
"Berarti mulai lusa Abi sudah bisa berobat kan?" ujar Laila memastikan jadwal.
"Iya La" jawab Haikal.
"Ya sudah saya pulang dulu ya" ujar Laila.
"Laaaa" ujar Haikal menghentikan langkah Laila.
"Iya Kal?" tanya Laila.
"Kamu masih suka sama Mas Fauzi?" tanya Haikal memberanikan diri.
Laila hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan dari Haikal. Dia tidak yakin bagaimana untuk kedepannya. Dia tahu bahwa Fauzi hanya menganggap dirinya sebagai adik. Akan tetapi Laila masih berharap Allah sang maha pembolak-balik hati manusia merubah perasaan Fauzi.
"Kamu gak perlu menjawabnya jika tidak iyngin" lanjut Haikal.
"Yang pasti harus kamu tahu, aku nggak akan berhenti untuk mendoakan kamu agar bisa suka sama aku, akan tidak akan putus asa dan akan selalu berusaha" ujar Haikal.
"Semangat adik Haikal" ledek Laila.
Laila tidak ingin mematahkan semangat Haikal. Dia tahu bahwa dirinya dan Haikal berada di posisi yang sama. Dia juga tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Haikal.
********
Lagi-lagi Wendy berlari ke arah masjid dengan mengenakan mukenah. Dia terlihat lincah untuk ukuran seorang wanita. Wendy tidak ingin melewatkan satu menit saja untuk pelajaran mengaji ustadz Fauzi.
__ADS_1
"Assalamualaikum" ujar Wendy ngos-ngosan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Ustadz Fauzi dan anak-anak mengaji.
"Tumben kamu telat Wen" ujar Ustadz Fauzi.
"Tadi ada masalah sedikit ustadz" jawab Wendy.
Satu jam yang lalu
"Nona Wendy berhenti" ujar bodyguard suruhan Mama Wendy.
Wendy yang mendengar suara bodyguard itu langsung berlari dengan cepat. Wendy tahu cepat atau lambat tempat persembunyian akan diketahui. Padahal Wendy sudah tidak menggunakan alat komunikasi seperti handphone yang bisa dilacak oleh orangtuanya.
Keputusan orangtua Wendy untuk menjodohkan dirinya dengan pria pilihan mereka masih bulat. Wendy tidak mau menikah dengan lelaki yang bukan pilihannya. Dia juga ingin memantaskan diri agar dapat bersama Ustadz Fauzi. Wendy sadar bahwa Fauzi teramat bagus untuk dirinya yang penuh kekurangan.
Walaupun demikian, Wendy tidak pernah merasa rendah diri di hadapan ustadz Fauzi. Karena dia tahu bahwa dirinya tidak memiliki niat yang buruk. Hati Wendy tulus dan jujur, dia tidak pernah berbohong bahkan menyakiti orang lain.
Wendy jago bela diri, tetapi ia tidak pernah salah dalam memilih lawan. Dia hanya akan menggunakan kekuatannya itu untuk menolong orang yang membutuhkan. Contoh dari penggunaan bela diri yang pernah dilakukan Wendy seperti menangkap pencopet yang merampas dompet Ibu pedagang somay. Selain itu Wendy juga akan menolong anak-anak korban pemalakan kakak kelasnya.
Hingga saat ini dia tidak pernah benar-benar menyukai pria selain ustadz Fauzi. Maka dari itu dia menolak untuk dijodohkan oleh orangtuanya. Wendy terpaksa untuk menolak permintaan orangtuanya mengenai perjodohan. Wanita itu tahu bahwa orangtuanya menjodohkan dirinya dengan lelaki pilihan mereka hanya untuk meningkatkan bisnis keluarga mereka.
Wendy menginginkan laki-laki yang bisa menuntun dirinya ke jalan Allah. Walaupun Wendy tidak lahir dari keluarga yang kuat beribadah, dia ingin mengubah hal tersebut. Dia ingin menjadi penolong bagi orangtuanya nanti untuk bisa masuk surga.
"Wen" suara itu membangunkan Wendy dari lamunannya.
__ADS_1
"Sekarang giliran kamu" ujar ustadz Fauzi.
"Oiya maaf ustadz" jawab Wendy seraya melanjutkan bacaan.
*********
"Kenapa saya perhatikan kamu kurang fokus hari ini?" tanya Fauzi sepulang mengaji.
"Saya ada sedikit masalah keluarga ustadz" jawab Wendy.
"Ya sudah jangan kamu tunda-tunda masalahnya, segera diselesaikan" ujar Fauzi.
"Siap ustadz" jawab Wendy.
"Panggil Fauzi saja Wendy" ujar Ustadz Fauzi.
"Baik Ustadz, eh Fauzi" ujar Wendy malu-malu.
"Ya sudah saya permisi dulu ya" ujar Fauzi.
"Fauziii" ujar Wendy.
"Ya?" tanya Fauzi bingung.
"Besok saya ulang tahun" ujar Wendy malu-malu seraya berlari meninggalkan Fauzi yang kebingungan.
__ADS_1
"Assalamualaikum" teriak Wendy.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Fauzi seraya geleng-geleng kepala.