
Lima menit setelah Anisah dicuri, Teh Siska sampai di cafe. Wanita itu terlambat karena membantu seorang nenek membawa belanjaannya yang begitu banyak ke lantai paling atas di sebuah bangunan tua tanpa lift.
Teh Siska duduk dengan nafas terengah-engah. Dia begitu kelelahan dan memesan minuman yang dingin. Setelah rasa lelah nya sedikit berkurang, Teh Siska melihat seisi cafe.
"Dimana Anisah, katanya sudah sampai" ujar Teh Siska merasa aneh.
"Tidak biasanya dia berbohong seperti ini" ujar Teh Siska.
Teh Siska mengambil handphonenya dan ingin menghubungi Anisah. Pada saat ia membuka what'sapp, terlihat Anisah membagikan lokasinya.
"Aneh, kenapa Anisah mengirim lokasi?" tanya Teh Siska.
Dengan sigap Teh Siska menghubungi nomor Anisah. Pada saat Anisah membayar minuman di kasir dan menghidupkan GPS, dia sengaja mematikan nada dering handphonenya. Ini berguna untuk tidak menarik perhatian pada saat hal-hal genting.
Panggilan untuk Anisah masuk tetapi dia tidak mengangkat. Teh Siksa segera ke kasir dan membayar minumannya. Saat ia hendak pergi, dia teringat sesuatu, Teh Siska mengambil handphonenya dan mencari foto Anisah.
"Mbak, ada lihat wanita ini datang?" tanya Teh Siska.
"Ooo ada Mbak, seingat saya dia keluar dengan seorang pria.
"Siapa Mbak?" tanya Teh Siska bingung.
Anisah mengatakan Farhan tidak dapat pergi bersamanya. Oleh karena itu dia mengajak Teh Siska untuk menemaninya. Teh Siska sudah sadar bahwa ada hal yang janggal.
__ADS_1
Teh Siska segera menghubungi Farhan dan menceritakan keadaan saat ini. Farhan segera menuju lokasi cafe tersebut. Sembari menunggu Farhan, dengan cerdasnya Teh Siska ingin mengecek cctv yang ada di cafe tersebut.
"Mbak saya ingin mengecek cctv, teman saya kemungkinan dalam bahaya" ujar Teh Siska.
"Baik Mbak, mari sini" ujar penjaga cafe.
Kevin, tertangkap jelas wajah Kevin oleh cctv. Teh Siska merasa marah dan menyalahkan dirinya yang terlambat menemui Anisah. Lima belas menit kemudian Farhan datang dengan cepatnya. Biasanya butuh waktu setengah jam dari kantornya menuju tempat tersebut.
"Siska, bagaimana?" tanya Farhan.
"Anisah kemungkinan dalam bahaya" ujar Teh Siska dengan mata merah.
"Kita harus bagaimana?" ujar Farhan berusaha tidak panik.
"Sepertinya itu isyarat bahaya dari Anisah untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu padanya" jawab Farhan seraya mengemudikan mobil.
"Siska telepon polisi sekarang" ujar Farhan.
"Bukankah ada peraturan orang hilang harus 1x24 jam?" tanya Teh Siska.
"Peraturan itu sudah dihapuskan, satu detik saja kita terlambat dapat mengubah keadaan" ujar Farhan dengan suara mulai bergetar.
Teh Siska segera menghubungi polisi dan menjelaskan semua. Farhan masih mengikuti arah lokasi yang dikirim Anisah.
__ADS_1
"Saya tidak mau mimpi buruk saya terjadi kepada istri saya" ujar Farhan, kali ini matanya sudah memerah.
"Tunggu saya Sa, saya akan menemukan mu" lirih Farhan disela-sela doanya.
***********
Anisah dipaksa bangun dengan siraman air dingin di kepalanya. Jilbabnya berantakan dan tubuhnya sangat lemah. Anisah memegang perutnya dengan gemetar. Dia melihat Kevin disampingnya dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Akhirnya kamu bangun juga" ujar lelaki yang mencurinya.
"Siapa kalian?" tanya Anisah marah.
"Kamu tenang saja, selama kamu bisa tenang dan diam kami tidak akan menyakitimu" ujar lelaki itu.
"Untuk apa kalian menculik saya" jerit Anisah, air matanya mengalir deras.
"Kami hanya diperintahkan, kamu jangan banyak tanya kalau ingin anakmu selamat" lanjut lelaki itu.
Anisah terdiam setelah mendengar ancaman itu. Dia tidak berdaya jika diancam menggunakan bayi yang berada di kandungnya.
"Ya Allah tolong kami" ucap Anisah berdoa.
"Mas kamu ada di mana" lanjut Anisah lirih.
__ADS_1