
Kaki jenjang yang dibalut oleh celana panjang tengah melangkah ke luar dari rumahnya. Gadis tomboi itu baru saja memutuskan kabur dari rumah dengan membawa koper besarnya. Dia tidak ingin dijodohkan dengan putra rekan kerja Papanya.
Papa Wendy adalah seorang pemilik perusahaan di bidang properti. Dia ingin putrinya segera menikah dengan putra sahabatnya. Putrinya yang tomboi dan lebih mementingkan cinta dalam pernikahan tentu tidak menginginkan perjodohan itu.
Wendy adalah wanita pintar dan memiliki daya ingat yang baik. Dia lulus dari Oxford University dengan nilai cumlaude. Sifatnya yang tomboi disebabkan ia selalu berteman akrab dengan para sahabat lelakinya. Dia mengelola perusahaan milik Papanya dengan terpaksa karena ia merupakan pewaris tunggal.
Sejak dulu Wendy ingin menimba ilmu agama. Tetapi tuntutan dari orangtuanya yang menginginkan ia handal di bidang bisnis dan akademik membuat dirinya terbatas dalam hal tersebut. Ditambah lagi orangtua Wendy kurang dalam pemahaman agama. Tetapi jauh di lubuk hatinya ia ingin serius menekuni ilmu agama.
"Saya tidak mau menikah dengan lelaki yang tidak saya cintai" ujar wanita yang bernama Wendy.
Wendy segera memanggil taksi dan tinggal di perumahan sederhana yang sudah ia persiapkan. Dia memutuskan tidak menginap di hotel mewah atau apartemen mewah untuk menghemat uangnya. Wendy ingin membuktikan kepada Papanya bahwa ia bisa hidup dengan usahanya sendiri.
Kebetulan sekali perumahan itu dekat dengan masjid dimana ada seorang pria tampan yang sedang mengajar mengaji. Mata Wendy langsung terpana pada pandangan pertama.
Jantungnya berdetak kencang ketika melihat paras pemuda tampan berkulit putih itu. Pria itu mengenakan baju kokoh dan memakai peci. Sempurna dan begitu sejuk ketika dipandang.
"Wah, dia begitu indah" ujar gadis tomboi itu.
"Apa sebaiknya saya belajar mengaji di masjid ini ya" ujarnya dalam hati.
"Supaya setiap hari ketemu ustadz ganteng itu" ujar Wendy gregetan.
Wendy menunggu ustadz tampan tersebut selesai mengajar. Tidak lama kemudian lelaki tampan itu keluar setelah murid-muridnya pulang terlebih dahulu
__ADS_1
"Assalamualaikum ustadz" ujar Wendy pada lelaki tampan tersebut.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab ustadz muda itu.
"Perkenalkan nama saya Wendy" ujar Wendy seraya mengulurkan tangannya.
"Nama saya Fauzi" jawab ustadz tersebut seraya merekatkan kedua telapak tangannya seolah membalas uluran salam Wendy dari jarak jauh.
"Ustadz mengajar ngaji di sini?" tanya Wendy.
"Iya benar sekali" jawab Fauzi.
"Apa boleh saya ikut belajar mengaji ustadz?" tanya Wendy.
"Tidak apa-apa ustadz" jawab Wendy.
"Ya sudah kamu boleh bergabung besok" ujar Fauzi.
"Terima kasih ustadz" jawab Wendy senang.
"Jangan lupa bawa mukenah ya" ujar Fauzi.
"Baik pak ustadz, terima kasih banyak" jawab Wendy dengan wajah berseri.
__ADS_1
"Panggil saya Fauzi saja" ujar Fauzi.
"Baiklah, terima kasih Fauzi" jawab Wendy malu-malu.
Wendy kembeli ke perumahan dengan perasaan bahagia. Tetapi dia masih memikirkan keadaan Mama dan Papanya yang ingin menjodohkan dirinya.
"Aku tidak akan pulang sebelum mereka memutuskan perjodohan itu" ujar Wendy seraya menendang batu yang ada di jalanan.
*******
Keesokan harinya Wendy datang ke masjid dengan perasaan bahagia. Dia segera mengambil wudhu dan bergabung dengan anak-anak lain.
"Teteh ingin bergabung dengan kita?" tanya anak-anak didik Fauzi.
"Iya, tidak apa-apa kan?" tanya Wendy.
"Teteh tidak malu bergabung dengan anak kecil?" tanya anak lain.
"Untuk apa kita malu jika kita tidak berbuat kesalahan?" tanya Wendy.
"Teteh hanya ingin belajar agar bisa, Teteh mudah dalam hal belajar loh, Teteh akan menyusul kalian" lanjut Wendy.
"Adik-adik, yang dikatakan Teh Wendy itu benar, dia hanya ingin menuntut ilmu" bela Fauzi.
__ADS_1
"Baik ustadz" jawab anak-anak itu.