
Anisah kembali ke meja kerjanya selesai makan siang bersama. Sania tidak berhenti menatapnya sedari tadi.
"Kamu kenapa Sania?" tanya Anisah.
"Saya terkejut dengan penjelasan Pak Rai tadi" ujar Sania.
"Kamu gak perlu berlebihan, saya kan rekan kerja kamu" jawab Anisah.
"Kamu rendah hati sekali Anisah" jawab Sania.
"Hey, pada kerja dong, asik ngegosip terus" ujar Tania.
"Udah masuk jalur istimewa, malas kerja lagi" lanjut Nasya.
Jaga omongan kalian, kalian tidak tahu Anisah itu..." baru saja Sania ingin menjelaskan, Anisah langsung memotongnya.
"Iya maaf Tania, Nasya, saya akan bekerja lebih rajin" ujar Anisah.
"Bagus deh kalo kamu sadar, secara kami ini senior kamu" ujar Tania.
"Tania, saya sarankan kamu jaga mulut mu" ujar Sania.
"Apaan sih, suka-suka kita dong" jawab Tania.
"Sudahlah Sania, kita lanjut bekerja saja" ajak Anisah.
__ADS_1
"Baik Sa" ujar Sania.
**********
Sore itu, pusat perbelanjaan ramai seperti biasanya. Mama Raihan sedang memilih beberapa pakaian untuk ia beli. Suasana hatinya sedang bagus dan ia tampak bersemangat.
"Bruk..." seseorang tanpa sengaja menyenggol Mama Raihan hingga wanita itu terjatuh.
"Maaf Kak, saya sedang buru-buru anak saya masuk rumah sakit" jawab lelaki yang menabraknya.
"Iya tidak apa-apa, kamu segeralah ke rumah sakit" jawab Mama Raihan yang masih tergeletak.
"Tante tidak apa-apa?" ujar seorang wanita seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Mama Raihan.
"Tidak apa-apa, terima kasih banyak ya" jawab Mama Raihan setelah wanita itu membantunya.
"Tidak usah repot-repot Nak, Tante naik taksi aja" jawab Mama Raihan seraya menyentuh kakinya yang bengkak.
"Saya bawa mobil sendiri kok Tante, saya bisa mengantarkan Tante" ujar wanita itu.
"Kamu bisa membantu Tante berjalan keluar dari Mall, Tante akan menelpon supir Tante" jawab Mama Raihan.
"Saya bisa Tante, ayo saya bantu" jawab gadis itu.
Gadis itu membantu Mama Raihan berjalan dan menuju kasir. Setelah itu memapahnya keluar untuk mengantarkan Mama Raihan ke mobilnya.
__ADS_1
Setelah mereka menunggu beberapa menit, mobil Mama Raihan akhirnya datang. Supirnya keluar dan membantu Mama Raihan masuk ke dalam.
"Terima kasih ya Nak" jawab Mama Raihan.
"Kamu baik sekali, zaman sekarang jarang sekali ada wanita muda yang peduli seperti dirimu" puji Mama Raihan.
"Sama-sama Tante, lain kali Tante harus lebih berhati-hati" ujar wanita itu.
"Lain kali kita harus bertemu, ini kartu nama Tante" ujar Mama Raihan.
"Baiklah Tante, lain kali saya akan menjumpai Tante" jawab wanita itu tersenyum.
Akhirnya Mama Raihan pulang setelah memberi kartu namanya. Saat perjalanan pulang, Mama Raihan baru teringat bahwa ia lupa menanyakan nama gadis itu.
"Astaga, saya lupa menanyakan nama gadis baik itu" ujar Mama Raihan penuh penyesalan.
"Semoga saja dia segera menghubungi ku, wajahnya begitu familiar" harap Mama Raihan.
Mama Raihan lupa bahwa ia pernah melihat foto gadis itu. Tetapi ia tidak begitu ingat karena itu hanya terjadi sekali, yaitu di saat ia meminta bawahannya memeriksa identitas gadis yang sedang disukai oleh putranya.
Melani melihat kartu nama itu dengan seksama. Dia sungguh terkejut ketika melihat status dari wanita yang baru saja di tolong nya.
"Nyonya besar perusahaan N, bukankah itu perusahaan milik keluarga Raihan?" tanya Melani dalam hatinya.
"Berarti yang saya tolong tadi Ibunya Raihan?" Melani begitu terkejut.
__ADS_1
Dia berjalan kembali menuju Mall dengan perasaan campur aduk. Baru saja gadis itu berpikir ingin melepaskan Raihan seutuhnya. Melani ingin Raihan segera melupakan dirinya dan menemukan wanita yang lebih baik. Tetapi begitu melihat Ibu Raihan yang baik, dia begitu penasaran dengan keluarga Raihan.
"Ah sudahlah Melani, kamu harus benar-benar melupakan pria muda itu" ujar Melani mengingatkan dirinya.