
Aku perlahan membuka mata, azan subuh sudah berkumandang. Aku bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu dan membangunkan suamiku.
"Mas, sholat berjamaah yuk" ajak ku, tentu saja Mas Farhan tidak akan menolaknya.
Setelah selesai sholat subuh berjamaah, aku mulai menyiapkan barang-barang kami yang masih masih terlupakan. Keberangkatan jam 11 pagi tidak membuatku begitu tergesa-gesa.
Setelah berpamitan dengan Abi, Mama dan seluruh keluarga, kami segera pergi menuju bandara. Setelah semuanya beres, kami pun memulai perjalanan kami menuju Bali. Selama di pesawat aku tidak bisa tenang, itu terjadi bukan karena aku takut naik pesawat karena aku sudah terbiasa apalagi saat bersekolah di luar negeri.
Aku tidak tenang di sebabkan oleh tangan Mas Farhan yang selalu menggenggam ku erat sejak awal kami naik hingga tiba saatnya landing. Walaupun hal sesederhana ini, aku tetap bahagia.
Setelah di jemput di bandara, kami langsung dibawa menuju tempat yang sudah kami persiapkan. Mulai dari supir selama di Bali, tempat tinggal hingga tempat-tempat yang akan kami tuju sudah dipersiapkan dengan baik.
"Kamu senang nggak sayang?" tanya Mas Farhan padaku, aku mengangguk bahagia sambil tersenyum.
__ADS_1
Selama di Bali aku menikmati fenomena alamnya yang indah. Tak lupa dengan tujuan utama kami ke Bali merajut kasih dan menghilangkan kecanggungan yang tersisa diantara kami. Semua kami lakukan bahagia tanpa keterpaksaan.
Malam harinya saat aku menunggu Mas Farhan mandi, bunyi notifikasi hp Mas Farhan berbunyi. Aku tanpa sengaja melihat nama pengirimnya, Melani. Wanita yang datang ke pesta pernikahan kami sambil mengangis itu mengirimkan pesan kepada Mas Farhan malam-malam begini. Aku penasaran dengan isi pesannya, kebetulan Hp Mas Farhan tidak menggunakan sandi.
"Kamu gak beritahu istrimu kalau kita sudah pernah tidur bareng Hans?" kalimat berisikan pesan tersebut membuatku mengangis dan sakit hati.
Aku tau Melani hanya masa lalu bagi Mas Farhan, tetapi aku rasanya tidak terima dengan kalimat tersebut. Sejenak aku merasa benci kepada Mas Farhan, tetapi aku tidak tahu harus bertindak seperti apa.
Mas Farhan membuka pintu Kamar mandi, dia hanya mengenakan handuk dibagian bawahnya. Aku tidur membelakanginya sambil memeluk bantal guling. Handphone Mas Farhan aku letakkan kembali ke tempatnya.
"Sayang itu semua sudah masa lalu, aku berusaha untuk lebih baik setelah putus dari Melani" ucap Mas Farhan memelukku dari belakang.
Aku berusaha menepis tangan Mas Farhan. Mas Farhan juga berusaha membalikkan badanku kearahnya. Dilihatnya wajahku yang berhias air mata, kesedihan terpancar dari wajah Mas Farhan.
__ADS_1
"Saya sudah berjanji akan membuatmu bahagia sa, saya tidak pernah main-main dengan pernikahan kita" ucap Mas Farhan setengah menangis.
"Saya mohon maafkan saya dan terima masa lalu saya, saya tidak akan pernah mengulangi hal tersebut sa" pinta Mas Farhan benar-benar memohon.
"Saya tahu kamu benar-benar kecewa pada saya, dulu saya memang lelaki bejad, tetapi saya sudah merubahnya dan belajar menjadi imam terbaik untukmu sa, saya mohon jangan membenci saya dan mengingat masa lalu saya, kita harus bahagia sa, mari kita tata masa sekarang dan masa depan kita, saya ingin bahagia denganmu, punya anak, punya cucu hingga hari tua kita" kali ini Mas Farhan benar-benar menangis.
Aku sudah tidak tega melihat air mata jatuh dari mata Mas Farhan. Dengan air mata uang masih menetes, ku peluk Mas Farhan dengan sepenuh hati.
"Saya minta maaf Mas, tidak seharusnya saya kepo dengan masa lalu Mas" jawabku masih terisak-isak.
"Saya sayang sama kamu sa, saya tidak mau kamu meninggalkan saya karena masa lalu saya yang buruk" balas Mas Farhan lagi.
Aku memeluk Mas Farhan lagi, aku benar-benar merasa bersalah. Tidak seharusnya aku marah karena masa lalu Mas Farhan, dia sudah berubah.
__ADS_1
Bahkan dia menjadi laki-laki terbaik yang bisa aku dapatkan, dan aku bahagia menikah dengannya. Malam itu kami habiskan dengan memadu kasih dan kebahagiaan kami, aku melaksanakan tugasku sebagai istri untuk melayani Mas Farhan.