
"Bagaimana ini?Apa aku beritahu nyonya jika tuan sakit." gumam Revan sambil memainkan ponselnya. "Ah tunggu Lais saja. Aku nggak akan melangkahinya. Bisa ngamuk dia nanti."
Revan lalu mengetik pesan mengabari Nisa. Namun dia meminta agar Nisa tidak memberitahu Aruna. Biar Lais yang mengabari Aruna.
Tak berapa lama kemudian Lais kembali ke tempat Revan.
"Apa nggak boleh jenguk ke dalam?" tanya Lais pada Anton.
"Tuan Muda ingin melihat Tuan Besar?" tanya Anton memastikan.
Lais mengangguk.
"Saya akan minta ijin ke perawatnya dulu." Anton menuju ruang perawat. Lais menunggu bersama Revan.
"Mari tuan silahkan. Tapi tuan harus memakai pakaian khusus dulu. Nanti akan diberikan oleh perawat di dalam." jelas Anton.
"Aku juga boleh masuk?" tanya Revan.
"Bergantian." balas Anton.
"Setelah aku baru kamu bisa masuk." ucap Lais lantas meninggalkan Revan dan Anton.
Lais mencuci tangannya kemudian memakai pakaian pengunjung ICCU. Perawat mengantarnya ke tempat sang papa.
Lais termangun menatap papanya yang lama tidak ia jumpai. Wajah yang biasanya dingin itu kini tampak pucat. Bibir yang banyak mengeluarkan bentakan dan kata kata menyakitkan juga sinis, kini terkatub rapat. Guratan garis usia menghiasai wajah sang papa.
Lais mendekat dan berdiri di sebelah kepala sang papa. Ia tidak berani berbicara takut mengejutkan sang papa dan berakibat pada jantungnya. Meski papanya tidak sadar,namun Lais yakin di alam bawah sadarnya papanya pasti merasakan kehadirannya. Dielusnya tangan Tuan Robert perlahan."
Aku tahu papa sudah banyak melakukan kesalahan. Aku berharap dengan sakitnya ini, papa bisa sadar. Bahwa harta dan kehormatan tidak berharga saat diri sudah terbaring lemah begini.
Setelah dirasa cukup melihat kondisi papanya, Lais keluar. Tanpa ia ketahui, jemari Tuan Robert bergerak perlahan.
"Kamu tidak akan memberitahu nyonya?" tanya Revan.
"Aku ragu untuk memberitahunya. Tapi bagaimanapun mama adalah istrinya. Mungkin lebih baik jika ia ada di sisi papa saat ini." Lais mengusap wajahnya.
"Lalu apa yang kau tunggu? Hubungi mamamu!"
" Tidak. Aku akan menjemputnya sekalian bicara dengan Roby."
"Tuan Muda, selama Tuan Besar sakit, perusahaan tidak ada yang menghandle, bisakah tuan muda kembali?" Anton memohon.
"Aku takut papa tidak akan setuju."
"Tapi tidak ada cara lain. Lais kembalilah daripada perusahaan dikuasai orang orang yang tidak jelas." Revan meyakinkan Lais.
Pintu ruang ICCU terbuka. Tian Robertt didorong keluar. Lais, Revan dan Anton mengikutinya. Mereka menuju ruang operasi.
Pintu ditutup menyisakan tiga pria di luar.
"Tenanglah. Dia akan baik baik saja." Revan berbicara pada Anton yang tampak panik.
"Bagaimana ini terjadi? Mengapa tiba-tiba ia colapse?" tanya Lais dengan suara rendah.
"Perusahaan sedang mengalami kesulitan. Dan saat rapat direksi banyak yang menginginkan agar Tuan Robert melepas perusahaan B karena perusahaan itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Namun tuan tetap bertekad mempertahankannya. Hal ini membuat dewan direksi marah dan mencap kalau tuan hanya mementingkan urusan pribadi."
__ADS_1
"Kalau hanya masalah seperti itu tidak akan membuat papa tumbang. Pasti ada masalah yang lebih besar." kata Lais.
"Sayangnya saya tidak tahu tuan muda. Selesai rapat beliau ke ruangannya dan meminta saya keluar. Saat saya masuk untuk menyerahkan berkas, saya lihat beliau kesulitan bernafas sambil memegang dadanya dan meminta saya mengantarkan ke rumah sakit."
"Jadi beliau masih sadar saat berangkat ke rumah sakit?"
"Iya tuan muda tapi langsung pingsan begitu tiba. Untuk cepat mendapat pertolongan."
"Terima kasih Anton atas kesetiaanmu pada papa. Aku akan merepotkanmu lagi. Jagalah papa dan hubungi aku jika ada apa apa. Aku akan menjemput mama."
"Nyonya Robert? Tuan muda tahu dimana Nyonya?" wajah Anton sumringah.
"Iya. Aku pergi dulu. Ayo Van!"
Lais dan Revan sedang dalam perjalanan menuju tempat Roby saat pinsel Lais berdering.
