Menikah Muda Denganmu

Menikah Muda Denganmu
Season 2 : Pertemuan


__ADS_3

Anisah memanggil supir pribadi untuk mengantarkan dirinya menuju perusahaan milik keluarganya. Wanita itu sungguh tidak sabar untuk mengenal wanita yang bernama Hanifah.


"Kita ke perusahaan ya" ujar Anisah.


"Baik Nyonya" jawab supir tersebut.


Mia telah menunggu kedatangan Bunda Fauzan di kantor. Mereka berjanji untuk bertemu pada pukul sepuluh pagi. Mia sudah tidak sabar untuk mempertemukan Nyonya besar dengan calon menantunya.


Hanifah tengah membela tukang sapu jalanan yang sedang di hakimi oleh seorang karyawan utama. Karyawan itu membuang sampah sesuka hatinya pada saat tukang sapu jalanan sedang bekerja.


Hanifah yang tidak sengaja melihat itu langsung membela si Kakek. Karyawan itu membentak si Kakek tukang sapu dan merendahkannya.


"Ini memang tugas kamu, harusnya sudah tua kamu semakin sadar diri akan tugas mu" ujar karyawan itu seraya membuat tisu bekas mulutnya di hadapan Kakek tukang sapu.


"Iya maafkan saya Tuan" ujar si Kakek tidak berdaya.


"Bapak kasar sekali kepada Kakek" jawab Hanifah yang tidak terima.


Kericuhan pun terjadi di depan kantor. Beberapa menit kemudian Anisah telah sampai di tempat tujuannya. Wanita itu segera melihat ada keributan di depan perusahaan putranya.


"Ada apa ini ribut-ribut" ujar Anisah.


"Ini lagi orangtua sok ikut campur" ujar si karyawan utama.


"Jaga omongan Bapak, Ibu ini lebih tua dari Bapak dan harus dihormati" jawab Hanifah mulai kesal.


"Kamu masih karyawan baru sudah berani melawan saya" ancam si karyawan utama.


"Susah Nak tidak apa-apa, hati mu baik sekali," ujar Anisah kepada Hanifah.

__ADS_1


"Memangnya apa yang sedang terjadi?" tanya Anisah.


"Begini Bu, ketika si Kakek sedang kebersihan Bapak ini dengan sesuka hati membuang sampah sembarang, tisu, bekas rokok dan sampah plastiknya Bu, padahal tempat sampah sudah tersedia" ujar Hanifah.


Anisah yang langsung mengerti dengan keadaan langsung tersenyum. Dia mengajak si Kakek dan Anisah masuk ke dalam kafe yang berada di dekat perusahaan.


"Kalian mau pesan apa, tenangkan hati dulu ya" ujar Anisah tersenyum manis.


Nyatanya usia tidak memakan kecantikan Anisah. Terlebih lagi kecantikan yang ada di dalam hatinya terpancar sempurna.


"Tidak perlu repot-repot Bu, saya harus segera bekerja" ujar Hanifah.


"Tidak apa-apa, minumlah sebentar" jawab Anisah.


Tak lama kemudian tiga minuman segera datang ke meja mereka. Anisah segera memulai percakapan dengan gadis berhati mulia itu.


"Nama saya Hanifah Bu" jawab Hanifah.


Anisah terkejut mendengar hal tersebut. Itu nama yang sama dengan wanita yang sedang ia cari. Anisah kemudian memastikan kebenarannya dengan bertanya lebih lanjut.


"Kamu karyawan baru di perusahaan ini?" tanya Anisah memastikan.


"Iya benar sekali Bu" jawab Hanifah tersenyum manis.


Anisah sungguh bahagia dan bersyukur bahwa anaknya telah jatuh cinta pada wanita yang luar biasa. Anisah tidak berhenti memandang kagum kepada Hanifah.


"Kenapa Ibu memandang saya seperti itu, ada yang aneh di wajah saya Bu?" tanya Hanifah polos.


"Kamu cantik sekali, kamu mau tidak berkenalan dengan putra Ibu?" puji Anisah.

__ADS_1


"Ibu terlalu memuji saya yang biasa ini" jawab Hanifah.


Tak lama kemudian setelah mereka selesai minum, Anisah ikut dengan Hanifah masuk ke kantor dengan alasan ingin bertemu putranya. Kakek tukang sapu juga segera menyelesaikan tugasnya dan berterima kasih karena sudah ditolong.


"Nama putra ibu siapa?" tanya Hanifah.


"Hmm, kamu mau berkenalan dengan putra Ibu?" tanya Anisah.


"Bukan begitu maksud saya Bu" jawab Hanifah tersipu malu.


"Bundaaaaa, akhirnya datang juga" ujar Mia memeluk Anisah.


"Putri Bunda" jawab Anisah yang sudah menganggap Mia sebagai putrinya.


"Ooo jadi anak Ibu sekretaris Mia ya? saya kita anak lelaki tadi" ujar Hanifah salah paham.


"Hanifah, bagaimana kamu bisa bersama Bundanya Bos?" tanya Mia kaget.


"Ha? Bundanya Bos Fauzan?" tanya Hanifah lebih kaget lagi.


"Jadi maksud Ibu anak Ibu adalah Bos Fauzan?" tanya Hanifah memastikan.


"Iya sayang" jawab Anisah menahan tawa.


Pipi Hanifah seketika merona dan jantungnya berdegup lebih cepat. Ternyata sedari tapi dia sudah bersama calon mertua. Menyadari hal itu Anisah tersenyum manis dan mencubit pipi imut milik Hanifah.


"Jadi bagaimana, kamu mau kan berkenalan dengan putra Ibu?" tanya Anisah.


Hanifah hanya tersenyum mewakili perasaannya. Anisah yang mengerti juga merasa bahagia telah menemukan wanita yang tepat untuk putra tersayangnya.

__ADS_1


__ADS_2