
Besok adalah hari keberangkatan Anisah menuju Taiwan. Melani memutuskan untuk menemani Anisah dan sudah memesan tiketnya dari tiga hari yang lalu. Ini dikarenakan Anisah sedang hamil, Melani tidak ingin terjadi apa-apa pada Anisah dan calon bayinya.
"Terimakasih ya Mel, kamu sudah repot-repot nemani saya" ujar Anisah terharu.
"Santai Nis, saya juga tidak ingin kandungan kamu dalam bahaya" balas Melani.
"Yasudah malam ini kamu nginap disini aja ya" ujar Anisah.
"Btw, saya mau ke rumah Ayah sebentar, kamu mau ikut?" tanya Anisah.
"Gausah Sa, saya disini saja, kebetulan nanti saya ada janji dengan teman" jawab Melani.
"Ya sudah Mel, saya berangkat dulu ya" ujar Anisah.
"Hati-hati ya Sa" balas Melani.
********
Setelah Anisah meninggalkan rumah, ponsel Melani berdering. Melani tersenyum melihat layar handphonenya. Terlihat nama Raihan terpampang di layar ponsel Melani.
"Assalamualaikum Mel" ujar Raihan sesudah Melani menjawab telepon darinya.
"Wa'alaikumussalam Rai" balas Melani.
__ADS_1
"Kamu jadikan temani saya beli jas?" tanya Raihan.
"Iya, kamu sudah berangkat dari rumah?" tanya Melani.
"Sebentar lagi saya sampai ke rumah Anisah, kamu sudah siap-siapkan?" tanya Raihan.
"Sudah Rai" jawab Melani
"Baguslah sampai ketemu di sana Mel, Assalamualaikum" ujar Raihan.
"Oke, Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Melani.
Lima menit berlalu setelah percakapan mereka tadi. Terdengar suara mobil Raihan mulai mendekati rumah Anisah. Melani segera keluar dan mengunci pintu rumah Anisah.
"Maaf sudah menunggu lama" ujar Raihan.
"Terimakasih sudah mau menemani saya mencari jas" Raihan berbicara formal untuk membuat Melani jengkel.
"Adik Raihan, sebaiknya dipercepat sebelum saya berubah pikiran" jawab Melani tidak mau kalah.
Raihan mengerutkan keningnya seraya memutar arah mobil. Dia sangat tidak senang Melani menyebutnya dengan panggilan adik.
Setelah kurang lebih dua puluh menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di pusat perbelanjaan. Dengan sigap Raihan keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Melani.
__ADS_1
"Adik yang baik" puji Melani seraya menahan tawanya.
"Cukup Mel, saya tidak suka mendengarnya" balas Raihan dengan ekspresi wajah tidak senang.
Melani tertawa melihat tingkah Raihan. Mereka segera masuk ke dalam tanpa memulai perdebatan lain. Raihan ingin membeli jas, sedangkan Melani ingin membeli kekurangan dari barang-barang yang ia perlukan untuk keberangkatannya ke Taiwan besok.
"Kamu baik banget mau menemani Anisah ke Taiwan" ujar Raihan memuji.
"Saya hanya berusaha menebus kesalahan saya padanya" jawab Melani santai.
"Bagaimanapun juga kamu wanita yang baik, saya kagum sama kamu" ujar Raihan lagi.
"Terimakasih" balas Melani.
"Tapi saya bakal rindu ketika kamu sudah pergi ke Taiwan" ujar Raihan mulai berbicara serius.
"Rai, saya sedang tidak ingin bercanda, pilihlah barang keperluan mu agar kita bisa pulang lebih cepat" balas Melani seakan tidak peduli dengan perkataan Raihan.
"Mel, saya benar-benar serius ketika saya bilang suka padamu" ujar Raihan tidak ingin menyerah begitu saja.
"Kamu sebaiknya menghilangkan rasa suka mu pada saya Rai, karena saya tidak tertarik dengan itu" ujar Melani berusaha tegas.
"Kamu berbohong Mel, jelas-jelas matamu menyiratkan sebaliknya" jawab Raihan.
__ADS_1
"Hentikan Rai, atau saya akan benar-benar marah padamu" ujar Melani lebih serius dengan nada sedikit lebih tinggi dari biasanya.
Raihan menghentikan mulutnya untuk berbicara lebih lanjut. Lelaki itu memilih untuk menenangkan Melani terlebih dahulu. Raihan sadar bahwa itu semua terlalu cepat bagi Melani. Raihan tersenyum dan mengalah, tetapi dalam hatinya bertekad untuk membuat Melani menyukainya dengan tulus.