
Perhatian Lais ke layar laptopnya teralihkan oleh suara getaran ponsel. Ia mengambil ponselnya dan melihat pesan dari Revan. Revan menulis kalau Aruna sudah bisa mengikuti ujian susulan mulai senin depan.
"Benar-benar bisa diandalkan." gumam Lais tersenyum. Ia lalu membalas pesan Revan dengan idenya untuk membagi perusahaan menjadi dua.
Tak.lama kemudian Lais mendapat balasan dati Revan yang isinya Revan akan datang ke mansion Lais untuk membicarakan rencana Lais itu. Lais mengijinkan Revan ke mansionnya. Lais keluar dari ruang bacanya dan pergj ke dapur untuk mencari Bu Ira.
Wanita paruh baya yang telah menjadi pengasuhnya sejak kecil itu tampak sedang sibuk menyiapkan makan malam.
"Bu Ira!" panggil Lais.
"Iya tuan Muda." jawab Bu Ira dengan sopan.
"Revan akan datang. Bu Ira bisa menambahkan satu piring lagi buat dia dan bilang untuk langsung menuju ke ruang kerjaku!" pesan Lais.
"Baik Tuan Muda. Nona?" Bu Ira menanyakan Aruna.
"Dia sedang istirahat di kamar. Bu Ira bisa membangunkannya untuk makan malam." Lais meninggalkan dapur untuk kembali ke ruang kerjanya.
Bu Ira menyelesaikan masaknya dan menata makanan itu di meja makan.
"Malam Bu Ira." Revan datang. "Di mana Tuan Lais?"
"Tuan Revan bisa langsung ke ruang kerjanya. Tuan Muda sudah menunggu di sana." Bu Ira menyampaikan pesan Lais.
"Bu Ira masak apa?" Revan mendekati ruang makan dan mengendus aroma masakan Bu Ira. "Sepertinya enak Bu." komentar Revan.
"Tuan Revan bisa mencobanya nanti." Bu Ira tersenyum senang saat masakannya dipuji Revan.
"Tuan, saya akan membangunkan nona dulu. Silahkan Tuan menemui Tuan muda dan ajaklah beliau makan malam." pinta Bu Ira.
"Siap Bu." jawab Revan. Sama seperti Lais, Revan juga sudah mengenal BunIra sejak kecil. Dia dan Lais tumbuh besar dalam asuhan Bu Ira.
Saat Bu Ira akan meninggalkan ruang makan, Revan kembali memanggilnya.
"Bu! Apa wanita kalau lagi hamil itu suka aneh?" tanyanya. Bu Ira mengangguk.
"Apa Nona Nisa hamil?" tanyanya.
Revan mengangguk," Itulah Bu. Sikapnya jadi aneh. Bu Ira tahu kenapa malam ini aku memilih ke sini daripada di rumah?"
Bu Ira tidak menjawab ia hanya tersenyum.
"Aku diusir." terang Revan. "Dia nggak mau aku ada di dekatnya. Katanya tiap melihatku bawaannya pengen marah. Aneh kan bu? Padahal aku yang membuatnya hamil, kok malah aku yang terusir." keluh Revan.
Bu Ira tertawa kecil. "Tuan harus sabar. Nanti juga kembali baik lagi."
__ADS_1
"Begitu ya bu?" Revan bertanya penuh harap. Bu Ira mengangguk.
"Kau sudah tiba Van? Aku menunggumu. Kau malah ngobrol dengan Bu Ira." Lais tiba-tiba sudah berada di ruang makan. "Kalian ngobrolin apa?" Lais menarik salah satu kursi tempat biasanya dia duduk dan ia menaruh bokongnya di kursi itu. Melihat Lais duduk, Revan ikutan duduk di kursi seberang Revan.
"Soal Nisa. Ia menjadi aneh setelah hamil." Revan yang menjawab pertanyaan Lais.
"Aneh? Bukankah tadi ia baik-baik saja?" kata Lais,"Oh ya bu. Bangunkan Aruna!" titah Lais.
"Baik tuan muda." Bu Ira berlalu menunu kamar Aruna.
"Ia menjadi aneh setelah kalian pulang sore tadi." Revan membuka piringnya dan mulai mengambil nasi serta lauknya. Ia sudah tidak sabar menahan rasa lapar serta menahan godaan aroma masakan Bu Ira yang ia tahu pasti sangat enak.
Lais hanya menatap tingkah Revan dengan pandangan aneh.
"Berapa hari kau tak makan?" cibir Lais yang melihat Revan seperti orang kelaparan.
"Nisa tidak membiarkan aku makan. Bahkan mendekatinya saja aku nggak boleh." jawab Revan sambil menikmati makanannya.
"Ck..melihat caramu makan, ***** makanku jadi hilang." keluh Lais.
"Baguslah. Aku bisa menghabiskan semuanya sendirian." jawab Revan cuek.
"Rakus!" cibir Lais. Revan hanya membalas dengan menaikan alisnya.
"Tian muda, nona tidak mau makan kalau bukan tuan muda yang menjemputnya ke kamar." Bu Ira kembali dari kamar Aruna dan langsung menuju ruang makan.
