
Malam itu mereka dinner romantis di restauran mewah pesanan Farhan. Tetapi Nisa menyadari bahwa suara suram telah menggantikan suana romantis yang seharusnya ada. Tetapi Nisa masih takut untuk menanyakan hal tersebut.
"Makasih ya Mas, udah ngajakin aku makan malam" ujar Nisa.
"Hmm" balas Farhan.
Tidak biasanya Farhan seperti itu, cuek, dingin, dan tidak romantis. Nisa berusaha memikirkan apa gerangan kesalahan yang telah ia lakukan.
"Mas, saya benar-benar tidak akan melanjutkan kuliah ke luar negeri kalo kamu gak setuju" ujar Nisa kepada suami tercintanya.
"Saya tidak mempermasalahkan kamu mau lanjut sekolah ke luar Nis, silahkan kalau kamu ingin" balas Farhan santai.
"Mas kamu kenapa sih? Ujar Nisa tidak habis pikir.
"Sa, udah kesekian kalinya kamu bertanya" ujar Farhan lagi.
Anisah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Wanita itu bergegas menghabiskan makanannya. Dia ingin berbicara dengan suaminya ketika mereka sampai di rumah.
"Kamu sudah selesai?" tanya Farhan.
"Sudah Mas" balas Nisa mengangguk.
Mereka kembali ke mobil dan beranjak pulang ke rumah. Selama perjalanan Nisa dan Farhan hanya saling diam. Sejak mereka keluar dari restauran sampai tiba di rumah, mereka tidak menyampaikan sepatah kata pun.
__ADS_1
"Sayang tunggu" ujar Nisa. Wanita itu berupaya agar dapat mencari tahu kesalahan yang ia perbuat.
"Ya, kenapa?" balas Farhan.
"Aku mau di manja malam ini" pinta Nisa.
"Farhan diam sejenak" matanya tidak dapat berbohong bahwa ia menginginkan hal tersebut. Tetapi ia segera menepis keinginan itu jauh-jauh.
"Maaf sa, saya sedang tidak bergairah" ujar Farhan.
"Sayang kamu kenapa sih, kalau ada masalah seharusnya di bicarakan baik-baik" Nisa mulai meninggikan suaranya.
Tak kuasa menahan akhirnya Nisa berlinang air mata. Farhan tidak bisa melihat hal tersebut. Lelaki itu bergegas mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan Anisah.
"Saya benar-benar takut dia hamil Rio" ujar Farhan pada sahabatnya yang seorang dokter itu.
"Kenapa? kamu akan sembuh Hans, tenang saja" balas Mario.
"Bagaimana jika tidak? Anisah masih sangat muda" keluh Farhan.
"Kamu tahu Ri, tadi dia minta di manja, bayangkan saya harus sekuat tenaga menahannya, padahal saya benar-benar menginginkannya" lanjut Farhan lagi panjang lebar.
"Kamu akan menjalani terapi dalam beberapa bulan Hans, dan insyaallah akan berhasil" ujar Rio menguatkan.
__ADS_1
"Saya kanker Rio, saya tahu kamu hanya sekedar menguatkan saya, betapa bodohnya saya baru tahu akan hal ini" ujar Farhan.
"Kamu bakal di kemoterapi hingga kamu sembuh dari leukimia mu" Mario tidak menyerah untuk meyakinkan Farhan.
"Pokoknya kamu jangan kasih tau dia dulu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya" balas Farhan pasrah.
Farhan teramat menyayangi istrinya hingga ia tidak kuasa untuk menyampaikan penyakitnya yang mematikan. Farhan yakin Anisah tidak akan mau meninggalkan jika wanita itu tahu bahwa Farhan sakit. Anisah masih terlalu muda untuk menanggung semua itu.
Farhan pulang tepat pukul satu malam. Lelaki itu membuka pintu rumahnya. Terlihat Anisah tertidur di ruang tamu ketika menunggu ia pulang. Farhan meneteskan air mata tanpa suara.
Anisah tiba-tiba terbangun, Farhan buru-buru menghapus air matanya. Nisa berjalan mendekati Farhan.
"Kamu dari mana saja Mas?" tanya Anisah.
"Saya mengobrol dengan teman lama" balas Farhan.
"Tadi Melani datang" ujar Anisah menahan marahnya.
"Mau apa dia?" tanya Farhan.
"Ntah lah Mas, saya tidak tahu" balas Nisa.
Nisa segera naik ke atas menuju kamar merek. Farhan menyusulnya dari belakang.
__ADS_1