
Anisah masih belum terbiasa dengan keadaan ini. Biasanya ia makan sendiri atau terkadang dengan Ayah, sekarang sudah ramai bersama keluarga Mas Farhan. Anggota keluarga Mas Farhan juga tidak terlalu banyak. Abi, Mama, Mas Farhan dan adik laki-laki Mas Farhan bernama Kevin.
Kevin berusia sama dengan Anisah, 21 tahun. Dia berparas tampan, cerdas, mirip seperti Mas Farhan.
"Abi harap kamu bahagia masuk ke dalam keluarga kami" ucap Abi setelah makan siang selesai.
"Saya bahagia Abi, saya juga sangat bersyukur" jawab Anisah sopan.
Setelah selesai makan siang, Mas Farhan mengajak Anisah ke kamar untuk mendiskusikan sesuatu.
"Nis, kamu gak buru-buru kan kuliahnya?" Ucap Mas Farhan bertanya.
"Iya mas, semester ini aku tinggal buat skripsi, aku udah ada ide dah sudah di acc dosen, aku juga udah mulai ngetik dari jauh-jauh hari, emang kenapa Mas" jawab Anisah.
"Enaknya punya istri cerdas, cekatan, gak heran di umur 21 bakal jadi sarjana" puji Mas Farhan.
"Sebentar lagi saya 22 tahun Mas" jawab Anisah membenahi.
"Berarti kalau kita bulan madu gimana? kalo kamu sibuk sepuluh hari aja juga gak masalah" ajak Mas Farhan setengah memohon. Anisah tak kuasa menolak keinginan Mas Farhan, lagi pula hanya sepuluh hari, rasanya tidak ada masalah.
__ADS_1
"Baik mas, gak masalah, lagi pula itu hal yang wajar, Mas cuti kerja?" jawab wanita itu sambil bertanya kembali.
"Mas sudah ambil cuti sebulan semenjak seminggu sebelum resepsi kita" balas Mas Farhan menjelaskan.
Mereka berdiskusi mengenai tempat yang akan mereka kunjungi untuk berbulan madu. Walaupun hanya sepuluh hari, pasangan baru itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga mereka.
"Kita di Indonesia aja atau keluar Negeri?" tanya Mas Farhan mengenai keinginan Anisah.
"Lebih baik kita di Indonesia aja Mas, soalnya waktu yang kita miliki juga agak singkat" jawab Anisah.
"Mas setuju dengan pendapat kamu, kalau Mas pengennya Ke Lombok atau Bali saja, kalau kamu gimana?" ujar Mas Farhan. Anisah setuju dengan pendapat Mas Farhan, ia juga ingin kesana.
"Pendapat yang bagus Mas, saya setuju" jawab Anisah.
"Assalamualaikum Ayah" ucap Anisah sambil membunyikan bel.
Tak lama kemudian Ayah menyahut dari dalam. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, eh Nisa, nak Farhan, masuk-masuk" ajak Ayah dengan hangat.
Mereka duduk di ruang tengah, mbok Lastri segera menyiapkan minuman. Semenjak Anisah menikah, Ayah Anisah memperkerjakan mbok Lastri sebagai asisten rumah tangga yang merupakan isti dari Kang Asep yang sejak dulu sudah menjadi supir Ayah.
__ADS_1
"Apa kabar kalian" tanya Ayah.
"Alhamdulillah sehat Ayah, Abah di rumah juga sehat" balas Anisah.
"Ayah apa kabar?" ucap Mas Farhan bertanya kembali.
"Alhamdulillah sehat juga, apa gerangan Nisa dan Nak Farhan kemari?" tanya Ayah lembut.
"Putri Ayah sudah tidak boleh datang kesini lagi?" tanya Anisah bercanda.
"Ya jelas boleh, boleh sekali" balas Ayah sambil tersenyum.
Mereka akhirnya menjelaskan maksud dan tujuan mereka, jelas saja Ayah akan setuju.
"Kalau Nisa dan Nak Farhan sama-sama tidak terganggu dengan pekerjaan lain silahkan, Ayah turut senang" balas Ayah sambil tersenyum.
Bertemu dengan Ayah merupakan kebahagiaan bagi Anisah. Wanita itu senang melihat Ayahnya lebih sering tersenyum setelah ia menikah, ntah kenapa Ayah sangat ingin menikahkan nya dengan Farhan. Tetapi pilihan Ayah tidak salah, Farhan orang yang baik dan insyaallah kedepannya juga lebih baik lagi.
Mereka asik bercerita sambil tertawa, tak terasa sebentar lagi magrib. Keduanya bergegas untuk sholat berjamaah, malamnya mereka makan malam bersama dengan Ayah.
__ADS_1
"Ayah, Nisa dan Mas Farhan balik dulu, Ayah jaga kesehatan ya, setelah balik dari Bali Nisa langsung kesini bawa oleh-oleh buat Ayah" jelas Anisah panjang lebar.
Ayah hanya mengangguk dan tersenyum bahagia menemani mereka sampai ke pintu depan. Anisah menyalam tangan Ayah berpamitan sambil mengusap salam, Farhan juga demikian.