Menikah Muda Denganmu

Menikah Muda Denganmu
Kado Terindah


__ADS_3

Anisah penasaran dengan kado yang akan diberikan Melani. Melani mengatakan bahwa Anisah belum pernah mendapatkan kado tersebut seumur hidupnya.


Tidak hanya Anisah, Raihan dan Teh Siska juga saling pandang. Mereka tidak menyangka Melani akan mengatakan hal tersebut. Setahu mereka kado yang akan diberikan berupa tas, mereka berpikir Melani melebih-lebihkan ucapannya agar Anisah terkesan.


"Mel, saya rasa kamu terlalu berlebihan" ujar Raihan menahan tawanya.


"Iya Mel, kita hanya memiliki kado biasa" balas Teh Siska.


"Saya sudah mengubah kado biasa menjadi kado yang luar biasa Teh, Rai" balas Melani.


"Bagaimana bisa?" tanya si Teteh.


"Ya jelas bisa lah Teh" balas Melani yang membuat semua orang semakin penasaran.


"Ya sudah kalau begitu berikan kadonya" pinta Raihan sudah tidak sabar.


"Ini, selamat ulang tahun Anisah" ujar Melani seraya memberikan sebuah kado yang lumayan besar.


"Ini mah tas yang ukuran besar" balas Raihan sok tahu.

__ADS_1


"Buka aja dulu" ujar Melani.


Anisah mengangguk dan mulai membuka kadonya. Kado berbungkus pink itu terasa ringan di tangan Anisah.


Setelah Anisah membuka kado berwarna pink, di dalamnya ia menemukan kado berwarna merah. Di dalam kado ada kado lagi yang lebih kecil. Begitu seterusnya hingga Anisah sudah membuka enam kotak kado.


"Yang benar aja Mel, kamu kasih Anisah kado kosong? ringan amat" ujar Raihan setelah menimang-nimang kado yang diberikan Melani.


"Kan belum selesai dibuka" balas Melani.


"Ya sudah kamu buka lagi Nis" ujar Teh Siska.


Setelah sepuluh bungkus kado dibuka, tersisa kado yang sangat kecil berwarna abu-abu. Itu merupakan salah satu warna kesukaan Anisah.


"Kecil sekali, saya yakin ini yang terakhir" ujar Raihan percaya diri.


"Ini kosong, beneran, gak ada isinya sama sekali, saya yakin" lanjut Raihan lagi setelah menerka-nerka isi kotak terakhir. Ringan seperti tidak memiliki isi sama sekali.


"Kan belum di buka Bambang" ujar Melani setengah kesal kepada Raihan.

__ADS_1


Setelah Anisah membuka isi kotak itu, ia benar-benar terkejut. Benar sekali, itu merupakan kotak terakhir yang berisikan tiket pesawat menuju Taiwan atas nama Anisah.


"Ini yang benar? Bagiamana bisa? Mel kamu bisa jelaskan ini?" ujar Anisah dengan mata berkaca-kaca.


"Iya Nis, ini surprise untuk kamu" balas Melani.


"Ini sudah di rencanakan dari seminggu yang lalu, sewaktu kamu wisuda dan sibuk, saya meminjam data kamu sebentar, seperti KTP dll, tas kamu kan saya yang pegangin" ujar Melani mulai menjelaskan.


"Direncanakan? kamu tidak ada merencanakan ini bersama kami?" tanya Raihan bingung.


"Saya merencanakannya dengan Hans dan juga Mario, ceritanya panjang" balas Melani.


"Kamu mau ceritain ke saya Mel, saya akan mendengarkan semuanya" balas Anisah.


"Baiklah saya akan menceritakan semuanya" ujar Melani.


"Kesehatan Hans selama seminggu terakhir ini sudah membaik, dia begitu kuat dan semangat. Akhirnya Minggu lalu Mario memutuskan untuk memberitahukan kepada Hans bahwa Anisah sudah mengetahui semua mengenai penyakit Hans. Mario sudah mempertimbangkan masak-masak sebelum memberitahu Hans" Melani memulai ceritanya.


"Hans senang kamu masih bisa tersenyum walaupun kamu sudah tahu mengenai penyakitnya. Hans jadi merasa tenang, ia bahkan menyiapkan tiket pesawat untuk mu melalui saya. Hans sangat merindukan kamu Anisah, sekarang ia sudah tidak malu lagi untuk berjumpa denganmu, walaupun kini kepalanya sudah botak dikarenakan kemoterapi" lanjut Melani lagi.

__ADS_1


Anisah menangis bahagia mendengar itu semua. Dirinya begitu terharu melihat perjuangan suami tercintanya. Anisah yakin bahwa mereka bisa melewati semua ini dan berakhir bahagia.


__ADS_2