Menikah Muda Denganmu

Menikah Muda Denganmu
Season 2 : Kedatangan Laila


__ADS_3

Dokter Tati memandangi Haikal dengan pandangan kagum. Haikal tengah memandangi jendela rumah sakit. Dia sedang menunggu kedatangan Laila sang gadis impian.


Hari ini rumah sakit tidak terlalu ramai. Suasana hati Haikal sedang dalam keadaan yang baik. Para suster juga menatap kagum pada dokter Haikal.


Beberapa menit kemudian sosok wanita idaman Haikal muncul lewat pintu masuk. Haikal segera berlari kecil menghampiri wanita itu. Semua mata yang menatap kagum pada Haikal mendadak terkejut.


"Siapa wanita itu?" tanya salah satu suster.


"Wah cantik sekali" jawab suster yang lain.


"Tampaknya dia seorang wanita sholehah, pakaian nya saja sungguh sopan" sahut suster yang lain.


"Wah lihat mata dokter Haikal yang tidak berhenti menatap lembut wanita itu" ujar suster pertama.


Sepasang mata yang begitu marah mulai terasa meledak. Dokter Tati yang melihat itu semua merasa tidak senang. Dia hanya ingin dokter Haikal menatap ke arahnya.


"Siapa sih wanita itu, bisa saja dia gadis kampung yang menginginkan harta dokter Haikal" ujar dokter Tati.


Dokter Tati tidak tahu bahwa Laila adalah putri pemilik perusahaan. Mungkin karena Laila berpakaian sederhana dan berhijab menjadi alasan dokter Tati berpikiran seperti itu.


"Wanita kampungan seperti itu yang akan menjadi saingan ku?" ujar dokter Tati.


Laila yang melihat Haikal berlari ke arahnya langsung geleng-geleng kepala. Perilaku Haikal tidak berubah sedikitpun walau usianya bertambah.


"Kamu kenapa lari-lari begitu?" tanya Laila.


"Menyambut kamu" jawab Haikal.


"Dasar bocah" ejek Laila.

__ADS_1


"Kamu udah makan?" tanya Haikal.


"Belum, kamu udah?" tanya Laila.


"Belum juga, ayo kita makan siang bersama" ajak Haikal.


"Ini titipan Ummi buat kamu" ujar Laila seraya memberikan kotak mie goreng.


"Ayo kita makan barengan" ujar Haikal.


"Kamu makan sendiri saja, itu Ummi buat khusus buat kamu" sanggah Laila.


"Ya sudah kita makan di kafe rumah sakit aja ayo" ajak Haikal.


Mereka pergi menuju kafe rumah sakit. Dokter Tati dan para suster penggemar dokter Haikal mulai merasakan hawa panas. Dokter Tati kemudian mengikuti dokter Haikal dan perempuan yang bersama lelaki itu. Baru kali ini dokter Tati melihat dokter Haikal begitu semangat ketika berbicara dengan seorang wanita.


"Saya lagi kepengen nasi goreng aja" jawab Laila.


Dokter Tati yang mendengar pesanan Laila langsung menahan tawa. Dia menganggap Laila wanita kampungan dan dari keluarga miskin. Dokter Tati berniat untuk menghampiri mereka dan duduk bersama.


"Siang dokter Haikal" sapa dokter Tati.


"Eh dokter Tati, siang" jawab dokter Haikal.


"Ini siapa dok?" tanya dokter Tati seraya menunjuk ke arah Laila.


"Ini sahabat saya, namanya Laila" ujar Haikal.


"Orangtua kami sepupuan" lanjut dokter Haikal lagi.

__ADS_1


"Ooo begitu dok, sepupu jauh dokter dari kampung ya?" tanya dokter Tati dengan percaya diri.


Dokter Haikal tertawa mendengar kalimat yang keluar dari mulut dokter Tati. Seorang Laila yang dari lahir tinggal di kota besar dan dari keluarga kaya raya dianggap seperti itu.


"Apa yang lucu dok?" tanya dokter Tati.


"Laila bukan dari kampung, dia asli sini" jawab dokter Haikal.


"Ooo begitu dok, saya sudah salah menilai" ujar dokter Tati.


Laila hanya tersenyum mendengar semua itu. Dia tidak menganggap serius perkataan dokter Tati. Dia kemudian memperkenalkan dirinya dengan baik.


"Perkenalkan nama saya Laila" ujar Laila seraya menyodorkan tangannya.


"Dokter Tati" jawab Tati.


"Pekerjaan kamu apa?" tanya dokter Tati.


Laila hanya diam, dia selalu paling tidak suka ditanyakan mengenai pekerjaan. Karena mau tidak mau dia lah yang harus melanjutkan perusahaan besar milik Papa dan Mamanya.


"Saya Direktur utama di perusahaan milik Abi saya" jawab Laila menunduk.


Dokter Tati hanya ternganga mendengar jawaban singkat dari seorang Laila. Dia tidak mengira Laila memiliki pekerjaan sehebat itu.


"Berarti Abi mu seorang CEO atau pemilik perusahaan?" tanya Tati terkejut.


"Iya" jawab Laila singkat.


Laila tidak pernah bangga atau menyombongkan pekerjaannya. Dia tahu semua itu hanyalah titipan. Akan tetapi Laila selalu bersyukur memiliki itu semua guna untuk meringankan beban saudara yang tidak mampu atau berkekurangan.

__ADS_1


__ADS_2