
Lais memandang dengan sorot tajam ke arah pria paruh baya yang duduk santai di kursi kerja di hadapannya.
"Pa, aku menunggu penjelasan dari papa?!"
"Tak ada yang perlu dijelaskan." sahut Tuan Robert dingin. Ia sama sekali tidak menghiraukan Lais.
Lais menekan meja tuan Robert sambil mencondongkan badannya mendekat ke Tuan Robert.
"Bagaimana bisa papa bilang tudak perlu dijelaskan. Dia yang menculikku dan menyebabkan aku menderita trauma selama hidupku. Dia juga yang membuatku jijik pada hubungan pria dan wanita. Bagaimana papa melepaskan dia begitu saja dan bilang tidak perlu dijelaskan!!!" suara Lais meninggi.
"Lais jaga sopan santunmu!" hardik Tuan Robert.
"Masihkah Lais harus sopan, Pa. Pada pria yang tega menduakan mama Lais." Kata Lais sinis.
Tuan Robert diam. Ia menatap tajam Lais sambil menggertakan giginya menahan marah. Lais juga menantang Tuan Robert dengan tatapan yang tak kalah menghujam.
Tuan Robert menghela napas lalu menundukkan pandangan.
"Papa berhutang banyak pada ayahnya, Lais. Papa tak bisa berbuat apa-apa selain memenuhi janji papa untuk menjaga anaknya." gumam Tuan Robert akhirnya.
"Cih! Lagu lama. Basi!" cibir Lais.
"Lais jika kau tak mau mendengar cerita papa. Percuma papa cerita." keluh Tuan Robert. "Saat itu papa masih muda. Papa baru merintis usaha. Meneruskan usaha mertua papa lebih tepatnya. Sebagai menantu, beban kelangsungan perusahaan ada di pundak papa. Saat itu ayah Angela adalah rekan bisnis mertua papa. Saat mertua papa, ayah dari mamamu meninggal, beliau yang menjadi mentor papa di bidang bisnis hingga papa bisa memajukan perusahaan mertua papa menjadi perusahaan besar. Beliau hanya punya Angela. Angela sama sekali tidak memiliki kemampuan di bidang bisnis, akhirnya semua asetnya beliau serahkan pada papa. Papa gabungkan dua perusahaan sehingga menjadi perusahaan raksasa seperti sekarang."
"Tapi apa perlu harus menikahi Angela? Papa bisa mengelola perusahaannya dan memberikan hasilnya pafa Angela."
"Disitulah papa berbuat salah. Saat papa Angela meminta papa berjanji menjaga Angela, papa pikir ia ingin papa menikahinya. Papa masih muda dan Angela juga sangat menarik. Papa juga merasa tamak dan tidak mau perusahaan itu jatuh ke tangan orang lain. Akhirnya papa memutuskan menikahi Angela tanpa sepengetahuan mamamu."
Tangan Lais mengepal kuat.
"Terus saat ia menculik Lais? Kenapa papa tidak menghukumnya."
"Bagaimana bisa papa menghukumnya Lais jika dengan menghukumnya skandal kami akan terbongkar. Dan papa tidak mau perusahaan papa hancur karenanya."
__ADS_1
"Lalu Lais? Papa sama sekali tidak memikirkan Lais."
"Papa tidak pernah membayangkan kalau dampak dari penculikan itu akan begitu besar padamu. Tapi bukankah papa tidak tinggal diam? Papa berusaha menyembuhkanmu dengan mendatangkan dokter dokter terbaik." Tuan Robert membela diri. "Lagi pula Angela tidak akan menculikmu jika tidak ada yang menyuruhnya. Sampai sekarang papa masih mencari orang yanh ada dibelakang Angela."
"Apapun alasan papa, Lais yang jadi korban. Lais tidak bisa memaafkan papa." kata Lais lalu pergi meninggalka ruanb kerja Tuan Robert.
Sementara Lais berbincang dengan papanya, Aruna dan Nyonya Robert juga sedang berbincang di kamar Nyonya Robert.
"Bagaimana keadaanmu?" Nyonya Robert menggenggam tangan Aruna, "Dia tidak menyakitimu kan?" tanya Nyonya Robert yang membuat Aruna menatapnya penuh tanya.
"Aruna baik dan dia tidak menyakiti Aruna sesuai yang diperintahkan padanya." jawab Aruna. Matanya menatap penuh selidik ke wajah Nyonya Robert. Wajah Nyonya Robert tetap tenang tanpa ada perubahan ekspresi. Ia tersenyum penuh syukur mendengar bahwa Aruna baik-baik saja.
