Menikahi Pria Tak Sempurna

Menikahi Pria Tak Sempurna
Di Apartement Revan


__ADS_3

"Jadi akhirnya kau memutuskan keluar dari mansionmu?' tanya Revan sambil menatap Lais yang malam itu tiba-tiba mendatangi apartemennya.


Lais yang saat itu sedang duduk dengan siku diatas lutut menopang dagunya, mengangguk. "Tak ada jalan lain." desahnya lalu bersandar.


"Dan Pak Munir juga Bu Ira?"


"Mereka memaksa mengikutiku. Aku tidak tega menolaknya."


"Berarti kau juga tidak akan menolakku kan?"


"Maksudmu?" Lais menatap Revan penasaran.


"Karena aku juga akan mengikutimu." jawaban pendek Revan mengagetkan Lais.


"Mau jangan gila, Van!" seru Lais.


"Tenang saja. Aku masih waras. Karena aku waras maka aku putuskan ikut denganmu." jawab Revan santai.


"Kau tahu resikonya jika mengikutiku?"


"Aku tahu. Sangat tahu. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian.


Lais melirik Revan. Ada rasa terimakasih dalam sorot matanya. Namun ia masih tidak bisa menerima kalau sahabatnya itu harus ikut susah karenanya.


"Kau bersedia hidup susah. Bagaimana dengan Nisa?"


"Dia?" Revan menunjuk pada Nisa yang saat itu sedang duduk di tempat lain bersama Aruna. "Dia dan Aruna sangat dekat. Dia pasti tidak keberatan."


"Ya! Mereka sedikit mirip." gumam Lais.


"Mereka mirip sehingga saling memahami. Beruntung kita memperoleh istri yang tidak hanya mau hidup enak tapi juga masih mau menemani kita saat kita jatuh dan hidup susah." Mata Revan masih menatap ke arah Aruna dan Nisa berada.


Lais juga melakukan hal yang sama. Ia memandang penuh cinta pada Aruna.


Sementara itu, Aruna dan Nisa tidak menyadari jika mereka menjadi objek pembicaraan para suami. Mereka tenggelam dalam obrolannya sendiri


"Maaf menganggumu Nis." kata Aruna pada Nisa.


"Nggak papa. Santai saja. Kita kan sudah seperti saudara. Kamu yang sabar ya!" Nisa menyemangati Aruna.


"Terus setelah ini kalian mau kemana?" tanya Nisa.


"Aku belum tahu. Apa kata tuan Lais saja."


"Mmm..unit di sebelahku kosong. Mau disewakan sama pemiliknya. Apa kamu tinggal di situ dulu sementara? Menyewa gitu."


Mata Aruna berbinar. Sejak lama ia menyukai apartement tempat Nisa dan Revan tinggal.


"Benarkah?! Aku akan membicarakannya dengan suamiku dulu."


Aruna lalu menoleh ke arah Lais. Melihat Lais yang duduk berbincang dengan Revan dan sekarang ditambah Pak Munir, menumbuhkan rasa iba dihatinya. Pria yang selama hidupnya tidak pernah kekurangan, sekarang harus meninggalkan semua kemewahannya.

__ADS_1


Aruna menghela nafas dalam. Wajahnya mendung.


"Apa kamu sedih karena meninggalkan mansion itu?" tanya Nisa.


Aruna tersenyum getir, "Aku terbiasa hidup menderita. Kalau sekarang harus kembali seperti dulu, bukan masalah. Tapi suamiku? Dia nggak pernah hidup susah." keluh Aruna.


"Kau benar. Orang seperti kita hidup susah bukan masalah. Tapi mereka? Pasti akan mengalami kesulitan."


Aruna mengangguk, membenarkan ucapan Nisa.


"Aku ke sana dulu ya! Mau bilang ke tuan Lais." Aruna beranjak dari duduknya menuju ke tempat Lais


Lais masih berusaha membujuk Revan agar tidak mengikutinya keluar dari perusahaan.


"Van! Kau tidak harus keluar dari perusahaan." ucap Lais.


"Tidak, Lais. Kita selalu bersama. Sekarangpun aku akan menemani melewati masa sulit ini." kata Revan


Merasa usahanya tidak akan berhasil, Lais akhirnya diam.


"Tuan muda. Apa yang akan tuan muda lakukan selanjutnya?" tanya Pak Munir.


"Belum tahu, Pak. Tapi aku punya rencana mau membuka bisnis sendiri."


"Aku setuju. Nanti kita pikirkan bisnis apa yang sekiranya menjanjikan." kata Revan.


"Tapi jangan di kota ini. Lebih baik kita buka bisnis dan hidup bari di kota lain." usul Lais.


"Hem..ide bagus. Tapi kemana kita akan pergi?"


"Boleh juga tuh!" Revan berkata,"Aku memang sudah lama ingin berbisnis di bidang kerajinan."


"Tapi aku.."


"Tuan muda pasti bisa. Saya yakin." Pak Munir menyemangati Lais.