Meski sedikit kesal, tak urung Lais berdiri dari kursinya untuk memenuhi keinginan Aruna.
"Aruna kenapa bu?" tanya Revan.
"Tidak tahu Tuan. Nggak biasanya nona manja. Ia biasanya nggak akan mau merepotkan orang lain." Bu Ira menjelaskan.
"Jangan-jangan dia hamil Bu. Nisa kan juga berubah sikap sejak hamil." Kata Revan sambil terus menikmati makanannya bahkan ia nambah lagi. Bu Ira geleng-gepeng kepala melihat Revan yang makan bagai orang kelaparan. Biasanya Revan tidak seperti ini. Mungkinkah ini bawaan bayi juga. Bu Ira menghela nafas panjang.
"Hati-hati makannya Tuan." Bu Ira mengingatkan Revan lalu berlalu ke dapur.
Di kamarnya, Lais yang baru membuka pintu melihat Aruna duduk di ranjang sambil sesenggukan. Lais mendekat dan duduk di sisinya.
"Kamu kenapa?" Lais mengusap airmata Aruna.
"Sayang jahat. Masak aku ditinggal tidur sendirian." rengek Aruna.
"Kan tadi sudah ijin." Lais mengelus pipi Aruna yang nampak lebih berisi ,"Kamu gemukan ya."
Aruna menjerit histeris mendengar Lais mengatainya gemukan. Lais panik melihat Aruna menangis seperti ini. Aruna tidak pernah menangis sebelumnya. Ia adalah tipe wanita tangguh.
__ADS_1
"Kamu jahat. Sudah nggak sayang sama aku ya...bisa-bisanya bilang aku gemuk." Aruna mengamuk. Ia memukuli Lais denhan bantal. Lais bingung bagaimana harus membujuk Aruna. Ia tidak ada pengalaman sama sekali. Akhirnya ia hanya diam menerima amukan Aruna sampai wanita itu lega.
"Sudah!" tanya Lais lembut saat Aruna berhenti memukulinya.Arina cemberut.
"Ayo turun, kita makan malam!" ajak Lais.
"Nggak mau!" Aruna sewot.
Lais kembali menarik nafas. Ia benar-benar heran dengan perubahan sikap Aruna.
"Apa aku minta Bu Ira membawa makanannya ke mari?" kembali Lais membujuk Aruna.
"Nggak mau!!" Aruna berteriak.
"Terus kamu maunya apa?" Suara Lais mulai meninggi. Ia bingung sekaligus kesal.
"Tuh kan. Kamu membentakku. Kamu sudah nggak sayang lagi padaku." Aruna kembali menangis. Lais yang sudah tidak sabar dan tidak mengerti dengan keanehan Aruna, bangkit dari duduknya dan meninggalkan Aruna yang justru semakin keras menangis saat ia tinggalkan.
Dengan wajah di tekuk Lais menuruni tangga. Ia menuju ruang makan tempat Revan berada. Bu Ira yang melihat Lais turin sendirian tanpa Aruna menghampirinya dan bertanya.
"Tuan, mana nona?"
"Di kamar." jawab Lais singkat. Dari ekspresi wajahnya, Bu Ira tahu kalau Lais sedang kesal
"Tian Muda, apa kalian bertengkar?" dengan suara lembutnya Bu Ira bertanya pada Lais.
"Tidak Bu, hanya saja aku tidak mengerti dengan perubahan sikapnya. Ia menjadi manja dan apapun yang kukatakan dan kulakukan salah dimatanya. Dia menangis hanya karena hal sepele dan bahkan memukuliku. Padahal Aruna yang aku kenal bukan wanita seperti itu." curhat Lais pada Bu Ira.
"Kita senasib." komentar Revan yang baru saja menyelesaikan makannya.
"Tuan muda, boleh Bu Ira bertanya?"
Lais mengangguk.
"Kapan terakhir kalian kalian libur?" tanya Bu Ira.
"Libur? Maksudnya libur apa Bu?" tanya Lais bingung.
"Libur nggak bikin anak." samber Revan. Sama seperti Bu Ira, Revan juga curiga kalau Aruna sebenarnya sedang hamil.
Lais mengingat ingat,"Sepertinya sudah lama." gumamnya.
"Tuan, kalau Bu Ira tidak salah, kemungkinan nona sekarang ini sedang hamil. Jadi sikapnya berubah. Bawaan bayi. Jadi tuan muda harus sabar dan..." belum selesai Bu Ira bicara, Lais sudah berlari naik ke kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa. Matanya menatap bahagia saat ia melihat Aruna duduk di depan meja rias dan sedang menatapnya dengan tersenyum.
"Sayang kemarilah!" ia melambai ke arah Lais.
__ADS_1
Lais bengong. Bukankah tadi dia sedang menangis. Meski bingung, Lais mendekat ke Aruna. Aruna berdiri dan merentangkan kedua tangannya menyambut Lais. Mereka lalu berpelukan dengan erat. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." bisik Aruna.