Menikah Muda Denganmu

Menikah Muda Denganmu
Do'a


__ADS_3

"Assalamualaikum" ucap Farhan seraya membuka pintu rumahnya.


"Wa'alaikumussalam Mas" jawab Anisah yang sedang menunggunya untuk makan bersama.


"Makan dulu ya Mas, saya sudah menyiapkan makanan kesukaan Mas" ajak Anisah.


Farhan mengangguk dan bergegas berganti pakaian. Setelah itu ia turun kembali, mencuci tangan dan makan bersama Nisa.


"Mas kapan mau berangkat?" tanya Nisa seusai mereka makan.


"Lusa, saya sudah selesai mengurus berkas dan paspor" ujar Farhan.


"Semangat Mas, saya yakin bisnis Mas akan berjalan lancar" ucap Anisah.


"Kamu tidak merasa sedih saya tinggal?" ujar Farhan.


"Nggak Mas, untuk apa saya sedih. Saya tahu setiap langkah yang Mas ambil adalah yang terbaik" balas Anisah.


"Kenapa kamu yakin?" tanya Farhan.


"Karena saya tahu Mas juga sudah mempertimbangkan segalanya dengan baik dan matang" balas Anisah yang matanya mulai berbinar.

__ADS_1


Farhan tidak sanggup mendengar ucapan istrinya. Seketika semangat nya untuk berobat dan sembuh meningkat drastis. Dia tidak ingin mengecewakan kepercayaan istrinya.


"Kamu doakan saja yang terbaik ya" ujar Farhan.


"Ingatlah akan hal ini Mas, apa pun hasil akhir dari perjalanan mu ini, itu bukan salah dan kehendak mu, itu semua sudah diatur oleh yang di atas" balas Anisah, dia sudah tidak kuat menahan air matanya yang sudah bercucuran.


"Apa maksud mu Nis?" tanya Farhan mula curiga. Anisa berbicara seolah-olah tahu mengenai penyakitnya.


"Saya cuma berjaga-jaga Mas, manatau disana kamu akan menyukai Melani dan tidak berniat kembali lagi kesini. Kita tidak tahu hal tersebut bisa saja terjadi. Allah sang pembolak-balik hati manusia Mas" ujar Anisah segera memperbaiki kata-katanya agar Farhan tidak curiga.


"Ahh, itu maksud mu. Iya doakan saja apa yang terbaik untuk kita" ujar Farhan seraya meninggalkan Anisah di ruang makan.


Setelah membereskan meja makan Anisah kembali ke kamar. Farhan sedang menyiapkan koper dan beberapa barang keperluannya.


"Biar saya saja yang menyiapkannya Mas" ujar Anisah seraya mendekat.


"Tidak usah" balas Farhan.


"Kamu istirahat saja Mas, sebentar lagi kamu akan berangkat" ujar Anisah bersikukuh.


"Baiklah" balas Farhan lagi, ia tidak dapat menolak niat baik istrinya.

__ADS_1


Farhan duduk di atas kasurnya. Dia menatapi istrinya yang sedang menyiapkan beberapa pakaian miliknya. Istrinya cantik dan lembut, terlalu indah untuk dimiliki. Farhan masih tidak percaya bahwa wanita cantik itu adalah istrinya.


"Bagaimana niat mu kuliah di luar negeri?" tanya Farhan.


"Saya belum memutuskan Mas" balas Anisah.


"Negara nya sudah kamu putuskan?" tanya Farhan.


"Belanda?" tanya Anisah.


Farhan terdiam, dia tidak habis pikir Anisah akan memilih Belanda. Tempat Farhan berkuliah dengan Melani juga Mario.


"Kenapa kamu memilih Belanda?" tanya Farhan.


"Saya belum memutuskan Mas, masih ragu-ragu" jawab Anisah.


"Pilih Amerika saja" ujar Farhan.


"Saya dulu sudah sempat berkuliah di Amerika Mas, Ibu saya meninggal. Kenangan buruk akan mengikuti jika saya memilih Amerika" jawab Anisah menjelaskan.


Farhan mengangguk, jawaban Anisah masuk akal. Tetapi ia juga tidak setuju jika Anisah memilih Belanda. Negara itu menyimpan kenangan pahit bagi dirinya. Sama seperti Anisah yang memiliki kenangan pahit di Amerika.

__ADS_1


__ADS_2