Menikah Muda Denganmu

Menikah Muda Denganmu
Rencana Melani


__ADS_3

Sebulan pernikahan merupakan masa-masa paling bahagia bagi Farhan dan Nisa. Walaupun sifat Nisa terkadang masih kekanak-kanakan, Farhan memakluminya karena umur Nisa juga tergolong masih muda. Setiap pagi Nisa akan memasak untuk keluarga Farhan.


Pagi itu ketika Nisa hendak berbelanja ke pasar, dia dijumpai oleh perempuan yang baru dikenalnya. Melani menatap wajah Nisa dengan tatapan jijik. Ketika Nisa hendak mengabaikannya, Melani mulai menghadangnya.


"Kamu belum tahu apa yang sudah aku lewati dengan Hans" ujar Melani.


Dia menampar kuat pipi Nisa. Wanita itu berlagak seolah-olah Farhan adalah miliknya.


"Kamu gak usah sok suci, laki orang aja di rebut" sambungnya lagi.


Nisa mencoba menahan amarahnya, sejak Nisa hijrah dia selalu bisa mengontrol emosinya. Dia meyakinkan dirinya bahwa ia dapat melewati semua ini.


"Maaf mbak, bukannya kalian sudah putus?" ucap Nisa dengan jelas.


"Saya tidak pernah benar-benar memutuskannya" ujar Melani dengan marah.


"Dulu saya khilaf karena permasalahan kami yang banyak, aku hanya break sejenak dengannya, tapi kamu wanita penggoda datang merayunya" lanjut Melani kasar.


"Saya tidak pernah merayu Mas Farhan mbak, dia yang datang sendiri pada keluarga saya dan langsung melamar saya" Nisa mengatakan yang sesungguhnya.


"Kamu itu cuma mau numpang hidupkan dengan Hans, mentang-mentang dia orang kaya kamu mau memperalat dia" ketus Melani lagi, mulutnya seakan tidak punya rem.

__ADS_1


"Saya tidak butuh uang Mas Farhan mbak, saya tulus untuk menerima lamarannya" ujar Nisa yang sepertinya mulai sulit mengontrol emosinya.


Nisa mencoba pergi tetapi Melani tetap menghadangnya. Mau tidak mau. Anisah harus mendengarkan ocehan dari wanita itu.


"Cerai lah dengan Hans segera" perintah Melani kepada Nisa.


"Saya tidak mau mbak" balas Nisa dengan cepat.


"Saya harus pulang sekarang mbak, saya mau masak" lanjut Nisa lagi.


"Ingat ya Nisa, cepat atau lambat Hans akan tetap jadi milikku kembali" ucap Melani sembari mendorong Nisa dan kemudian pergi.


Nisa mencoba mengontrol emosinya kembali, bagaimanapun juga dia hanyalah manusia biasa yang mencoba lebih baik. Dia menarik nafas sejenak untuk mengeluarkan emosinya yang sudah ia tahan.


Nisa membereskan barang belanjaannya dan mulai memasak. "Hupp" seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Mas, saya lagi masak" ujar Nisa lembut sembari membalikkan badan.


"Saya tahu sayang" jawab Farhan sambil mengecup kening Nisa.


Farhan memandangi wajah Nisa yang sedang memasak. Nisa terlihat cantik menggunakan celemek pink miliknya. Begitu memesona hingga mata Farhan tidak dapat beralih dari dirinya.

__ADS_1


"Mas mandi dulu sana, habis mandi sarapan, ntar telat kerjanya" ujar Nisa.


"Kamu udah janji bakal diantar sama Mas hari ini, kira barengan" balas Farhan dengan senyuman hangat di bibirnya.


Nisa mengangguk dan mempercepat gerakannya, dia tidak mau Farhan sampai telat dikarenakan kelalaiannya. Segera ia merapikan penampilan nya dan bergegas berangkat.


"Uhuk...uhuk...uhuk" Farhan batuk begitu lama, Nisa langsung menghampirinya dengan kuatir.


"Mas kamu kenapa?" tanya Nisa kuatir.


"Seperti Mas demam sayang" balas Farhan. Nisa memegang kening Farhan dan merasakan suhu badan Farhan yang tinggi.


"Hari ini gausah ke kantor ya sayang" pinta Nisa.


"Jangan gitu dong sayang, Mas udah ambil cuti pernikahan kita, ini cuma demam biasa" balas Farhan.


Nisa tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Farhan, dia segera mengambil air minum untuk Farhan dan obat penurun panas. Tak lupa ia memasukkan obat tersebut ke dalam tas kerjanya Farhan. Setelah mereka berdua berpakaian rapi, Farhan mengantarkan Nisa ke kampusnya.


"Kamu beneran gak papa sayang?" tanya Nisa kembali saat di mobil.


"Iya gapapa sayangku" balas Farhan menenangkan.

__ADS_1


Nisa mencoba tersenyum dan memandangi suami kerennya itu. Wanita itu masih belum percaya dapat memiliki suami seganteng Farhan.


"Nanti sampai kantor hubungi saya ya Mas" ujar Nisa sesampainya di gerbang kampus, Farhan mengangguk dan membelai kepala Nisa. Nisa segera berpamitan dan mencium tangan Farhan.


__ADS_2