
Anisah begitu bahagia mendapatkan tiket ke Taiwan untuk menemui suaminya. Keesokan harinya Anisah menyiapkan sarapan pagi bersama Teh Siska dan Melani. Melani memutuskan menginap dikarenakan semalam sudah terlalu larut untuk pulang ke rumah.
"Saya sudah ajak Raihan untuk sarapan bersama kita sebelum ia ke kantor" ujar Teh Siska.
"Baguslah Teh, saya senang kita bisa sarapan bersama-sama" jawab Anisah.
"Ini masakan kamu Mel?" ujar Teh Siska setelah mencoba nasi kuning yang sudah di sajikan di atas meja.
"Iya Teh, gak enak ya?" tanya Melani penasaran.
"Enak banget Mel, ternyata kamu pandai masak ya" puji Teh Siska.
"Raihan pasti bahagia, dari dulu dia suka sama wanita yang pinter masak" iseng Anisah kepada Melani.
"Apaan sih Sa, saya gak ada hubungan apa-apa dengan Raihan" balas Melani.
"Lagi pula dia itu adik saya" lanjut Melani.
"Emang umur kamu berapa Mel?" tanya Teh Siska.
"Dua puluh lima tahun Teh" jawab Melani.
__ADS_1
"Walaupun kami satu angkatan, Hans lebih tua dari saya, iyakan Sa? Bener kan umur Hans bahkan dua puluh tujuh tahuh?" tanya Melani memastikan.
"Iya kamu bener banget Mel, tapi btw kenapa kamu gak mau saya panggil Teteh? Umur kamu kan lebih tua dari saya" balas Anisah.
"Karena kamu istrinya Hans, dan kamu sudah menikah, lagi pula saya lebih nyaman kalau kamu panggil saya dengan sebutan Melani saja" jawab Melani.
"Berarti gak masalah dong kalau Raihan juga panggil kamu Melani saja? Dia bahkan lebih tua satu tahun dari Anisah" ujar Teh Siska sembari tersenyum nakal.
"Kok tiba-tiba bahas Raihan sih Teh?" balas Melani seraya tertawa kecil.
"Dia kemarin curhat ke Teteh, kamu memaksa dia memanggil mu dengan sebutan Kakak" ujar si Teteh melanjutkan senyum nakalnya.
"Eh btw umur Teteh berapa?" ujar Melani mengalihkan pembicaraan.
"Kebetulan banget Teteh dua puluh tujuh tahun, mau saya kenalin dengan sahabat saya? Dia seorang dokter namanya Mario Teh, manatau jodoh hehe" balas Melani tidak mau kalah.
Sekarang keadaan berputar balik, Teh Siska mulai salah tingkah. Anisah dan Melani tertawa melihat kelakuan Teh Siska.
"Saya setuju Teteh dengan Mario, dia baik dan juga bertanggung jawab" lanjut Anisah mempromosikan sahabat suaminya.
"Aduh kalian ini, Teteh masih ingin menjadi wanita karir" ujar si Teteh mencari alasan, padahal ia juga ingin untuk segera menikah.
__ADS_1
Untung saja kedatangan Raihan menyelamatkan Teh Siska dari serangan Melani dan juga Anisah. Raihan datang dengan stelan kerjanya, terlihat rapi dan berwibawa.
"Assalamualaikum" ujar Raihan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Anisah seraya membuka pintu.
"Wah, sarapan sudah selesai ya" ujar Raihan bersemangat.
"Iya Rai kamu harus mencoba nasi kuning buatan Melani, itu paling andalan, enak banget" ujar Teh Siska membalas perbuatan Melani atas Mario.
"Wah terimakasih Melani" ujar Raihan tersenyum bahagia.
"Dasar bucin" ledek Teh Siska.
Mereka akhirnya menikmati sarapan dengan perasaan bahagia. Sungguh pagi yang menyenangkan bagi Anisah. Sudah lama ia mendambakan kebahagiaan lagi setelah sekian lama ia hanya larut dalam kesedihan.
******
Jauh di negara lain seorang lelaki terus-menerus bersin. Mario tidak flu, tetapi ia juga merasa gatal di telinganya.
"Jangan-jangan kamu lagi digosipin Rio haha" ujar Hans.
__ADS_1
"Iya sepertinya ada yang sedang membicarakan saya, dari tadi saya bersin terus" balas Mario.