
Fauzi duduk di kursi halaman rumahnya seraya menikmati teh hangat. Dia mulai membuka surat berwarna hijau muda dari Wendy. Terlihat selembar tulisan penuh menggunakan tinta hitam.
**Assalamualaikum Fauzi,
Pertama saya meminta maaf karena mendadak berhenti dari pengajian. Dari awal saya selalu bersyukur dapat bertemu kamu dan belajar banyak mengenai agama. Sebenarnya saya merasa sangat berat harus berhenti, tetapi orangtua saya menginginkan saya segera menikah.
Saya tidak menyukai pria yang akan dinikahkan dengan saya. Tetapi dikarenakan bisnis, orangtua saya tetap bersikukuh ingin menikahkan kami. Orangtua saya ingin saya menikah dengan putra pemilik perusahaan agar kami sederajat. Padahal saya tahu hal itu tidak perlu, yang terpenting adalah keimanan dan tanggung jawabnya.
Sebenarnya saya memiliki alasan lain ketika menulis surat ini. Saya ingin membuat pengakuan sebelum saya menyesali segalanya. Saya menyukai ustadz Fauzi sejak pertama kali saya melihat ustadz di masjid.
Menyukai ustadz Fauzi tidak ada kaitannya dengan saya belajar agama dan mengaji. Semua ini saya pelajari tulus dengan niat saya yang baik. Saya harap ustadz menemukan wanita yang baik dan pantas untuk ustadz.
Demikian isi surat dari saya ustadz Fauzi, eh Fauzi. Saya bingung kenapa kamu lebih suka saya panggil Fauzi daripada ustadz Fauzi. Oiya, saya tidak akan lupa mengundang ustadz di acara pernikahan saya**.
Isi surat dari Wendy menggetarkan hati Fauzi. Hatinya seakan terkoyak dan merasakan sakit. Fauzi sadar bahwa dirinya memang menyukai Wendy sejak kali pertama mereka bertemu. Wendy cantik, cerdas, baik hati, dan tidak sombong.
Jauh di dalam hatinya Fauzi menginginkan Wendy menjadi istrinya. Kegelisahannya membuat Fauzi segera menemui Anisah.
"Bunda" ujar Fauzi.
"Iya kenapa sayang" jawab Anisah.
"Wanita yang menjadi pilihan saya akan segera menikah Bun" ujar Fauzi.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" tanya Anisah kaget.
Fauzi segera menceritakan segalanya dan mengenai isi surat juga. Fauzi juga mengatakan bahwa dirinya menginginkan Wendy menjadi calon istrinya.
"Kamu udah yakin?" tanya Anisah.
"Insyaallah Bun" ujar Fauzi.
"Bunda akan atur pertemuan dengan orangtuanya Wendy" ujar Anisah.
"Terima kasih Bunda" jawab Fauzi memeluk Anisah.
********
"Assalamualaikum" ujar Fauzan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Hanifah.
"Bos Fauzan" ujar Hanifah.
"Jangan panggil Bos, panggil Fauzan saja" ujar Fauzan.
"Ini kan masih di kantor Bos" ujar Hanifah.
__ADS_1
"Nanti malam kita makan bersama di rumah keluarga saya ya, Bunda rindu sama kamu" ujar Fauzan.
"Insyaallah Bos" ujar Hanifah.
"Saya akan jemput kamu beserta keluarga" lanjut Fauzan lagi.
"Tidak perlu bos, kami akan datang" ujar Hanifah meyakinkan.
"Baiklah kalo begitu, saya tunggu kedatangannya ya" ujar Fauzan.
"Baik Bos" jawab Hanifah.
Mereka kembali ke kantor dan melaksanakan tugas masing-masing. Hanifah dan Fauzan tidak pernah mencampur aduk kehidupan kantor dan pribadi mereka. Terkhusus Hanifah yang selalu sopan dan patuh terhadap atasannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh Bunda" ujar Fauzan menelpon Anisah.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh sayang" jawab Anisah.
"Alhamdulillah Hanifah mau makan malam bersama nanti Bun" ujar Fauzan bahagia.
"Alhamdulillah kalo begitu, Bunda akan mempersiapkan semuanya" jawab Anisah.
"Terima kasih banyak Bunda" ujar Fauzan.
__ADS_1
Sama halnya dengan Fauzan, Hanifah juga menghubungi keluarganya. Hanifah ingin mengabarkan mengenai makan malam bersama diantara dua keluarga itu. Hanifah senang jika orangtuanya dapat akrab dengan orangtua Fauzan.