
Berhubung Teh Siska merupakan sepupu kandung dari Raihan, wanita itu bisa langsung kerja hari ini juga. Teh Siska melangkahkan kakinya dengan percaya diri.
"Pagi semua" ujar Teh Siska.
"Maaf, kamu karyawan baru itu ya?" tanya Sania ramah.
"Yup, benar sekali" jawab Teh Siska tersenyum.
"Tetehhhhh" ujar Anisah bersemangat.
"Hai darling, kamu udah datang" jawab Teh Siska.
"Sudah dong, saya kan karyawan budiman" ujar Anisah.
"Iya deh iya karyawan terbaik" jawab Teh Siska.
"Kenalin nama saya Siska" ujar Teh Siska pada Sania.
"Saya panggil Teteh juga?" tanya Sania.
"Tidak perlu, panggil Siska saja" jawab Teh Siska santai.
"Anisah memanggil anda dengan sebutan Teteh, saya juga begitu" ujar Sania lagi.
"Ya sudah terserah kamu kalau begitu" balas Teh Siska.
"Senang berkenalan dengan Teteh, nama saya Sania" ujar Sania memperkenalkan dirinya.
"Wah kamu ramah sekali ya" ujar Teh Siska.
"Dia teman pertama saya di kantor ini Teh" ujar Anisah.
"Wah pantesan" jawab Teh Siska.
__ADS_1
******
Nasya dan Tania mengulang perbuatan mereka seperti biasanya. Bergosip tentang anak baru sudah menjadi kebiasaan mereka.
"Kamu udah dengan belum ada karyawan baru lagi, btw dia kenalannya Anisah" ujar Tania.
"Iya saya sudah dengar, dia masuk jalur istimewa kan" tanya Nasya.
"Iya, apa jangan-jangan dia keluarganya Anisah yang mau belajar mandiri juga?" tanya Tania.
"Bisa jadi, apa jangan-jangan...." baru saja Nasya hendak mengucapkan kalimatnya, Sania langsung memotongnya.
"Kalau kalian penasaran tanya saja langsung, jangan menerka-nerka, sana kalian kenalan dulu" ujar Sania.
"Baiklah, siapa takut" jawab Tania seraya berjalan ke arah Teh Siska.
"Kamu karyawan baru ya?" tanya Tania.
"Iya, kenalin nama saya Siska" ujar Teh Siska.
"Iyup kamu benar sekali" jawab Teh Siska santai seperti biasanya.
"Berarti kamu dibantu masuk ke sini oleh Anisah?" tanya Tania berani.
Teh Siska hanya memasang wajah datar walaupun sudah ditanyai begitu. Dia mengerti maksud dari pertanyaan kedua gadis itu. Dengan santainya Teh Siska menjawab pertanyaan mereka dengan jujur.
"Tidak, kenapa saya harus dibantu Anisah sedangkan perusahaan ini milik Om saya" ujar Teh Siska memberikan pelajaran kepada Nasya dan Tania.
"Hah, maksudnya kamu sepupuan dengan Bos Raihan?" tanya Tania kaget.
"Exactly, benar sekali" jawab Teh Siska.
"Ooo begitu jadi kamu baru selesai kuliah?" tanya Nasya lagi.
__ADS_1
"Saya sudah menyelesaikan S2 saya di Amerika, dan bekerja di Perusahaan Amerika" jawab Teh Siska jujur.
"Berarti kamu pindah ke perusahaan ini?" tanya Tania.
"Yup, kalian benar" jawab Teh Siska.
Nasya dan Tania mengerutkan kening mereka. Mereka tidak habis pikir Siska yang berkerja di perusahaan Amerika memilih pindah ke Bandung.
"Kenapa kamu pindah, padahal perusahaan Amerika lebih besar" tanya Tania terheran.
"Kenyamanan yang terpenting, sahabat terbaik saya semuanya ada di Bandung" jawab Teh Siska.
"Ooo begitu, sekarang saya sudah mengerti, perkenalkan nama saya Nasya" ujar Nasya mulai memelankan suaranya.
"Saya Tania" ujar Tania memperkenalkan dirinya.
"Senang berkenalan dengan kalian, semoga kita cocok" ujar Teh Siska.
"Oiya Teh, itu kenalan dulu dengan Kevin" ujar Sania.
"Teteh? kenapa kamu panggil Siska dengan sebutan Teteh?" tanya Tania pada Sania.
"Saya ikut-ikutan Anisah hehe" jawab Sania malu.
"Saya juga deh, manggil Teh Siska aja" ujar Nasya.
"Ya sudah saya juga" ujar Tania tidak ingin beda sendiri.
"Saya Kevin, senang berkenalan dengan rekan kerja baru" ujar Kevin memperkenalkan dirinya.
"Saya Siska" jawab Teh Siska.
Mereka kembali melanjutkan aktivitas kerja. Saat Teh Siska hendak meminta file ke meja Kevin, dia tidak sengaja melihat foto terselip diantara map biru dan map merah. Terlihat seperti wanita yang sedang hamil, Teh Siska merasa seperti mengenali sosok wanita yang difoto secara menyamping itu. Wajahnya tidak jelas, tetapi ia yakin posturnya seperti Anisah.
__ADS_1
Teh Siska pura-pura tidak melihat foto tersebut. Dia ingin memastikan lebih jauh sebelum menuduh pria rekan kerjanya, yaitu Kevin.