"Sayang." Aruna datang.


"Iya?!" jawab Lais. Ia langsung berdiri menyambut istrinya. "Hati-hati!" Lais memegang tangan Aruna dan membimbingnya untuk duduk di sebelahnya.


"Sayang..aku masih hamil muda. Masih belum terlalu butuh bantuan ini itu." protes Aruna saat Lais begitu posesifnya.


Lais tidak menggubris protes Aruna. Baginya yang terpenting saat ini adalah istri dan calon anaknya.


"Kenapa kamu kemari?" tanya Lais.


"Tadi Nisa bilang kalau unit di sebelah lagi disewakan. Sayang! Kita sewa yuk! Kita tinggal di sini." rengek Aruna.


"Van?" Lais memastikan kebenarannya pada Revan.


"Jangan tanya aku. Kabar tentang para tetangga, Nisa lebih tahu. Kan dia yang selalu ada di rumah. Tapi kalau Nisa bilang disewakan, berarti itu benar." jawab Revan.

__ADS_1


"Bisa kau atur agar aku bisa menyewanya?" pinta Lais pada Revan yang membuat mata Aruna berbinar.


"Terima kasih sayang." Aruna langsung memeluk dan menghujani wajah Lais dengan ciuman.


"Hey..hey! Ingat waktu dan tempat wooi." ledek Revan.


"Apa?! Kalau pak Revan pengen,tuh ada Nisa di sana." Kata Aruna ambil mecebikkan bibirnya menanggapi ledekan Revan.


"Van ada kamar kosong nggak?"tanya Lais. Tangannya memeluk erat tubuh Aruna.


"Ada. Satu. Kamar tamu." jawab Revan. Ia lalu menunjukkan kamar tamu itu pada Lais.


"Makasih. Aku pinjam sebentar." kata Lais yang langsung menarik Aruna masuk dan menutup pintu membiarkan Revan begitu saja.


Sialan. Aku dikacangin. Woi gini-gini aku yang punya rumah!" teriak Revan dalam hatinya.


Revan kembali ke ruang tamu.


"Mm..giman ini, Pak? Hanya ada dua kamar di sini. Satu kamar saya, dan satunya lagi sudah dipakai Lais." kata Revan pada Pak Munir.


"Nggak papa, Tuan. Saya dan istri bisa tidur di mana saja." jawab Pak Munir.


"Sayang." panggilan Nisa membuat Revan menoleh. "Malam ini, aku tidur sama Bu Ira ya! Kamu temani Pak Munir di sini." kata Nisa yang tidak bisa dibantah oleh Revan. Bukan karena takut, tapi ia tidak enak menolaknya karena takut membuat Pak Munir merasa menjadi beban.


"Ide bagus." jawab Revan akhirnya. Padahal dalam hati ia dongkol sekali. Sejak melihat Aruna digelandang Lais masuk kamar, ia merasa hasratnya naik. Ia tahu betul apa yang Lais dan Aruna lakukan. Mereka sedang melakukan hal untuk menghilangkan stress. Tapi nasi, bukannya bisa menikmati malam panas bersama Nisa, ia justru harus kedinginan bareng Pak Munir.


Sabar. Batin Revan sambil mengelus, bukan dada, tapi bagian lain dari tubuhnya yang meronta karena gagak ikut bermalam di tempat hangat kegemarannya. Ia memperhatikan Nisa yang menata sofa menjadi tempat tidurnya malam ini.


Bu Ira yang paham akan sorot mata Revan mendekat ke arah suaminya.


"Pak, ada yang ingin aku beli. Temani keluar sebentar ya!" pinta Bu Ira. Ia mengkode Pak Munir dengan gerakan matanya.


"Oh iya Bu. Bapak juga butuh sesuatu. Tadi kita buru-buru packing jadi ada yang lupa nggak di bawa." balas Pak Munir.


Mereka lalu pamit pada Revan dan keluar.


"Akhirnya kesempatan itu datang juga." gumam Revan bernafas lega. Ia langsung memeluk Nisa.


"Eeeh Mas Revan mau apa?" kata Nisa saat Revan mulai memeluk dan mengabsen lekuk tubuhnya.


"Mau masuk ke tempat yang hangat. Dingin sayang." bisik Revan.


Nisa yang tahu maksud suaminya, meronta melepaskan diri dari pelukan Revan.


"Maasss...tempat hangatnya lagi kebanjiran." kata Nisa yang langsung membuat Revan lemas.


"Yaaahhh...merana donk." Revan terduduk lemas di sofa.


Nisa meninggalkannya sambil menahan senyum.


Eh tunggu. Dia kan hamil. Orang hamil kan tidak...

__ADS_1


"Nisaaaaa!" geram Revan. Ia langsung berdiri mengejar Nisa yang tertawa lepas karena berhasil mengerjai suaminya.


Slow update yang readers...cause othor lagi diklat. Tugas negara...tapi akan othor sempatin update kalau ada waktu luang di sela sela tugas yang seabrek.


__ADS_2