
Pagi kembali berganti, hari ini Farhan sudah berniat untuk memesan tiket pesawat nya. Dia telah menghubungi Mario untuk berangkat bersamanya.
"Hans, udah pesan tiket kita?" tanya Mario.
"Belum, ini baru mau saya pesan" balas Farhan.
"Pesan keberangkatan pagi saja" ujar Mario.
"Oke bro" balas Farhan seraya memesan tiket pesawat dari handphone nya.
"Anisah bagaimana?" tanya Mario.
"Dia belum tau sampai sekarang, dia mengira saya ada urusan bisnis di Taiwan" balas Farhan.
"Kamu gak berniat memberitahu nya?" ujar Mario.
"Tidak, saya akan memberitahu nya jika saya sudah benar-benar sehat" balas Farhan.
"Saya akan berusaha yang terbaik untuk kesehatan saya, saya yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk keluarga kami" lanjut Farhan lagi.
"Iya Hans, kamu harus semangat" Mario memberikan semangat kepada sahabatnya.
Akhirnya mereka sibuk membahas persiapan keberangkatan mereka. Tanpa sadar Melani sedari tadi mengikuti dan. menguping pembicaraan mereka.
"Anisah belum tahu?" tanya Melani.
__ADS_1
"Bukan urusan kamu" balas Farhan tegas.
"Ngapain kamu disini?" tanya Farhan lagi.
"Saya mau ikut ke Taiwan nemani kamu Hans" balas Melani.
"Tidak perlu, kamu tidak usah memperkeruh suasana" ujar Farhan.
"Kenapa? saya takut kamu kesepian Hans, apalagi istri mu tidak ada di sisi mu" balas Melani tidak mau kalah.
"Ada atau tiada, dia akan tetap menjadi satu-satunya di hati saya Mel, dia tidak akan pernah tergantikan" balas Farhan.
"Saya juga selalu ada buat kamu Hans, saya tidak pernah benar-benar meninggalkan kamu" Melani bersikukuh.
"Hentikan Mel, Hans sudah tidak ada perasaan tersisa untuk kamu" Mario mencoba membantu.
Melani merasa kesal dan meninggalkan mereka. Sampai saat ini dia sudah kehilangan cara untuk mendapatkan hati Farhan kembali.
•••••
Anisah masih di pasar untuk membeli bahan makanan. Wanita itu ingin memasak makanan kesukaan suaminya. Dia tahu sebentar lagi Farhan akan segera berangkat. Oleh sebab itu Anisah ingin memuaskan diri memasak makanan kesukaan suaminya. Mereka akan berpisah dalam jangka waktu yang mungkin cukup lama.
"Anisah...." ujar seorang laki-laki yang ia kenal.
"Rai, ngapain kamu disini" balas Anisah setelah melihat Raihan menghampirinya.
__ADS_1
"Saya ada keperluan yang mau dibeli" balas Raihan.
"Ya udah saya pulang duluan ya" balas Anisah.
"Sa, saya sudah selesai, barangnya nggak dapat" ujar Raihan.
"Gak berniat cari lagi?" tanya Anisah.
"Nggak, saya sudah mau pulang, saya antar kamu pulang ya" ajak Raihan.
"Gak perlu Rai, saya pulang sendiri saja" balas Nisa.
"Saya memaksa" ujar Raihan sambil tersenyum.
"Saya pulang sendiri saja Rai, gak enak di lihatin orang pulang berdua" ujar Anisah.
Raihan terdiam, Anisah benar-benar sudah berubah menjadi wanita shalihah. Dalam hati Raihan ingin memiliki sosok wanita seperti itu. Tetapi Raihan sadar bahwa Anisah sepenuhnya sudah milik Farhan.
"Baiklah Nis, kamu harus memastikan kamu selamat dalam perjalanan. Hati-hati ya" ujar Raihan setelah gagal mengajak Anisah pulang bersama.
"Terimakasih Rai, kamu juga hati-hati ya" balas Anisah santun.
Anisah berbalik meninggalkan Raihan yang diam terpaku. Anisah tidak sabar untuk sampai ke rumah. Selama perjalanan pulang Anisah merasa mual dan sedikit pusing. Tetapi ia tetap bertekad untuk memasak makanan kesukaan suaminya.
•••••
__ADS_1
Anisah membuka pintu rumah, sudah hampir sebulan ia tidak tinggal dengan mertuanya lagi. Dia tinggal berdua dengan Farhan di rumah baru mereka. Anisah merasa kesepian, Farhan tidak ada di rumah. Wanita itu segera memasak dan menyiapkan makanan untuk suami tercintanya.