"Ma?!" panggil Aruna.
"Ya!"
"Apa mama tahu tempat untuk menahan Aruna adalah tempat yang sama untuk menyekap tuan Lais saat ia diculik dulu."
"Menurut Tuan ia ketakutan saat pertama melihat bangunan itu, tapi saat sadar aku dalam bahaya, rasa takutnya kalah oleh rasa cemas dan rasa takut kehilangan aku. Begitupun saat dia menghadapi Angela. Semua traumanya bisa hilang karena yang ia pikirkan hanya bagaimana agar bisa menyelamatkan aku dari tangan wanita itu." cerita Aruna.
Nyonya Robert mengangguk. Meski tadi ia menampilkan ekspresi terkejut saat tahu bahwa Aruna ditahan di tempat yang sama dengan Lais dulu, kali ini wajahnya datar mendengar cerita Aruna.
"Ma, kenapa mama tidak terkejut?" tanya Aruna.
"Eh..apa? Oh..mama kaget juga, hanya saja mama berusaha tenang. Oh ya Rin, jadi sekarang Lais dah tidak ketakutan seperti sebelumnya kan?"
"Iya, Ma.Sudah tidak separah dulu. Ma, boleh Aruna bertanya?"
"Boleh sayang, apa?"
"Tapi mama jawab jujur ya!" Aruna memberi syarat.
"Iya. Mama akan jujur." Janji Nyinya Robert sambil membuat simbol janji dengan kedua jarinya.
__ADS_1
"Mama, aku melihat mama saat meninggalkan gedung tua itu. Ma kenaoa mama ada di sana? Dan kenapa juga ada Nisa?Wanita yang satu lagi itu siapa ma?" Aruna memberondong Nyonya Robert dengan banyak pertanyaan. Senyum yang semula menghiasai wajah cantiknya seketika sirna. Ia memandang Aruna dengan sorot mata aneh.
"Apa Lais tahu juga hal ini?" tanya Nyonya Robert. Aruna menggeleng.
"Tuan sempat melihat saat kalian bertiga keluar dari gedung. Tapi tuan tidak mengenali kalian."
Nyonya Robert menghela nafas. "Ini karena wanita itu. Angela. Dia adalah simpanan suamiku." jawab Nyonya Robert sedih.
"Jadi mama tahu?!" Aruna kaget.
Nyonya Robert mengangguk. "Sejak lama aku tahu, sejak Lais kecil. Aku telah menggunakan berbagai cara untuk memisahkan mereka, tapi semuanya gagal."
"Kenapa mama masih bertahan?!" tanya Aruna penasaran.
"Semua demi Lais. Aku hanya bisa mencegah Robert tidak memiliki keturunan dari wanita itu agar posisi Lais aman. Bagaimanapun perusahaan yang sekarang ia pimpin adalah dua perusahaan yang disatukan. Dan salah satunya milik orang tua wanita itu."
"Terus untuk apa mama berada di gedunh itu?"
"Untuk melihat apa rencana mama berhasil."
"Maksudnya?"
"Mamalah orang yang menyuruh Angela untuk menculikmu. Angela memang cantik, tapi sayangnya ia tidak memilikj otak. Ia tidak tahu jika akulah orang yang selama ini memanfaatkan dirinya. Aku melakukannya untuk membuka mata Robert tentang siapa sebenarnya simpanannya itu. Tapi Robert tetap mempertahankannya meski ia pernah melukai Lais bahkan melakukan hal tak senonoh dengan banyak pria muda. Ia penyuka berondong. Pria piaraannya banyak. Tapi Robert seperti menutup ma pada keburukan Angela." Nyonya Robert menceritakan semua masalahnya pada Aruna.
"Jadi penculikan saat tuan masih kecil dili itu, atas perintah mama juga?!" Aruna memastikan. Ia tidak percaya ada seorang ibu yang membayar orang untuk menculik anaknya sendiri.
"Itulah yang aku sesali sampai hari ini. Aku tidak menyangka akibatnya akan separah itu pada Lais. Aku benar-benar menyesalinya. Saat itu niatku hanya ingin menjebaknya dan berharap Robert akan meninggalkannya begitu tahu kebusukannya." Nyonya Robert tertawa menyedihkan, "Tujuanku tidak tercapai, justru anakku yang jadi korban."
"Mama..." Aruna ternganga tak percaya.
"Kau pasti berpikir aku ibu yang buruk, kak?" tanya Nyonya Robert.
"Dia tidak akan berpikir begitu, tapi aku iya!!!!" teriak Lais yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu kamar Nyonya Robert.
__ADS_1