
Kevin mengantarkan Anisah dengan mobilnya. Selama perjalanan mereka hanya diam, Kevin segan untuk memulai perbicangan dikarenakan Anisah yang sedang terburu-buru.
Setelah beberapa menit diperjalanan akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Anisah melihat Melani sudah berdiri menunggunya.
"Terima kasih Vin, lain kali saya akan membalas kebaikan mu" ujar Anisah seraya meninggalkan Kevin.
"Tentu saja Sa, bagaimana mungkin saya membuat wanita pujaan saya kesusahan" ujar Kevin setelah Anisah pergi.
Anisah berjalan cepat ke arah Melani. Dia tidak dapat berlari karena sedang hamil. Wanita itu memegang perutnya sembari memanggil Melani.
"Mel, maaf menunggu lama" ujar Anisah.
"Nggak kok Sa, saya juga baru sampai, ayo kita masuk" ajak Melani
"Ayo" jawab Anisah berjalan mengikuti Melani.
Setelah mereka berada di depan ruangan Raihan, Melani menghentikan langkahnya. Dia melirik ke dalam ruangan. Wajah Melani berubah menjadi lebih sedih setelahnya.
"Mel, saya aja yang duluan masuk" ujar Anisah mengerti.
Anisah melirik ke dalam ruangan, wanita itu melihat Raihan sedang disuapin oleh seorang wanita yang tidak ia kenal. Kini Anisah mengerti kenapa raut wajah Melani berubah.
"Kamu kenal wanita itu Mel?" tanya Anisah.
"Nggak Sa, wajahnya tidak terlihat karena membelakangi kita" ujar Melani lirih.
"Bisa saja itu sepupunya Raihan, kamu jangan berpikir macam-macam" ujar Anisah.
"Saya gak masalah Sa, saya dan Raihan tidak ada hubungan seperti itu" jawab Melani.
Anisah hanya tersenyum melihat sahabatnya yang tidak mau mengakui perasaannya. Anisah mengetok pintu ruangan Raihan dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh" ujar Anisah seraya membuka pintu ruangan Raihan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, eh Sa kamu datang" ujar Raihan.
"Iya Rai, saya datang bareng Melani" ujar Anisah seraya menghadap ke belakang.
Melani masuk dengan ragu-ragu. Sebenarnya dirinya belum siap untuk bertemu Raihan. Baru saja wanita itu berusaha untuk melupakan Raihan, tetapi kini ia harus bertemu lagi dengan pria itu.
"Kamu datang Mel, saya langsung sembuh nih" ujar Raihan bersemangat.
"Dasar" jawab Melani singkat.
"Kamu Anisah ya" ujar wanita yang sedang bersama Raihan.
"Shalihah" ucap Melani kaget.
__ADS_1
"Eh Teh Melani" jawab Shalihah pura-pura terkejut.
"Kalian saling kenal?" tanya Anisah.
"Dia sepupu saya" jawab Melani lirih.
"Saya tidak mengira Aa' Raihan kenal dengan Teh Melani" ujar Shalihah dengan suara manja.
"Kamu siapanya Raihan?" tanya Anisah penasaran.
"Perkenalkan Teh Anisah, nama saya Shalihah, biasa dipanggil Shali, saya tunangannya Aa' Rai" jawab Shalihah.
Hati Melani hancur mendengar perkataan sepupunya. Ingin rasanya Melani meneteskan air matanya, tetapi ia tetap berusaha menahannya.
"Oh ya? kamu tunangannya Raihan? setahu saya Raihan belum bertunangan" ujar Anisah pintar.
"Pertunangan kami memang belum diresmikan Teh" ujar Shalihah memaksa senyumnya, dalam hati dia sangat kesal pada ucapan Anisah.
"Shali, saya kan tidak setuju bertunangan denganmu, sebaiknya kamu keluar dulu" ujar Raihan tegas.
"Saya ingin berbicara dengan mereka berdua" lanjut Raihan lagi.
"Tapi A..." sanggah Shali.
"Tolong pengertian Shali" potong Raihan.
Shalihah beranjak keluar dengan penuh amarah. Dia benar-benar tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Raihan.
"Ini buah untukmu Rai" ujar Anisah seraya memberikan bingkisan yang ia beli dijalan bersama Kevin.
"Makasih Anisah" ujar Kevin.
"Maaf saya gak sempat beli apa-apa" ujar Melani.
"Kamu datang saja sudah menjadi kebahagiaan terbesar saya" ujar Raihan.
"Ehm, sepertinya saya haus, saya keluar sebentar beli minuman" ujar Anisah ingin memberikan ruang untuk Raihan dan Melani agar menyelesaikan permasalahan mereka.
"Mau saya temenin?" tanya Melani.
"Tidak usah Mel, kalau kamu temenin saya, Raihan siapa yang jagain" ujar Anisah seraya keluar dari ruangan.
"Kamu tidak duduk?" tanya Raihan pada Melani.
"Tidak usah" jawab Melani.
"Duduk dong, kan capek" ujar Raihan setengah memaksa.
__ADS_1
Melani akhirnya mengalah dan duduk di bangku sebelah tempat tidur Raihan. Tepatnya di kursi tempat Shalihah duduk saat mereka datang.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Melani.
"Saya baik-baik saja Mel, untung saja kamu cepat menghubungi pihak rumah sakit, terima kasih ya" ujar Raihan tulus.
"Iya sama-sama Rai" jawab Melani.
Keheningan menyelimuti mereka sejenak, ada banyak pertanyaan yang ingin keluar dari mulut Melani. Tetapi gadis itu memutuskan untuk diam.
"Saya tidak setuju dijodohkan dengan Shalihah" ujar Raihan seakan mengerti isi hati Melani.
"Saya tidak tanya itu" ujar Melani.
"Tapi saya bisa baca hati kamu" ujar Raihan.
"Untuk apa kamu baca hati saya, kalian terlihat cocok ketika bersama" jawab Melani.
"Kamu cemburu?" goda Raihan.
"Siapa yang cemburu?" tanya Melani lagi.
"Kamu tahu Mel, sewaktu saya melamar kamu di restoran, saya bersungguh-sungguh" ujar Raihan.
"Saya tahu" jawab Melani.
"Kamu tahu bahwa saya begitu menyukai mu?" tanya Raihan lagi.
"Saya tahu" jawab Melani.
"Kenapa kamu menolak saya?" tanya Raihan.
"Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari saya" jawab Melani.
"Bagaimana kalau saya tidak mencari wanita yang lebih baik?" tanya Raihan.
"Rai, saya bukan wanita baik-baik" ujar Melani.
"Itu dulu, kamu yang sekarang berbeda Mel, kamu bahkan berhasil membuat saya ingin selalu berada di dekat mu dan menua bersama" ujar Raihan.
"Melani Winda Prawira, menikahlah denganku" ujar Raihan dengan mata berbinar.
"Rai..." Melani menangis sejadi-jadinya.
Wanita itu tidak dapat membendung air matanya mengalir. Dia benar-benar terharu dengan kalimat yang dilontarkan Raihan.
"Baiklah Rai, kali ini saya tidak akan menolak" jawab Melani.
__ADS_1
"Beri saya waktu untuk berpikir Rai, kamu juga harus menyelesaikan masalah perjodohan mu dengan Shalihah terlebih dahulu, saya tidak ingin ada pertikaian" jawab Melani bijaksana.
"Alhamdulillah, baik Mel, saya akan melakukan semua yang kamu minta" ujar Raihan bersemangat.