
Hari ini merupakan hari dimana Farhan dan Anisah akan berpisah. Tetapi keduanya yakin dan percaya bahwa itu hanya sementara, bukan untuk selamanya.
"Terimakasih sudah mengantarkan saya ke Bandara, kamu sehat-sehat disini" ujar Farhan.
"Kamu juga sehat-sehat ya Mas, perbanyak berdoa, sesering mungkin hubungi aku" pinta Anisah.
Farhan diam sejenak, kemudian ia tersenyum dan mengangguk. Farhan tak kuasa bersikap tak acuh untuk saat ini, karena ia akan meninggalkan Anisah.
"Jangan buka pintu untuk sembarang orang, kalo bisa kamu tinggal bersama Abah atau Bapak" nasehat Farhan.
Anisah mengangguk, tidak tahan menahan ia akhirnya menangis. Anisah memeluk erat suaminya. Farhan juga demikian, sifat cuek yang pura-pura ia lakukan seketika menghilang. Farhan sudah tidak sanggup lagi untuk berpura-pura tidak peduli pada istrinya tersayang nya itu.
"Saya sayang kamu Nis" ucap Farhan sembari mencium kening Anisah, air mata Farhan juga terjatuh.
"Saya lebih mencintai kamu Mas, makanya jangan lupa jalan untuk pulang" balas Anisah.
Farhan mengangguk, setelah keduanya berpelukan cukup lama, Farhan mengeluarkan sesuatu dari tas nya. Cincin pernikahan mereka, Farhan ingin Anisah menjaga itu untuk dirinya.
"Kenapa kamu kasih ke saya Mas?" tanya Anisah.
__ADS_1
"Kamu jaga ya selama aku pergi" pinta Farhan.
"Iya Mas" Anisah mengangguk patuh pada permintaan suaminya.
"Kami berangkat ya sa" ujar Mario.
"Jika bisnis kami selesai kami akan segera pulang" lanjut Mario lagi menenangkan Anisah.
"Iya, saya titip Mas Farhan ya" pinta Anisah.
Mario mengangguk dan tersenyum ramah. Farhan juga bersalaman dengan Abah, Umi, dan Ayah Anisah.
"Iya Nak Farhan, insyaallah Allah selalu berada diantara hambanya yang bersabar, yang kuat ya Nak Farhan" balas Ayah Anisah.
Terlihat Umi menangis sejadi-jadinya, ia dan Abah telah mengetahui semua yang terjadi. Mereka tidak menyangka anak lelaki mereka akan mengalami hal tersebut.
"Umi, jaga Anisah untuk Farhan ya, tolong Umi tepatin janji Umi pada Farhan" ucap Farhan.
"Iya sayang, fokus pada kesembuhan mu ya" bisik Umi Farhan.
__ADS_1
Setelah semua selesai berpamitan, Farhan dan Mario pun berangkat. Sungguh perpisahan yang memilukan. Setelah Farhan pergi, Anisah mulai menangis lagi. Tangisan lebih sedih dibandingkan saat bersama Farhan tadi.
"Kamu tinggal sama Umi aja ya sayang" pinta Umi Farhan.
"Tidak usah Umi, Anisah sedang ingin sendiri, sekalian fokus menyiapkan skripsi" balas Anisah.
"Kalo begitu tinggal bersama Ayah saja ya" ucap Ayah Anisah.
"Ayahhh Anisah pengen sendiri dulu" bujuk Anisah.
"Baiklah, kalo kamu butuh apa-apa segera hubungi Ayah ya, jangan berpikiran yang macam-macam" balas Ayah.
Anisah mengangguk, setelah semuanya berada di dalam mobil Anisah mulai terdiam. Wanita itu masih belum menyangka hal tersebut terjadi padanya. Mereka masih beberapa bulan menikah, tetapi harus berpisah. Tetapi Anisah tidak menyerah, dia yakin Allah tidak akan mengujinya di luar batas kemampuannya.
••••••
Anisah membuka pintu rumahnya, kosong, dia hanya tinggal sendiri di rumah. Biasanya dia akan bercanda ria berduaan dengan suaminya. Semua telah berubah, menghasilkan kenangan yang indah untuk di kenang. Anisah duduk di ruang tamu, dia terdiam dan mulai menangis lagi.
Setelah lelah menangis Anisah beranjak pergi dari ruang tamu. Dia naik ke atas, ke kamarnya dan berbaring di atas tempat tidurnya. Anisah teringat sesuatu, di buka nya lemari pakaian mereka. Wanita itu mengambil sebuah pakaian yang ia sembunyikan, Pakaian itu kaus yang paling sering di pakai Farhan. Anisah memeluk kaus itu dan kembali ke tempat tidurnya. Dia terus menangis sembari memeluk kaus tersebut, Anisah kemudian terlelap dengan kaus di dekapan nya.
__ADS_1