
Melani bangun dari tidurnya saat bunyi alarm membangunkannya untuk shalat subuh. Dia melihat dirinya yang sudah berganti pakaian. Pipi Melani langsung terasa panas ketika menerka-nerka apa yang terjadi dengan dirinya semalam.
"Rai, ayo bangun shalat" ujar Melani.
"Iya sayang, Mas udah sadar ini" jawab Raihan setengah sadar.
"Kamu berwudhu dulu gih" pinta Melani.
"Kamu saja duluan sayang" jawab Raihan.
"Raiiiiii" ujar Melani setengah memaksa.
"Jangan panggil saya Rai lagi, kamu harus panggil sayang atau Mas" ujar Raihan pura-pura merasa kesal.
"Ya sudah sana berwudhu sayang" bujuk Melani manja.
"Baiklah sayang" jawab Raihan seraya mencium bibir Melani secara tiba-tiba.
"Kamu, dasar nakal" jawab Melani.
"Kamu yang nakal tidak memberikan saya jatah tadi malam" ujar Raihan seraya bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu.
__ADS_1
Pipi Melani terasa panas kembali, dia merasa lebih aneh dari biasanya. Dia tidak percaya dirinya bisa tersipu malu seperti itu.
Setelah Raihan selesai berwudhu, Melani segera berwudhu juga. Mereka sholat subuh berjamaah dengan penuh kekhusyukan.
Raihan memandang lembut istrinya setelah mereka selesai sholat. Raihan dan Melani duduk di tempat tidur dan bingung hendak melakukan apa. Ini merupakan hari pertama mereka di Paris dan mereka belum mengetahui jadwal mereka.
"Sayang" ujar Raihan.
"Iya sayang" jawab Melani.
"Terima kasih sudah sudi menjadi teman hidup saya yang penuh dengan kekurangan ini" ujar Raihan tulus.
"Sama-sama sayang, harusnya saya yang berterima kasih kamu sudah mau memilih saya diantara banyaknya wanita hebat di sekeliling kamu" jawab Melani tidak kalah romantis.
"Kamu sudah siap?" tanya Raihan.
Melani hanya tersenyum untuk mewakili kesediaannya. Setelah berdoa, Raihan mulai melaksanakan kewajibannya untuk menafkahi istrinya secara batin. Melani juga bahagia melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri.
*************
Sebulan berlalu dengan begitu cepat. Hari ini merupakan jadwal kepulangan Melani dan Raihan. Sejak dua hari yang lalu Melani merasa mual dan tidak enak badan. Raihan yang mengerti segera memberikan testpack yang dia bawa dari rumah. Raihan sudah menebak bahwa Melani lupa membawa barang yang begitu bermakna.
__ADS_1
"Kamu yakin saya coba sekarang Mas?" tanya Melani yang mulai membiasakan dirinya memanggil Raihan dengan sebutan Mas.
"Iya sayang, Mas ingin melihat hasilnya" ujar Raihan.
Melani kemudian masuk ke kamar mandi untuk mencoba alat tersebut. Beberapa menit Raihan menunggu di luar dengan perasaan yang tidak karuan.
"Mas" panggil Melani.
"Iya sayang" jawab Raihan.
"Nih" ujar Melani seraya memberikan testpack.
Mata Raihan berbinar, dia begitu bahagia melihat rezeki yang menghampiri keluarga kecilnya. Melani hamil anak pertama mereka. Raihan tidak sabar untuk pulang ke Indonesia dan membeli semua yang diingkan istrinya. Tak lupa juga ia ingin memberikan bantuan kepada anak yatim dan fakir miskin.
"Mas saya bahagia" ujar Melani.
"Saya juga sayang" balas Raihan dengan mata merah.
"Kamu mengangis Mas?" tanya Melani tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Mas terharu sayang, terima kasih ya" ujar Raihan memeluk istrinya.
__ADS_1
"Love you Mas" jawab Melani.
Raihan segera mengucapkan syukur kepada Allah atas segala kebahagiaan yang dilimpahkan kepadanya. Dia merasa begitu beruntung dan menjadi laki-laki yang sangat bahagia.