan selalu ada dalam diri saya. Karenanya kamu tidak dapat menyembunyikan sesuatu dari saya. Saya bahagia akhirnya kamu terbebas dari penyakitmu. Mas, kamu tidak perlu khawatir mengenai saya. Mas tahu sendiri kalau saya wanita yang kuat. Mas juga tidak perlu merasa bersalah atas segala yang terjadi di rumah tangga kita. Kamu merupakan suami terhebat Mas, kamu bisa sabar dengan sifat saya yang kekanakan. Kamu bisa berpura-pura tegar di hadapan saya selama kamu sakit parah. Padahal saya tahu di belakang saya sudah banyak air mata yang kamu keluarkan. Oleh karenanya mari kita saling menguatkan Mas, karena saya adalah bagian dari kehidupan mu."
Isi surat tersebut di tulis dengan tetesan air mata. Anisah segera melipat kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam amplop berwarna merah muda.
•••••
__ADS_1
"Saya mohon bantu saya, hanya ini yang dapat saya perbuat" ujar Nisa.
"Bagaimana kamu tahu tentang penyakitnya?" tanya Mario.
"Kamu tahu bagaimana naluri seorang istri. Saya mau kamu memberikan surat ini ketika Mas Farhan sembuh dari penyakitnya" pinta Anisah.
"Tetapi jika Allah berkehendak lain, saya akan ikhlas, yang bisa kita lakukan sebagai manusia adalah berusaha dan berdoa" lanjut Anisah lagi.
"Jadi kamu tidak mau memberitahu Farhan bahwa kamu telah mengetahui penyakitnya?" tanya Mario.
"Oleh sebab itu surat itu akan sampai padanya jika ia benar-benar sembuh, jika tidak, jangan pernah berikan surat itu padanya" Anisah melanjutkan kalimatnya sembari meneteskan air mata.
"Baiklah jika itu keputusan mu, saya kagum kepada mu Nis" ujar Mario.
"Farhan benar-benar beruntung mendapatkan mu sebagai istrinya" lanjut Mario lagi.
__ADS_1
"Kamu salah, Saya lah yang sungguh beruntung mendapatkan Mas Farhan sebagai suami saya" balas Anisah.
Mario tersenyum penuh kagum. Dia telah mengenal Farhan sejak kecil, mereka tumbuh bersama hingga berkuliah di Belanda bersama. Mario bersyukur sahabatnya memiliki wanita yang tulus menyayangi nya.
Setelah mereka selesai berbicara Anisah segera pamit. Dia tidak ingin pertemuan mereka di ketahui orang lain, terkhusus Farhan.
"Saya permisi dulu" ujar Anisah.
"Iya, kamu hati-hati ya" balas Mario.
"Tolong rahasiakan pertemuan kita dari Mas Farhan" pinta Anisah lagi.
"Iya kamu tenang saja, saya akan merahasiakan semuanya hingga ia sembuh" balas Mario.
"Terimakasih Mario, Mas Farhan juga beruntung memiliki sahabat sepertimu" puji Anisah sebelum ia berbalik dan pulang ke rumah.
__ADS_1