
Hari Minggu yang cerah, tepat hari dimana Teh Siksa akan mengunjungi rumah Anisah. Teh Siska sudah setuju untuk tinggal di rumah Anisah selama dua bulan ini.
"Tin... tin... tin..." Raihan iseng membunyikan klaksonnya.
"Apaan sih Rai, berisik tahu" sahut Teh Siska.
"Biarin aja Teh, supaya Anisah kesal" lanjut Raihan melancarkan aksinya.
"Assalamualaikum Anisah" ucap Teh Siska.
"Wa'alaikumussalam Teh, Alhamdulillah si Teteh sampai juga" ujar Anisah.
"Iya nih Nis, Teteh mengemas beberapa barang tadi" lanjut Teh Siksa.
Raihan segera menurunkan koper Teh Siksa dari bagasi mobilnya. Anisah meminta tolong Raihan agar mengantarkan barang Teh Siska langsung ke kamar si Teteh.
"Wah, bagusnya kamar Teteh, ini kamu yang menyiapkannya?" tanya si Teteh kagum.
"Iya Teh, saya semangat menyambut Teteh, jadi kamar nya saya siapkan semaksimal mungkin" ujar Anisah semangat.
"Dasar, kamu belum berubah ya Nis" ejek Raihan.
Anisah tidak memperdulikan ocehan Raihan. Dengan semangat ia membantu Teh Siska menyusun barang-barangnya. Setelah semuanya beres, mereka bertiga istirahat di ruang tamu sembari menikmati minuman yang sudah disiapkan Anisah.
"Senangnya, akhirnya Anisah punya teman serumah" ujar Anisah.
Si Teteh hanya tersenyum, dia sudah mendengar semuanya dari Raihan. Mengenai suami Anisah, kehamilannya, dan alasan kepergian suaminya telah di ceritakan terlebih dahulu oleh Raihan. Lelaki itu takut si Teteh bertanya mengenai hal sensitif dan menyinggung perasaan Anisah.
"Lapar nih, kita pesan makanan yuk" ajak Teh Siska.
__ADS_1
"Tenang saja Teh, saya sudah menyiapkannya makanan" balas Anisah antusias.
"Astaga Anisah, persiapan kamu luar biasa" puji Teh Siska.
"Dari dulu dia sudah seperti itu Teh, selalu berusaha perfeksionis setiap melakukan apapun" ujar Raihan yang sangat mengenal kepribadian Anisah.
Anisah tetap tidak menggubris perkataan Raihan. Wanita itu lebih memilih berpura-pura tidak mendengarkan Raihan dibandingkan harus berdebat dengan lelaki itu.
"Kalian akrab ya, Teteh kira hubungan kalian akan awet dulu" ujar di Teteh keceplosan.
"Ehmm, Teteh..." kode Raihan memperingati.
Si Teteh langsung tersadar akan kesalahannya dan langsung cengengesan. Mereka menikmati makanan yang dimasak oleh Anisah.
"Masakan kamu terbaik Nis" puji Teh Siska.
"Terimakasih Teteh" balas Anisah.
"Saa.." ujar Raihan mencoba memulai pembicaraan mengenai Melani.
"Ya Rai?" tanya Anisah.
"Kamu kenal wanita yang bernama Melani? Katanya dia teman kamu" ujar Raihan.
Anisah diam sejenak, dia tidak mengerti kenapa Raihan menanyakan mengenai Melani. Setelah sadar dari lamunannya, Anisah mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Melani dan kisah Melani sebagai mantan Farhan saat di Belanda.
"Melani mantannya Mas Farhan sewaktu di Belanda Rai" ujar Anisah.
"Serius kamu?" tanya Raihan.
__ADS_1
"Iya Rai, awal kami bertemu di pesta pernikahan saya dengan Mas Farhan" ujar Anisah.
"Terus gimana?" tanya Raihan penasaran, Teh Siksa yang tidak mengerti mengenai pembahasan lebih memilih untuk menonton acara TV.
"Dia datang ke pernikahan kami dengan tangisan, dia kesal karena Mas Farhan lebih memilih menikah dengan saya dibandingkan dirinya" lanjut Anisah.
"Dia jahat ke kamu?" tanya Raihan.
"Sampai saat ini bisa dikatakan begitu, tapi saya mengerti kenapa dia seperti itu pada saya Rai, dia pasti teramat mencintai Mas Farhan" lanjut Anisah.
"Kamu benci sama dia?" tanya Raihan.
"Nggak Rai, saya tidak benci sama dia" balas Anisah kalem.
"Ah, syukurlah..." ujar Raihan seperti ada perasaan lega dalam dirinya.
"Syukur kenapa Rai?" tanya Anisah tidak mengerti.
"Bukan apa-apa Sa, hehe" balas Raihan setengah tertawa.
Anisah menceritakan keseluruhan kisah Melani dan Farhan saat mereka di Belanda. Mulai dari awal mereka bertemu hingga alasan mereka putus.
"Ting... Ting... Ting..." suara bel berbunyi.
"Eh, kita kedatangan tamu" ujar Anisah.
"Saya buka pintu dulu ya" lanjut Anisah.
"Lihat dulu siapa yang datang, jangan langsung dibuka" pesan Raihan.
__ADS_1
"Baik Rai" balas Anisah mengerti.