
Tania dan Nasya berangkat bersama menuju kediaman Anisah. Mereka hanya melihat alamat rumah Anisah dalam undangan yang telah diberikan.
"Setahu saya komplek perumahan golden ini khusus orang kaya bukan?" tanya Nasya.
"Serius kamu?" tanya Tania.
"Iya, teman SMA saya ada yang tinggal di sana" ujar Nasya.
"Mungkin nama kompleknya aja yang sama, wilayah berbeda" ujar Tania menenangkan.
"Kamu benar, tidak mungkin seorang Anisah tinggal di komplek perumahan mewah" timpa Nasya lagi.
Mereka memutuskan untuk naik taksi. Nasya dan Tania segera masuk begitu mendapatkan taksi.
"Ke alamat ini ya Pak" ujar Tania.
"Wah alamat orang besar nih" jawab supir itu.
"Maksud Bapak?" tanya Nasya.
"Biasanya orang-orang yang di tinggal di perumahan itu merupakan orang-orang terpandang Non" ujar supir itu.
"Berarti benar yang kamu katakan tadi Nas" ujar Tania kaget.
"Sudahlah daripada menerka-nerka kita lihat saja nanti" jawab Nasya.
Setelah hampir setengah jam mereka diperjalanan, akhirnya mereka sampai pada alamat yang dituju. Nasya dan Tania ternganga melihat rumah Anisah yang begitu besar dan mewah. Mereka bertanya sekali lagi kepada Pak supir mengenai kebenaran alamat itu.
"Ini beneran Pak, kita tidak salah alamat kan?" tanya Tania.
"Beneran Non, ini sudah sesuai dengan alamat yang Non berikan" jawab si Bapak.
"Ya sudah terima kasih ya Pak" ujar Tania setelah membayar ongkos taksi.
Awalnya Tania dan Nasya ragu-ragu untuk masuk ke dalam. Kebetulan Kevin baru saja tiba di rumah Anisah. Nasya dan Tania buru-buru mencegat Kevin.
__ADS_1
"Vin, Kevin" ujar Tania.
"Eh Nasya, Tania, kalian tidak masuk?" tanya Kevin.
"Ini kami baru hendak masuk, kita barengan ya" pinta Nasya.
"Baiklah ayo masuk" ujar Kevin.
Mereka masuk ke dalam rumah Anisah. Nasya dan Tania tidak berhenti kaget melihat barang-barang mewah yang ada di dalam rumah Anisah. Mereka merasa malu telah berperilaku buruk kepada Anisah, dan menganggap Anisah hanya menggoda Raihan demi harta.
"Gila rumah si Anisah bagus banget" bisik Nasya pada Tania.
"Hust, kamu diam aja pura-pura santai" balas Tania.
Anisah sedang menyapa tamu-tamu yang datang. Wanita itu mengenakan terusan berwarna putih yang menawan. Sedikit riasan tipis di wajahnya membuat ia lebih terlihat segar. Perut buncitnya benar-benar besar, sudah seperti perut wanita hamil tujuh bulan. Padahal usia kandungan Anisah masih empat menuju lima bulan.
"Nasya, Tania" sapa Anisah ramah.
"Eh Anisah" ujar Tania.
"Terima kasih kalian sudah bersedia hadir, silahkan menikmati makanan sederhana kami ya" ujar Anisah tulus.
"Makasih Anisah" jawab Nasya dan Tania.
"Saya mengunjungi tamu-tamu yang lain dulu ya" ujar Anisah.
"Sayang kamu istirahat aja dulu, biar Mas saja yang mendatangi tamu-tamu" ujar Farhan pada istrinya.
Nasya dan Tania menatap kagum pada sosok pria botak di hadapan mereka. Kedua gadis itu tidak menyangka Anisah memiliki suami yang begitu keren dan terlihat seksi dengan rambut botaknya.
"Sayang kenalin ini rekan kerja saya, Nasya dan Tania" ujar Anisah lembut.
"Saya Farhan suami Anisah, terima kasih kalian sudah dapat hadir di acara kami" ujar Farhan tersenyum ramah.
Tania dan Nasya merasa salah tingkah. Mereka berdua gugup disapa oleh Farhan yang wajahnya begitu rupawan.
__ADS_1
"Eh iya, kami senang Anisah turut mengundang kami, semoga anak kalian lahir dengan sehat ya" ujar Tania terbata-bata.
"Aamiin, saya senang Anisah punya rekan-rekan kantor yang sungguh baik, sekarang saya bisa lebih tenang melepaskan dia kerja, dia ingin mandiri padahal saya sudah melarang dia bekerja" ujar Farhan sedikit tenang.
Nasya dan Tania saling bertatapan dan merasa malu. Selama ini mereka beranggapan Anisah yang tengah hamil musti bekerja dikarenakan kekurangan finansial. Nyatanya Anisah hanya ingin lebih mandiri.
"Iya, kamu bisa percayakan Anisah kepada kami" jawab Nasya yang dibalas anggukan dari Tania.
Anisah segera menyapa tamu-tamu yang lain. Dia ditemani suaminya yang selalu siaga menjaganya. Anisah melihat Kevin yang sedang berbincang dengan Sania.
"Kevin, Sania" ujar Anisah bersemangat.
"Hai bumil, selamat ya" ujar Sania turut bahagia.
"Terima kasih Sania, kamu memang yang terbaik" jawab Anisah.
"Kevin kan?" tanya Farhan.
"Kamu botak ya, kita samaan nih" ujar Farhan tertawa.
"Iya saya juga heran kenapa Kevin botak" ujar Sania.
"Sudahlah botak memang keren, ya nggak bro" ujar Farhan.
"Benar bro" jawab Kevin.
Setelah Kevin dan Sania, bumil juga mendatangi sahabatnya masa kuliahnya yaitu Max dan Masha. Mereka juga sudah wisuda, sama seperti Anisah.
"Selamat ya sayang" ujar Masha.
"Terima kasih sahabatku" jawab Anisah.
"Selamat girl" ujar Max tidak mau kalah.
"Terima kasih juga sahabat ku, btw kalian kapan menikah?" ledek Anisah.
__ADS_1
"Dasar bumil, ledek terus" canda Masha, mereka tertawa bersama.