
Melani menceritakan segalanya pada Anisah. Tentang bagaimana dirinya merasa tidak pantas untuk bersama Raihan. Melani takut Raihan tidak akan menerima masa lalunya yang buruk.
Anisah mendengarkan keseluruhan cerita Melani dengan seksama. Setelah ceritanya selesai Anisah tersenyum lembut dan menanggapi cerita Melani dengan tenang.
"Mel pernahkah kamu percaya dengan yang namanya takdir?" tanya Anisah sembari tersenyum ramah.
"Saya percaya Mel" jawab Anisah.
"Kalau begitu kamu tidak perlu merasa ragu, setelah kamu bercerita, saya juga ingin menceritakan sesuatu padamu" ujar Anisah.
"Dulu sewaktu saya SMA, saya adalah wanita yang sangat dicintai Raihan. Kami mulai berpacaran saat kelas dua SMA, kamu percaya tidak bahwa dia tidak bisa melupakan saya hingga Raihan bertemu denganmu?" tanya Anisah.
"Serius Mel? berarti dia telah mencintaimu selama hampir lima tahun walaupun kalian sudah tidak bersama lagi?" tanya Melani takjub.
"Iya Mel, bahkan ia mengaku masih mencintai saya pada Mas Farhan, tetapi semua cintanya berubah dalam sekejap ketika ia menemukan mu, itu sudah bagian dari skenario Allah Mel" jawab Anisah.
"Kamu benar-benar wanita yang beruntung Sa, tidak heran, hati mu baik dan mulia" ujar Melani.
"Kamu salah Mel, saya tidak seberuntung itu, tapi begitulah cara Allah untuk mempertemukan saya dengan Mas Farhan, andai saja Mas Farhan tidak menabrak anak itu dan putus denganmu, mungkin saja sekarang saya tidak bersama dia" Anisah bercerita dengan penuh semangat.
"Andai saja kamu tidak datang ke sini untuk melabrak saya, kamu tidak akan bertemu Raihan yang tulus menyayangi mu, dia hanya membutuhkan sedikit waktu untuk merubah mu menjadi lebih baik" lanjut Anisah.
"Lihat dirimu yang sekarang, kamu sungguh seperti Dewi penolong bagi saya Mel, kamu datang di acara wisuda saya, memberikan kado dari Mas Farhan, menyiapkan tiket saya, bahkan kamu bersedia pergi menemani saya karena kamu takut saya kenapa-kenapa di jalan, sungguh mulia hatimu Mel, padahal saya tahu itu tidak mudah bagimu, karena saya adalah istri dari mantan terindah mu" lanjut Anisah lagi.
__ADS_1
"Tapi lihatlah, kamu sanggup Mel, kamu sanggup melawan ego mu dan menolong saya yang lagi kesusahan. Bagaimana bisa kamu masih menyebut dirimu tidak pantas bagi Raihan?" tegas Anisah.
"Terimakasih Nis, terimakasih banyak" Akhirnya Melani menumpahkan air matanya untuk kesekian kalinya.
"Jika kamu masih ragu, sebaiknya kamu sholat istikharah untuk memantapkan pilihan mu" ujar Anisah.
"Iya Sa, kamu benar, saya akan sholat istikharah" jawab Melani.
"Ya sudah kalo gitu, kamu segera istirahat ya, besok kita akan berangkat ke Taiwan" Anisah mengingatkan Melani.
"Oke Bu guru" balas Melani tersenyum.
*********
"Rai kamu sudah pulang sayang" ujar Mama Raihan.
"Iya Ma" jawab Raihan berusaha tersenyum.
"Baguslah kalau begitu, Mama sudah atur jadwal agar kamu segera bertemu dengan Shalihah, putri Om Rudi" ujar Mama Raihan.
"Buat apa Ma?" tanya Raihan.
"Mama rasa sudah tidak ada lagi alasan agar kamu tidak menikah, sebentar lagi usia mu 23 tahun, kamu sudah kerja dan berpenghasilan cukup" ujar Mama.
__ADS_1
"Lagi pula dia memang tunangan kamu sedari kamu kecil" lanjut Mama.
"Iya Ma, tapi Raihan akan memilih calon istri Raihan sendiri Ma" jawab Raihan.
"Sudahlah Raihan, lupakan Anisah, Mama tahu dia gadis yang baik, cantik, dan pintar" ujar Mama Raihan.
"Tetapi ia sudah menikah Rai, kamu harus menemukan wanita baru untuk melupakannya, sudah lima tahun Rai, Mama mengkhawatirkan mu" lanjut Mama Raihan.
"Saya sudah menemukan wanita lain Ma" ucap Raihan lirih.
"Serius?" tanya Mama bahagia.
"Iya Ma, tetapi wanita itu masih menolak Raihan, beri Raihan waktu Ma" pinta Raihan.
"Siapa nama gadis itu?" tanya Mama Raihan.
"Namanya Melani Winda Prawira Ma" jawab Raihan.
"Baiklah kamu istirahat dulu" ujar Mama Raihan.
"Baik Ma" balas Raihan seraya naik ke kamarnya.
Mama Raihan begitu penasaran dengan gadis bernama Melani. Wanita mana yang sanggup menolak putranya yang luar biasa. Mama Raihan segera mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Dio, segera cari tahu latar belakang gadis bernama Melani Winda Prawira" ujar Mama Raihan.