Menikah Muda Denganmu

Menikah Muda Denganmu
Persiapan Honeymoon


__ADS_3

Mall terlihat lebih indah dikala aku berjalan bergandengan dengan Mas Farhan. Dia memegang erat tanganku seolah tidak ingin berpisah walau sebentar.


"Cari koper dulu yuk" ujar Mas Farhan, aku mengangguk menyetujui.


Sebenarnya aku sudah mempunyai koper, tapi terlalu kecil untuk barang ku dan Mas Farhan. kami akhirnya memutuskan membeli satu koper yang besar.


"Jangan beli bikini" bisik Mas Farhan, aku langsung mendaratkan cubitan kecil di lengan Mas Farhan.


"Ampun sa ampun" ujar Mas Farhan.


"Reaksi Mas like acting tahu" gerutu ku bercanda.


Selama di mall kami membeli kacamata couple, stelan couple, topi pantai couple, jam couple dan beberapa peralatan lain. Tak terasa kami sudah mulai lelah.


"Sudah dibeli semua kan?" tanya Mas Farhan.


"Bikininya belum Mas" jawabku iseng.


Mas Farhan hanya tertawa lepas sambil menatap ke arahku. Setelah belanja kami beralih menuju restoran, Mas Farhan mengajakku makan di luar.


"Aku minum aja deh Mas, masih kenyang" sahutku.

__ADS_1


Setelah makan, Mas Farhan membawaku keliling-keliling kota. Kota tempat kelahiran kami dan tempat dimana kami tumbuh.


"Dulu waktu Mas masih di Belanda, jalan-jalan seperti ini mengelilingi kota adalah hal yang paling Mas rindukan" ujar Mas Farhan.


"Udah cantik kok" ujar Mas Farhan ketika aku memperbaiki lipatan jilbabku yang rusak.


Aku hanya tersipu malu mendengar ucapan Mas Farhan. Malam menunjukkan pukul 22.00 WIB.


"Pulang nih?" tanya Mas Farhan.


"Terserah Mas" jawabku singkat sambil menatap kearah mata Mas Farhan yang bulat.


Hatiku tertegun, aku ingin menjadi seorang ibu, tetapi aku juga takut dengan usiaku yang masih tergolong muda ini. Tetapi aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku mampu menjadi sosok seorang Ibu.


"Insyaallah Mas" jawabku dengan tersenyum.


Mas Farhan mengusap kepalaku dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih memegang setir mobil. Aku mulai terbiasa dengan Mas Farhan, dia baik, romantis, peduli dan tampan. Lelaki terbaik itu kini telah menjadi suamiku.


Aku bersyukur, aku ingin dia selalu akan menatap ke arahku tanpa melihat kembali masa lalunya. Aku lumayan cemburu dengan Melani, nyatanya Melani lah yang meninggalkan Mas Farhan, bukan Mas Farhan yang meninggalkan Melani.


Bisa jadi rasa-rasa Mas Farhan masih ada yang tersisa untuk Melani. Akan tetapi aku tidak ingin menerka-nerka, aku ingin tetap husnudzan kepada suamiku.Tetapi jika dilihat dari tingkah Melani ketika datang ke pesta pernikahan kami, dia masih mencintai Mas Farhan, bahkan ia menangis untuk Mas Farhan.

__ADS_1


Hatiku sedikit sakit kala mengingat itu, walaupun Mas Farhan sudah bercerita bahwa mereka tidak punya hubungan apa-apa lagi, tetap saja hatiku belum sepenuhnya tenang. Tetapi aku terus berdoa agar rumah tangga kami selalu awet dan harmonis serta sakinah mawadah warahmah.


"Sayang, udah sampai loh, kok bengong gitu" ucap Mas Farhan sambil membuka sabuk pengaman ku.


"Eh iya Mas maaf" jawabku spontan.


Mas Farhan hanya tersenyum melihat tingkahku, aku langsung keluar dari mobil dan masuk menuju kamarku. Aku segera membereskan barang belanjaan kami tadi, Mas Farhan segera masuk ke kamar membawa barang-barang lain yang belum diangkat.


"Kopernya ditaruh dimana sayang?" tanyanya.


"Di samping meja aja Mas" balasku.


Selang beberapa menit kami sampai, Mas Farhan memutuskan untuk mandi. Tetapi saat ia hendak masuk ke kamar mandi, dia berbalik arah menghampiriku.


"Sayang mandi bareng yok" bujuk Mas Farhan sambil memeluk pinggulku dari belakang.


"Astagfirullah, saya terkejut Mas" balasku lagi sambil mencubit lengan Mas Farhan. Entah kenapa aku sangat suka mencubit lengan Mas Farhan.


"Ya sudah ayo kita mandi bareng Mas" jawabku malu-malu.


"Yes, senangnya, makasih sayang" balas Mas Farhan dengan nada imut yang disengaja nya. Kami pun mandi bersama sebelum tidur malam. Syukurlah kami sudah sholat terlebih dahulu di masjid tadi.

__ADS_1


__ADS_2