
"Tok...tok...tok..." terdengar suara ketukan di pintu kontrakan Wendy.
"Siapa ya, kok gak ngucapin salam sih" batin Wendy.
Wendy berjalan ke arah pintu dan menatap dari jendela. Terlihat dua orang wanita sedang berdiri di depan pintu Wendy.
"Siapa ya?" tanya Wendy tanpa takut.
Jelas saja Wendy tidak takut, secara dia tahu bagaimana cara bela diri. Kedua wanita itu tetap mengetuk pintu.
"Cari ribut ni orang" batin Wendy secara membukakan pintu.
"Permisi Nona Wendy, kami diperintahkan Nyonya besar untuk menjemput anda" ujar Kedua wanita itu.
"Ooo jadi kalian orang suruhan Mama?" tanya Wendy kesal.
"Ketua sedang sakit parah Nona" ujar kedua wanita itu.
"Papa sakit parah?" tanya Wendy terkejut.
"Iya Nona, maka dari itu Nyonya besar meminta anda untuk pulang" ujar kedua wanita itu.
Tanpa berpikir panjang Wendy segera menyiapkan barang-barangnya. Wendy sangat menyayangi Papanya walau apapun yang terjadi.
Kedua wanita itu mengangkat barang-barang Wendy dan mengawalnya masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan Wendy hanya menatap sendu ke arah jalanan.
***********
__ADS_1
"Akhirnya kamu datang juga sayang" ujar Mama Wendy.
"Iya Ma, gimana keadaan Papa Ma?" tanya Wendy khawatir.
"Papa kamu sakit saya, sekarang sedang di rawat di ruang perawatan" ujar Mama.
Rumah Wendy yang besar menyediakan ruangan khusus perawatan. Ruangan ini hanya boleh digunakan oleh anggota keluarga inti.
"Sayang umur Papa mungkin tidak akan lama lagi" ujar Papa Wendy.
"Tidak bisakah kamu mewujudkan mimpi Papa untuk yang terakhir?" tanya Papa sendu.
Wendy menahan air matanya keluar. Dia sama sekali tidak menyukai putra sahabat Papanya. Dia tidak ingin menikah dengan pria yang tidak dicintainya. Apalagi Wendy menginginkan laki-laki yang bisa membimbing dirinya memperdalam ilmu agama.
"Pa, apa tidak ada permintaan yang lain saja?" tanya Wendy.
"Tidak ada sayang, oiya selamat ulang tahun putri tersayang Papa, Papa harap kamu bisa melanjutkan perusahaan milik kita bersama suamimu kelak" ujar Papa.
Luis memberikan sebuah kunci mobil yang dihiasi pita berwarna pink. Wendy dituntut menuju garasi untuk melihat mobil barunya. Sebuah mobil Ferrari berwarna merah terlihat mewah dan indah.
"Terima kasih Pa, hadiahnya tidak perlu semahal ini" ujar Wendy.
"Anggap saja ini hadiah pernikahan dari Papa" ujar Papa Wendy.
Mata Wendy sayu dan meredup, dia sama sekali tidak menginginkan hal tersebut. Wendy dipaksa mencoba mengemudikan mobil barunya. Tanpa pikir panjang Wendy pergi menuju mushalla tempat ustadz Fauzi berada.
Wendy menggunakan hijab yang telah diberikan oleh ustadz Fauzi. Wanita itu menunggu diluar masjid agar tidak mengundang perhatian.
__ADS_1
"Assalamualaikum ustadz" seru Anisah setelah ustadz Fauzi keluar dari masjid.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, eh Wendy, kamu kenapa tidak hadir mengaji?" tanya ustadz Fauzi.
"Ceritanya panjang ustadz, saya sekarang mau pamit ustadz, saya harus kembali ke rumah saya dan juga berhenti dari pengajian" jawab Wendy dengan wajah sedih.
"Kenapa begitu?" tanya ustadz Fauzi.
"Saya diminta pulang oleh orangtua saya ustadz" jawab Wendy.
"Ini ustadz, mungkin kalau saya jelaskan sekarang tidak akan sempat, jadi saya menuliskan surat ini untuk ustadz" jawab Wendy.
"Apa ini Wendy?" tanya Fauzi.
"Saya sudah menuliskan alasan saya harus berhenti di sini ustadz" jawab Wendy.
"Baiklah Wendy, semoga ini keputusan yang tepat untukmu" ujar Fauzi.
"Oiya jangan lupa panggil Fauzi saja" ujar Fauzi.
"Iya Fauzi, saya permisi pamit, assalamualaikum" ujar Wendy undur diri.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Fauzi.
Fauzi melihat Wendy mengendarai mobil Ferarri saat hendak pulang. Fauzi begitu kaget, dia sama sekali tidak mengetahui bahwa Wendy berasal dari keluarga kaya raya. Fauzi hanya mengetahui bahwa Wendy kabur dari rumah karena tidak ingin dijodohkan.
Saat Wendy sudah pergi, Fauzi menghela nafasnya. Dia begitu gugup sehingga selalu menundukkan kepala ketika berbicara dengan Wendy.
__ADS_1
"Masyaallah, cantik sekali Wendy menggunakan hijab" guman Fauzi.
Fauzi bergegas untuk pulang ke rumahnya. Sebelum pulang dia menyempatkan untuk mengunjungi pesantren sebentar. Fauzi tidak sabar untuk membaca surat dari Wendy.