"Halo sayang." Rupanya Aruna yang menelpon suaminya.
"Yang, pulang ya! Aku ingin makan sianh bareng." rengek Aruna.
"Siang ini nggak bisa. Ada yang harus aku lakukan. Tapi aku janji, nanti kita makan malamnya bareng." jawab Lais.
"Banyak kerjaan ya?" Suara Aruna terdengar kecewa.
"Untuk siang ini iya. Tapi akan segera aku selesaikan biar cepat pulang. Sabar ya."
Lais lalu menutup ponselnya setelah percakapan mereka selesai.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau papamu masuk rumah sakit?" Revan heran saat Lais tidak memberitahu Aruna.
Untung tadi aku berpesan agar Nisa tidak memberitahu Aruna.
Mobil yang mereka kendarai memasuki pelataran kediaman Robby.
Lais dan Revan turun.
"Kalian, ada perlu apa? Nggak biasanya datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu?" Gerald yanv menyambut Lais dan Revan.
"Aku ingin bertemu mamaku." kata Lais.
"Oh. Beliau ada di taman belakang." jawab Gerald lalu mengantarkan Lais dan Revan ke tempat Nyonya Robert berada.
"Apa Robby datang?" tanya Lais sambil berjalan.
"Belum. Banyak pekerjaan di sana. Mungkin lusa beliau akan datang. Itupun tidak akan lama." jawab Gerald. " Kenapa apa ada yang mendesak?"
"Bisa dibilang begitu. Nanti aku akan bicara denganya."
Mereka tiba di taman. Lais melihat mamanya sedang sibuk merangkai bunga yang ia petik dari taman.
"Ma!"
Nyonya Robert menoleh.
"Hai nak! Kamu datang." senyum ceria menghiasi wajahnya.
__ADS_1
Lais mendekat, "Ma, kenapa memetik bunga di taman orang?"
"Tenang saja. Roby sudah menyerahkan taman ini buat mama." Nyonya Robert masih sibuk dengan kegiatannya. "Done! Bagaimana? Indah kan?" Ia menunjukkan kreasinya pada Lais.
Lais mengangguk. "Bagus."
Nyonya Robert gembira mendengar pujian Lais.
Haruskah aku menyampaikan kabar tetang sakitnya papa. Dia tampak bahagia saat ini.
"Mama bahagia tinggal di sini?"
Nyonya Robert menatap Lais, "Bahagia. Tapi bukan tempat ini yang membuat mama bahagia. Gerald selalu mengabari mama tentang perkembangan usahamu. Itu yang membuat mama gembira. Kamu datang untuk bercerita ke mama kan?" senyum tak lepas dari bibir Nyonya Robert.
"Iya. Usahaku maju pesat Ma. Semua berkat doa mama. Tapi sebenarnya tujuanku kemari bukan untuk itu." Lais diam. Ia ragu menyampaikan maksud kedatangannya.
"Ada apa? Aruna baik-baik saja kan?" wajah Nyonya Robert berubah khawatir. Dipegangnya tangan Lais.
"Aruna baik Ma." Lais membalas genggaman tangan mamanya.
"Ma, boleh aku bertanya?"
"Tanya saja! Sejak kapan kamu minta ijin dulu untuk bertanya?"
"Jika papa sakit, apa mama akan merawatnya?"
Nyonya Robert kaget dengan pertanyaan Lais.
"Ada apa?" tanyanya.
"Mama belum.menjawab pertanyaanku." desah Lais.
"Kau tidak akan bertanya yang aneh aneh jika tidak terjadi sesuatu. Mama sangat mengenalmu Nak. Kau tidak suka membicarakan hal yang tak berguna. Apa dia sakit?" tebak Nyonya Robert.
Akhirnya Lais mengangguk. "Dia colappse. Dan sekarang sedang menjalani operasi di rumah sakit."
Nyonya Robert diam. Wajahnya muram.
"Si tua itu tidak memikirkan kesehatannya." titik bening meluncur membasahi pipinya.
"Ma!" Lais mengusap airmata mamanya.
"Terlepas dari kejahatannya, ia tetap suami mama. Kami belum bercerai. Mama masih punya kewajiban merawatnya. Antar mama kesana!" Nyonya Robert bangkit dengan dibantu Lais.
"Tunggulah. Mama akan siap siap dulu!' Nyonya Robert masuk diikuti Lais. Lais langsung bergabung dengan Revan dan Gerald saat Nyonya Robert bersiap di kamarnya.
" Aku akan mengabarkan hal ini pada Tuan Roby." kata Gerald pada Lais.
Lais mengangguk. Ia tahu jika Revan pasti sudah menceritakannya pada Gerald.
"Katakan juga jika aku akan memegang kendali perusahaan papa. Apa yang Roby mau akan aku berikan. Minta dia datang." titah Lais. Gerald mengangguk.
...****************...
Selamat berakhir pekan. Banyakin likenya donk..🤩🤩🤩 Tinggal tekan tanda jempol sapai berubah biru.
__ADS_1