Menikah Muda Denganmu

Menikah Muda Denganmu
Aku Hamil?


__ADS_3

Bunyi alarm membangunkan ku dari tidur, sekarang jam empat pagi dan aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Setelah mandi aku membangunkan Mas Farhan, aku tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi malam.


"Mas bangun mandi dan sholat subuh", ajak ku.


"Iya sayang" balas Mas Farhan.


Kami sholat subuh berjamaah berdua. Setelah sholat kami mengaji bersama dilanjutkan joging bersama juga. Pagi nya aku dan Mas Farhan jalan-jalan menikmati pantai dan kulineran.


Selama beberapa hari kami habiskan dengan rutinitas yang seperti itu. Tetapi kebersamaan tidak membuat kami jenuh. Hari kesepuluh di Bali merupakan Hary terakhir kami di Bali. Pagi hari aku langsung mual-mual dan pusing. Mas Farhan yang sedang sarapan menghampiriku.


"Kamu gapapa sayang?" tanya Mas Farhan. Aku menggelengkan kepalaku, aku melihat Mas Farhan yang mengerutkan keningnya.


"Jangan bilang Mas berpikir yang bukan-bukan?" ujarku.


"Contohnya?" balas Mas Farhan.


"Jangan pikir aku hamil sekarang Mas, kita baru tiga minggu menikah" ucapku.


Mas Farhan tertawa melihat tingkah laku ku, "who knows sayang, Mas kan jago, hari pertama langsung berhasil maybe" Mas Farhan mencoba menggodaku dengan wajah nakalnya.

__ADS_1


Aku mencubit tangan Mas Farhan dan menggelengkan kepalaku. Lagi-lagi Mas Farhan tertawa, dia memelukku erat dan mencium keningku. Dia mengajakku berobat, tetapi aku tidak mau, aku yakin ini hanya masuk angin.


Sorenya kami kembali ke Bandung, selama perjalanan kami ketiduran karena kelelahan. Setibanya di Bandung aku masih memikirkan perkataan Mas Farhan, keesokan harinya aku diam-diam pergi ke apotek untuk membeli testpack.


Setibanya di rumah Mas Farhan mendatangiku. Sepertinya dia sudah mencari ku sedari tadi.


"Darimana aja sa" tanya Mas Farhan.


Aku bingung akan menjawab apa, bibirku hanya tersenyum. Aku berusaha membuat Mas Farhan tidak curiga padaku.


"Habis beli makanan Mas" ujarku gugup.


"Coklat? bagi dong" pinta Mas Farhan, aku menggeleng dan bergegas ke kamar meninggalkan Mas Farhan yang kebingungan.


Aku menyimpan testpack di bawah baju ku dan memastikan aman dalam jangkauan Mas Farhan. Malamnya saat selesai makan malam aku berniat untuk mencobanya. Tapi ntah kenapa perutku terasa sakit, aku bergegas ke kamar mandi dan menahan rasa sakit. Ada yang janggal tapi aku belum menemukannya.


Akhirnya aku urungkan niatku untuk mencoba testpack malam ini, perutku sakit sekali. Tak lama kemudian aku kembali ke kamar dan langsung berbaring.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Mas Farhan.

__ADS_1


Aku hanya meringis kesakitan, Mas Farhan memelukku dan mengecup keningku. Mas Farhan langsung memintaku untuk beristirahat, dia takut aku kelelahan.


Paginya azan subuh berkumandang membangunkan aku dari tidurku, perutku masih keram, tetapi tidak sesakit semalam. Aku bergegas mengambil air wudhu, aku tidak sadar Mas Farhan sudah bangun terlebih dahulu. Dia baru saja selesai mandi,


"Mau mandi sayang?" tanya Mas Farhan.


"Tumben Mas cepat mandi pagi subuh-subuh gini" responku iseng.


Mas Farhan hanya mengusap kepalaku. Aku bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu, ketika hendak buang air kecil ntah kenapa aku langsung kecewa. Mungkin karena Mas Farhan memberikan respon yang berlebihan mengira aku hamil. Nyatanya aku haid, aku bahkan belum mencoba testpack yang ku beli semalam. Tetapi aku tidak boleh patah semangat.


"Baru tiga minggu kok aku pengen gercep gini" batinku menggerutu.


Aku bergegas membersihkan diriku dan keluar dari kamar mandi. Berusaha memasang wajah biasa saja untuk tidak menarik perhatian Mas Farhan.


"Sholat berjamaah yuk sayang" ajak Mas Farhan.


"Aku lagi datang bulan Mas" jawabku singkat dan padat.


Mas Farhan mengerutkan dahinya. Sepertinya ia mengerti dengan keadaan ku saat ini. Mas Farhan kemudian mencoba menghibur ku.

__ADS_1


"Jangan cemberut gitu dong, senyum lebih manis" hibur Mas Farhan ketika melihat raut wajahku yang berubah. Aku tersenyum kemudian pergi ke dapur untuk membuat sarapan.


__ADS_2