
Selama di taksi Shali menggerutu atas perlakuan Raihan padanya. Wanita itu benar-benar tidak menyangka bahwa Raihan agak tega membiarkan dirinya pulang sendirian.
"Kurang ajar si Raihan, ini semua gara-gara Melani" ujar Shali.
"Dasar wanita brengsek" lanjut Shali lagi.
Shalihah mengambil ponselnya dan hendak menghubungi Ibunya. Dia ingin menceritakan kejadian hari ini.
"Mi, Raihan bersikap kurang ajar padaku" isi pesan chat Shali.
Beberapa menit kemudian datang pesan balasan dari Ibu Shali. Beliau bertanya mengenai perlakuan Raihan terhadap putrinya.
"Memangnya Raihan berbuat apa sayang?" tanya Ibu Shali.
"Mami tahu, dia membiarkan aku pulang sendirian dengan Taksi" balas Shali.
"Hanya itu? jangan berlebihan sayang, mungkin Raihan terlalu lelah di kantor" balas Ibu Shali bijaksana.
Shali merasa bertambah kesal setelah melihat isi pesan chat dari Ibunya. Dia tidak menyangka Ibunya tidak menyalahkan Raihan dalam hal itu.
Setelah beberapa saat, Shali sampai di rumahnya. Dia bergegas menuju kamarnya sembari menenteng barang belanjaannya yang begitu banyak.
Saat Shali berbaring di atas kasurnya, suara handphonenya berdering. Terlihat tulisan nama Ken menghiasi layar ponselnya.
"Halo Ken" ujar Shali setelah mengangkat telponnya.
"Kamu dari mana aja sih sayang, seharian susah sekali di hubungi" balas pria bernama Ken.
"Aku istirahat sayang, kamu gak pengertian banget" ujar Shali menggunakan suara manjanya.
__ADS_1
"Bukannya kamu sudah sampai sedari pagi sayang?" tanya Ken.
"Iya, tapi aku tidak sempat istirahat tadi" jawab Shali berbohong.
"Lagian ada apa sih?" tanya Shali lagi.
"Kok kamu ngomongnya gitu, aku kangen sama kamu" balas Ken.
Mata Shali menyiratkan ketidaksukaan pada pria itu. Ken merupakan pacar Shali, mereka sudah dua tahun berpacaran. Ken dan Shali berkuliah di tempat yang sama di Inggris.
"Sayang? kamu masih di situ kan, halo" ujar Ken.
"Iya aku sudah lelah, ingin istirahat" ujar Shali.
"Emangnya kamu dari mana sayang?" tanya Ken.
"Sudahlah nanti aku kabari lagi, bye" Shali menutup telponnya.
Melani sedang berbincang-bincang dengan sahabatnya Mario. Dia ingin mendekatkan Mario dengan Teh Siska.
"Serius Mar, Teh Siska itu orangnya baik, cantik lagi" ujar Melani.
"Apaan sih hahaha" balas Mario iseng.
"Ih, saya serius Mar" ujar Melani lagi.
"Kamu harus segera bertemu dengannya" lanjut Melani.
"Kenapa kamu bisa akrab dengan Teh Siska itu? emangnya dia siapa?" tanya Mario.
__ADS_1
"Dia sepupu dari seseorang yang saya kenal" balas Melani.
"Sepupu siapa?" tanya Mario ingin tahu.
"Adalah, kamu gak perlu tahu" balas Melani gugup.
"Kamu menyembunyikan sesuatu ya?" tanya Mario lagi.
"Nggak Mar, dia hanya teman biasa" jawab Melani keceplosan.
"Hmm, teman biasa? memangnya kamu punya teman spesial?" ujar Mario asik membuat sahabatnya tersipu.
"Hentikan Mar" jawab Melani.
"Ayo cerita Mel, apa jangan-jangan kamu sudah menemukan pengganti Hans?" tanya Mario dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
"Sudahlah, sepertinya saya benar-benar tidak ada harapan" jawab Melani dengan raut wajah sedih.
"Siapa sih laki-laki yang sudah membuat sahabat saya menderita?" ujar Mario.
"Mar, kita sedang membicarakan Teh Siska" Melani berusaha mengubah topik pembicaraan.
"Kita selesaikan mengenai laki-laki itu terlebih dahulu, baru saya akan bertemu Teh Siska" ujar Mario tidak mau kalah.
"Serius?" tanya Melani bersemangat.
"Serius, sepertinya wanita yang bernama Siska itu luar biasa, sampai-sampai kamu sungguh bersemangat menceritakannya" ujar Mario.
"Tentu saja" balas Melani.
__ADS_1
"Ya sudah ceritakan lelaki itu terlebih dahulu" pinta Mario.